
"Bukan coy, setau gue nama pacarnya itu Melly."
Jleb
Maira terdiam kaku ketika mendengar bahwa Melly lah pacar Bara. Dadanya terasa tertusuk ribuan duri yang membuatnya semakin sakit dan sesak. Apa ini? Perasaan apa ini? Maira belum pernah merasakan rasa sakit seperti ini. Lebih dari rasa sakit ketika ia mengetahui bahwa Kevin dan Dewi berpacaran.
Matanya mulai terasa panas, ada cairan bening yang hendak keluar dari pelupuk matanya, namun ia berusaha untuk menahannya. Maira tidak tahu hal itu benar atau tidak, tapi tetap saja ia merasa sakit hati. Terserah orang mau bilang Maira alay atau lebay, yang pasti ini yang Maira rasakan.
Maira menyeka air matanya yang hampir jatuh dan langsung keluar dari dalam toilet. Pikirannya sekarang hanya di penuhi oleh Bara. Jika Bara benar-benar berpacaran dengan Melly, lalu untuk apa selama ini Bara memberikannya harapan.
Maira masuk ke dalam kelasnya dengan wajah yang murung. Kelasnya sudah mulai ramai karena sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai. Saat matanya bertemu pandang dengan Melly, gadis itu memasang wajah sinis ke arah Maira. Apa maksud dari tatapan itu.
"Guys liat deh, ini pemberian dari kak Bara sebagai hadiah jadian kita," ucap Melly menunjukkan gelang yang di pakainya kepada teman-temannya.
"Wah cantik banget. Awas aja lo nanti gak traktir kita di kantin ya. Kan udah jadian."
"Iya tenang aja, nanti gue juga bilang ke kak Bara," ucap Melly sambil melirik Maira, seraya menunjukkan senyum kemenangan.
Maira tidak mengerti mengapa Melly seperti itu. Semenjak pemilihan OSIS selesai, Melly yang biasanya selalu ramah pada Maira, tiba-tiba bersikap seperti tidak suka kepada Maira. Entah apa penyebabnya.
Maira berusaha untuk tidak memperdulikan percakapan mereka, ia berjalan ke arah bangkunya dengan wajah yang sudah memerah karena menahan tangis.
"Lo kenapa Ra?" tanya Asih ketika Maira sudah duduk di kursinya.
Hancur sudah pertanahan Maira, jatuh sudah air matanya. Jika sedang sedih dan di lemparkan pertanyaan seperti itu, Maira tidak pernah bisa menahan kesedihannya dan pasti akan langsung menangis.
"Eh eh kok lo nangis?" Asih yang melihat Maira tiba-tiba menangis langsung kelabakan.
Khoirul yang duduk di depan mereka juga ikut membalik tubuhnya untuk melihat Maira.
"Lo kenapa Ra?" tanya Khoirul.
Bukannya menjawab Maira malah semakin menangis, jujur saja ia sangat malu sekarang. Tapi mau bagaimana lagi ia tidak bisa menahan air matanya. Untung saja Melly duduk di meja paling depan sedangkan Maira di meja paling belakang. Jadi Melly sekarang belum menyadari kalau Maira sedang menangis. Jika ia tahu, ia pasti akan sangat senang melihat sikap kekanak-kanakan Maira yang menangis hanya karena seorang lelaki.
Asih menghapus air mata Maira dengan tangannya dan membawa gadis itu kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Udah jangan nangis. Lo kenapa? Ada apa? Kalau lo mau bisa cerita ke gue. Tapi kalau gak bisa juga gapapa," ucap Asih mengusap bahu Maira yang masih bergetar karena menangis.
Sedangkan Khoirul hanya diam memperhatikan mereka berdua, ia juga bingung harus melakukan apa sekarang. Yang bisa ia lakukan adalah mengabarkan hal ini kepada Angkasa.
Setelah merasa tenang, Maira melepaskan pelukannya dan menghapus sisa air matanya.
"Kak Bara jahat banget, dia beri gue harapan. Tapi dia malah jadian sama Melly," ucap Maira matanya kembali berkaca-kaca.
Asih menatap Maira lekat kemudian ia tersenyum dan menggenggam tangan Maira.
"Ra dengerin gue. Gue tau lo lagi jatuh cinta, siapa sih yang gak pernah jatuh cinta. Hampir semua manusia pasti ngerasain yang namanya jatuh cinta, apalagi untuk remaja seumuran kita. Tapi..." Asih menjeda ucapannya, ia melirik Khoirul kemudian kembali menatap Maira.
Maira mengernyit, "Tapi apa?"
"Menjalin hubungan pacaran dengan yang bukan mahram kita sebelum menikah itu haram. Cinta yang Allah beri itu fitrah, jangan sampai jadi fitnah. Dengan berdekatan padahal belum halal," jelas Asih, ia tahu menasihati orang yang sedang jatuh cinta itu memang sedikit sulit. Tapi setidaknya ia sudah berusaha bukan. Terkadang ia juga merasa sulit mengendalikan hatinya sendiri.
"Jadi lo jangan sedih lagi. Pacaran itu dosa Ra. Gapapa lo suka sama dia tapi jangan sampai berharap bisa pacaran sama dia," lanjut Asih.
Maira terdiam mendengar penuturan Asih. Ia merasa seperti sedang di ceramahi sekarang, walaupun sebenarnya memang iya. Ada pro dan kontra di dalam benak Maira tentang apa yang telah di sampaikan oleh Asih, tapi ia lebih memilih memendamnya.
"Maaf gue udah ngomong panjang lebar begini. Tapi gue ngasih tau ini bukan karena gue sok alim dan paling merasa benar. Tapi karena kita sesama saudara muslim harus saling mengingatkan," ucap Asih lagi.
Maira yang sedari tadi terdiam, tersenyum menatap Asih, "Gapapa kok, gue tau niat lo baik. Makasih ya, gue udah mulai tenang sekarang."
"Ngapain juga lo nangisin cowok kayak gitu Ra, masih banyak yang lebih baik dari pada dia. Air mata lo terlalu berharga untuk nangisin cowok kayak dia," ucap Khoirul.
Maira melirik Khoirul dan tersenyum, ia memukul pelan lengan Khoirul.
"Bisa aja lo botak."
"Stop manggil gue botak!"
...🐒🐒🐒...
Setelah mendapatkan kabar bahwa Bara berpacaran dengan Melly. Yang ada di pikiran Raka sekarang adalah Maira, bagaimana keadaan gadis itu? Apa yang ia rasakan? Raka sangat khawatir sekarang. Raka merasa geram dengan apa yang telah di lakukan Bara, bisa-bisanya ia memberikan harapan kepada Maira tapi malah berpacaran dengan Melly.
__ADS_1
Ini yang Raka takut kan sejak awal, Bara memang suka mempermainkan hati perempuan. Sudah berapa banyak perempuan yang ia sakiti, tapi anehnya masih banyak yang menyukai dan mengidolakan Bara. Dan semua itu hanya karena ia tampan dan pandai dalam memikat hati wanita.
Raka mencari keberadaan Bara, ia ingin sekali saja menghajar lelaki itu. Agar dia jera dan berhenti menyakiti hati seorang gadis. Biasanya Raka tidak perduli tapi entah kenapa sekarang ia sangat kesal. Ia pergi ke kelas Bara, namun Bara tidak ada di kelasnya. Ia juga memeriksa tempat yang biasa di datangi Bara, tapi lelaki itu juga tidak ada.
Hingga akhirnya Raka pergi ke belakang sekolah dan ia mendapati Angkasa sedang menghajar Bara dengan brutal.
Bug
Bag
Bug
"Apa tadi lo bilang? Melly lebih cantik dari adek gue terus lo bisa seenaknya nyakitin dia gitu? Terus lo bilang Maira yang baperan?" Angkasa menarik kerah baju Bara, ia menatap geram wajah Bara yang sudah lebam dan berdarah karena pukulannya.
"KALAU BUKAN LO YANG NGASIH HARAPAN DIA GAK BAKALAN BAPER NJING!" pekik Angkasa geram.
Bara memegang tangan Angkasa, berusaha untuk melepaskan tangan Angkasa dari kerah bajunya. Tenaganya sudah lemah karena di hajar oleh Angkasa, ia tidak bisa melawan sekarang.
Angkasa hendak kembali melayangkan tinjunya ke wajah Bara, namun tiba-tiba ada seorang yang menahannya. Ya orang itu adalah Raka, ia tidak membiarkan hal ini. Bisa-bisa Bara mati, jika terus-terusan di hajar seperti itu.
"Udah Sa! Cukup! Nanti dia bisa mati," ucap Raka.
Angkasa menatap Raka dengan wajah kesal, kemudian ia melepaskan Bara dan menarik lengannya dari cekalan Raka. Bara yang sudah terkapar, menarik nafasnya legah hampir saja ia mati.
Angkasa mendudukkan tubuhnya di tanah, "Ah sial."
"Gue tau lo marah. Tapi ini udah kelewatan, kalau Maira tau pasti dia gak setuju lo ngelakuin hal ini," ucap Raka.
"Dia udah nyakitin adek gue bang," ucap Angkasa kesal.
"Iya gue tau, tapi lo harus tahan emosi lo," Raka melirik Bara, "Tuh lo liat,udah bonyok dia."
Angkasa melirik Bara sekilas kemudian berdiri, ia merapikan seragamnya yang hancur karena berkelahi.
"Sekali lagi lo dekatin adek gue. Mati lo di tangan gue!" ancam Angkasa.
__ADS_1