
Raka duduk termenung di sofa ruang tengah. Jika di lihat dia seperti sedang menonton televisi, padahal tatapan matanya kosong. Kepalanya sedang di penuhi dengan banyak pikiran. Pikiran tentang Lery yang telah membohonginya. Pikiran tentang perasaan Maira terhadapnya. Apakah jika Raka mengungkapkan perasaannya, Maira akan menerima nya. Haa Raka benar-benar galau sekarang.
"Kamu kenapa Raka? Ada masalah? Bunda liat dari pulang sekolah tadi, kamu lesu gitu," tanya Lia yang baru saja datang dari arah dapur dengan membawa tiga gelas teh hangat.
Raka tersadar dari lamunannya kemudian menatap Lia yang sudah duduk di sampingnya. Wanita berhijab itu tersenyum menatapnya.
"Ah gapapa kok bunda, Raka cuma capek banyak tugas aja di sekolah hehe."
"Bener?" tanya Lia memastikan.
Raka mengangguk, "Iya bener bundaa Raka gapapa kok."
"Ya udah kalau gapapa. Tapi kalau kamu ada masalah, cerita ke bunda. Jangan di pendam sendiri ya nak," ucap Lia, seraya mengelus lembut kepala putranya.
"Iya bunda," balas Raka tersenyum.
Beberapa saat kemudian mereka sama-sama diam, menikmati acara tv yang sedang menayangkan film azab.
"Hhm bun," panggil Raka membuka suara.
"Iya kenapa nak?"
Raka terdiam sejenak, tampak ragu untuk mengatakan sesuatu yang ia pikirkan sedari tadi.
"Menurut bunda..," Raka kembali diam.
Lia mengernyit, ada apa dengan anak sulungnya ini. "Iya menurut bunda kenapa?"
"Menurut bunda Raka ganteng gak?"
Lia tercengang beberapa saat, tumben sekali Raka bertanya seperti itu. Padahal biasanya yang selalu ia tanyakan hampir semuanya tentang pelajaran.
Lia tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
"Masya Allah ganteng dong, masa anak bunda gak ganteng. Tumben kamu nanya kayak gini? Ada yang bilang kamu jelek?" Lia memasang wajah pura-pura marah, "Kalau ada sini bilangin bunda, biar bunda marahin dia. Berani-beraninya bilang anak bunda jelek."
Raka yang melihat bundanya marah langsung panik. "Eh eh gak gitu bun, gak ada kok yang bilang Raka jelek," jelas Raka.
"Terus kenapa kamu nanya gitu?"
"Ya Raka nanya aja."
"Kenapa bang lo merasa kalah dengan kegantengan gue ini?" tanya Juna yang tiba-tiba berdiri dari balik sofa, yang membuat Raka dan Lia terperanjat kaget.
"Astaghfirullah Juna kaget bunda jadinya. Sejak kapan kamu ada di situ?" ucap Lia seraya mengelus dadanya.
Juna hanya cengengesan sambil menggaruk pelipisnya. "Dari tadi bun."
__ADS_1
Raka melirik Juna sinis, "Oh lo nguping ya dari tadi? Ck kayak gak ada kerjaan aja. Mau di lihat dari mana pun gue tetap lebih ganteng dari pada lo, jadi gak perlu merasa kalah."
"Heleh tinggal bilang gue lebih ganteng aja susah amat lu, ngalah dari adek sendiri napa," ucap Juna seraya mendudukkan dirinya di sebelah Raka.
"Ogah," ucap Raka kemudian meminum teh hangat buatan ibunya.
"Ck pelit amat."
"Orang ganteng mah bebas."
"..."
...🐒🐒🐒...
Maira baru saja keluar dari dalam toilet, sampai matanya saling bertemu pandang dengan Lery yang juga baru keluar dari toilet. Mereka berdua saling diam tanpa berniat bertegur sapa. Sebenarnya Maira sudah melempar senyum pada Lery namun Lery mengabaikannya dan langsung mencuci tangannya tanpa memperdulikan Maira. Maira juga tidak ambil pusing dan mencuci tangannya dengan santai.
Sekarang hanya suara air yang keluar dari keran wastafel yang terdengar. Setelah selesai mencuci tangannya dan mematikan keran Maira hendak keluar namun suara Lery menghentikannya.
"Gue mau ngomong sama lo," ucap Lery.
Maira membalikkan tubuhnya menghadap Lery, "Mau ngomong apa? Langsung ngomong aja."
Lery melirik sekitarnya memastikan tidak ada murid lain di sana.
"Gue mau lo jauhin kak Raka."
Maira menautkan kedua alisnya, apa maksud perkataan Lery. Kenapa dia menyuruh Maira menjauhi Raka, mereka berdua tidak berpacaran kan. Hati mungil Maira berharap itu tidak benar.
"Gue suka sama kak Raka, jadi gue minta lo buat jauhin dia. Karena kak Raka cuma boleh jadi milik gue," balas Lery yang membuat Maira semakin di buat bingung.
"Bentar, hubungannya sama gue apa ya?"
"Jangan pura-pura deh, gue tau lo juga suka sama kak Raka kan?"
Maira mengangguk, mengiyakan ucapan Lery. Tidak ada yang perlu di sembunyikan lagi sekarang.
"Iya gue suka sama kak Raka. Jadi Kenapa lo nyuruh gue jauhin dia, sedangkan posisinya lo juga belum punya hubungan apa-apa sama dia kan?"
Lery mengepalkan tangannya kuat, melihat Maira yang terlihat santai. Membuatnya sangat kesal.
"Karena kak Raka cuma boleh buat gue, dia milik gue. Gue suka kak Raka duluan dari pada lo, gue juga dekat sama kak Raka lebih dulu dari pada lo," balas Lery kesal.
"Milik lo? Buat lo?" Maira menggelengkan kepalanya, "Kak Raka bukan barang. Kalau lo memang suka sama dia ya lo usaha buat dapetin dia bukannya nyuruh gue buat jauhin dia. Yang pasti gue gak bakal jauhin kak Raka, karena gue juga suka sama dia. Kecuali dia udah punya pacar, baru gue berhenti."
"Gue harap sampai sini lo paham Lery," lanjut Maira dan langsung pergi meninggalkan Lery yang masih menatapnya geram.
"Lo pikir lo keren kayak gitu hah? Cewek sialan!" geram Lery seraya memukul wastafel dengan tangannya yang membuat siswi yang baru saja masuk terkejut dan menatapnya aneh.
__ADS_1
"Kenapa lo liat-liat hah!? Mau gue colok mata lo!?"
...🐒🐒🐒...
Senyum Maira mengembang saat ia melihat Raka baru saja keluar dari ruang guru. Ia berlari kecil menghampiri Raka yang sedang kesusahan membawa tumpukan buku paket.
"Kak upiiil~."
Raka menoleh menatap Maira yang sudah di sampingnya. Seketika jantungnya berdetak lebih cepat karena melihat senyum Maira. Entahlah akhir-akhir ini jika bertemu dengan Maira jantung selalu saja berdebar-debar. Tentu saja Maira juga merasakan hal yang sama. Namanya juga jatuh cinta.
"Mau di bantu gak?" tanya Maira, sepertinya Raka kesulitan membawa buku paket yang lumayan banyak itu.
"Gak usah, bukunya berat."
"Ya karena bukunya berat makanya gue mau bantu kak."
Raka menggeleng seraya tersenyum, "Gapapa gak usah gue bisa sendiri kok."
Karena bantuannya di tolak oleh Raka seketika wajah Maira cemberut. Kenapa harus menggemaskan di saat seperti ini sih. Kan Raka jadi pengen unyel-unyel pipi Maira yang gembul itu. Tapi sayang hal itu tidak bisa di lakukannya karena kedua tangan Raka sedang memegang buku.
"Gak usah cemberut gitu. Makin jelek tuh muka," ledek Raka.
Maira yang semula cemberut langsung menatap Raka kesal.
"Enak aja ngatain orang jelek, cantik kayak bidadari gini di bilang jelek."
"Bidadari jatuh dari mana lo?" tanya Raka sambil tertawa.
"Dari selokan," balas Maira yang juga ikut tertawa.
"Hahaha ada-ada aja."
"Eh kak gue serius nih mau di bantu gak? Gue tau lo keberatan bawa buku sebanyak itu," tanya Maira untuk yang kesekian kalinya.
Lagi-lagi Raka menggeleng, "Gapapa gak usah, gue bisa sendiri."
Maira menghela nafasnya pelan, padahal alasannya ingin membantu Raka salah satunya adalah agar ia bisa berlama-lama bersama Raka.
"Mau di bantuin susah amat kak upil."
Raka terkekeh pelan, "Ya udah bantuin yang lain aja."
"Bantuin apa?" tanya Maira semangat.
Raka tersenyum menatap Maira, "Gue minta tolong sama lo."
"Iya tolong apa?" tanya Maira tidak sabar."
__ADS_1
"Kalau gue minta lo untuk balas perasaan gue bisa?" tanya Raka.
"Hah?"