
"Eh pak jangan di tutup dulu pak!" pekik Maira pada satpam penjaga sekolah.
"Gak bisa ini sudah jam tujuh lewat. Siapa suruh kamu telat."
Maira mendesah pelan, ia melirik Angkasa yang duduk di atas motor kesal.
"Gara-gara lo nih, bangun kesiangan. Kan telat jadinya," omel Maira.
"Ya maaf mata gue ngantuk berat soalnya."
Maira mencubit perut Angkasa kuat, "Makanya udah gue bilang jangan begadang, jangan begadang. Masih aja begadang. Ih gemes gue punya abang kayak lu!"
"Aw aw sakit Ra. Iya gue tau gue gemesin, jangan di cubit juga," Angkasa mengelus perutnya yang sakit karena di cubit Maira. Adiknya ini kalau sudah marah, sangat menyeramkan.
Maira mengacak-acak rambutnya frustasi. "Jadi sekarang gimana? Gue gak mau pulang ya, gue mau sekolah," ucap Maira, ia benar-benar tidak ingin membolos yang memengaruhi nilainya.
"Ya gimana gerbangnya udah di tutup," Angkasa melirik Udin yang baru saja berjalan melalui mereka dengan santai, "Eh Udin, mau kemana lo?"
Udin membalikkan tubuhnya menatap Angkasa dan Maira yang juga menatapnya.
"Masuk sekolah lah," balas Udin santai.
"Gimana caranya? Kan gerbangnya di tutup," tanya Maira.
Udin melirik pak satpam kemudian berjalan mendekati Angkasa dan Maira. "Manjat lewat tembok samping sekolah," bisik Udin.
"Hah serius lo?" tanya Maira dan Angkasa berbarengan.
Udin mengangguk, "Iya. Ya udah gue duluan ya."
Maira dan Angkasa saling lirik kemudian menatap kepergian Udin. Sepertinya mereka berdua memikirkan hal yang sama. Byasalah ikatan batin saudara kembar katanya.
"Gimana mau coba?" tanya Angkasa.
"Karena gak ada cara yang lain, jadi harus kita coba," jawab Maira.
"Sebelum itu, kita titipin motor ke MDC dulu."
"Oke yok."
Maira melirik pak satpam yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Kita pulang dulu pak," Maira melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum pada pak satpam.
"Dah pak ai lop yu muach," ucap Angkasa seraya melayangkan ciuman jarak jauh.
Maira memukul bahu Angkasa, "Gila lo!"
Pak satpam bergidik ngeri, "Kok merinding ya?"
...🐒🐒🐒...
"Udah belum Ra? Berat nih."
"Bentar, dikit lagi gue nyampai," Maira berusaha mencapai bagian atas tembok dengan Angkasa sebagai pijakannya.
"Oke dapet," Maira berhasil mencapai bagian atas tembok sekolah, kemudian ia perlahan naik ke atas.
__ADS_1
Ia mengulurkan tangannya kepada Angkasa. "Buruan naik!" ucap Maira.
"Aman gak di sana?" tanya Angkasa memastikan.
"Iya, aman-aman. Cepat buruan takut nih gue di atas, tinggi banget!"
Angkasa meraih tangan Maira dan perlahan naik ke atas tembok. Untung saja Maira bisa menarik Angkasa. Jika tidak mereka akan jatuh bersama.
"Oke sekarang turunnya gimana?" tanya Maira, ia menundukkan kepalanya menatap tanah yang lumayan jauh dengan ngeri.
"Ya lompat lah!" balas Angkasa.
"Hah? Jangan bercanda deh, setinggi ini? Lo mau tulang gue patah?"
"Terus lo mau gimana? Tangga aja gak ada."
"Nih tangga."
Mereka berdua sama melirik Udin yang tiba-tiba datang sambil membawa tangga.
"Lah lo dapat nih tangga dari mana?" tanya Maira heran.
"Udah gak usah banyak tanya, turun aja!" titah Udin.
Tapi Maira dan Angkasa malah diam.
"Gak mau turun? Tangganya gue balikin lagi nih."
"Eh jangan dong. Nih gue turun nih," ucap Maira seraya menuruni tangga perlahan.
"Iya iya."
Setelah Maira turun sekarang giliran Angkasa lagi yang turun.
"Gue seriusan deh. Lo dapat tangga nya dari mana? Terus lo masuk cara nya gimana?" tanya Maira beruntun. Ia benar-benar penasaran bagaimana Udin bisa memanjat tembok dan melompat dari atas tembok dengan mudah.
"Gak usah kepo," balas Udin singkat.
Maira berdecak kesal seraya menatap Udin kesal.
"Untung ada tangga. Kalau gak, gak turun-turun kita dari atas. Lagian kenapa nih tembok tinggi banget sih?" ucap Angkasa ketika ia sudah turun.
"Alasannya supaya murid nakal seperti kalian tidak bisa keluar masuk sekolah seenaknya," ucap seseorang.
Serempak mereka bertiga menoleh ke sumber suara dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah pak Yanto.
"Mampus ketahuan kita," ujar Angkasa seraya menepuk keningnya.
"Pa-pak Yanto," ucap Maira kaget.
"Dasar kalian ini, ikut saya! Kalian akan saya beri hukuman."
Dengan pasrah mereka bertiga mengekori pak Yanto. Entah hukuman apa yang akan pak Yanto berikan pada mereka. Ini kali keduanya Maira di hukum. Terakhir kali saja ia sampai pingsan. Bagaimana nasibnya nanti.
...🐒🐒🐒...
"Bersihkan seluruh toilet sekolah sampai bersih, setelah itu baru kalian boleh masuk kelas," titah pak Yanto.
__ADS_1
"Baik pak," balas mereka serempak.
Maira sudah siap dengan pengepel nya. Angkasa dengan sikat wc nya. Dan Udin dengan tong sampah dan sarung tangannya, fyi di wc sekolah biasa suka ada murid yang membuang sampah sembarangan.
Setelah kepergian pak Yanto, mereka langsung mulai melaksanakan hukuman mereka dengan giat, terpaksa sih sebenarnya.
Raka baru saja keluar dari ruang guru. Ia berjalan santai menelusuri lorong sekolah. Keadaan sekolah cukup sepi karena masih jam pelajaran. Saat Raka melewati toilet, ia tidak sengaja melihat punggung Maira yang sedang mengepel. Ia berniat memanggilnya untuk memastikan.
"Maira," tegur Raka sambil berdiri di depan pintu toilet.
Maira berdiri dan membalikkan tubuhnya menghadap Raka, "Eh kak upil. Kenapa kak?"
Raka mengernyit menatap Maira yang tampak kelelahan. Wajar saja, ini bukan satu-satunya toilet yang ia bersihkan. Ada beberapa toilet lainnya yang sudah Maira bersihkan.
"Eh halo bro," sapa Angkasa menongol kan kepalanya dari salah satu toilet lain. Ia sedang menyikat kloset.
"Angkasa juga ada. Kalian Ngapain bersihin toilet?" tanya Raka.
"Permisi," ucap Udin yang baru datang dari membuang sampah.
Raka memberi jalan untuk Udin lewat. "Kalian di hukum?" tanya Raka lagi.
"Iya kita di hukum," balas Maira lemah.
"Kenapa?"
"Kita telat datang nya tadi."
"Hhm kebiasaan," Raka mengambil pengepel yang ada di tangan Maira, "Ya udah sini biar gue bantu. Biar cepat selesai."
"Eh eh gak usah kak, kak upil kan harus masuk kelas," Maira kembali mengambil pengepel dari tangan Raka namun di tahan oleh Raka.
"Gapapa gue bantu aja. Gue juga lagi males masuk kelas."
"Gak usah kak. Gak usah macem-macem deh, malah mau bolos. Nanti nilai kak upil jelek gimana."
"Insya Allah gak."
Dan terjadilah adegan saling tarik menarik pengepel.
"Dari pada ribut mending bantuin gue bersihin kloset nih," ucap Angkasa.
Raka melepaskan pengepel itu dan berjalan mendekati Angkasa, "Ya udah gue bantu lo aja ya."
"Gak usah kak," ucap Maira.
Udin menghadang Raka, ia memberikan tatapan yang tidak bisa di artikan. Raka menjadi heran melihatnya.
"Maaf kak gak usah. Pak Yanto ada di depan, nanti kita di marahin pak Yanto. Mending sekarang kakak balik ke kelas," ucap Udin.
Raka terdiam sesaat tatapannya dan Udin saling beradu sampai akhirnya Raka memilih menyerah. Padahal niatnya hanya ingin membantu Maira, agar Maira tidak kelelahan.
"Hhm Ya udah balik ke kelas dulu," Raka tersenyum manis kepada Maira, ia mengelus puncak kepala gadis itu lembut, "Semangat ya."
"Oke kak upiiil ~."
Bagaikan vitamin Maira yang tadinya merasa lelah. Sekarang langsung semangat setelah di semangati oleh Raka. Senangnya jika ia menjadi pacar Raka, menghayal aja dulu ya kan.
__ADS_1