Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 27 CCM - Tugas kelompok


__ADS_3

"Baik tugas kelompok bahasa Indonesia jangan lupa di kerjakan ya!" ucap bu Tuti seraya membereskan buku-bukunya.


"Baik buu~," balas murid-murid kelas X IPA 1 serempak.


"Ya sudah silahkan istirahat!" ucap bu Tuti dan berlalu pergi keluar kelas.


Maira menarik nafas lega seraya meregangkan tubuhnya, "Alhamdulillah akhirnya istirahat juga coy."


"Oh iya siapa-siapa aja tadi kelompok kita? Gue lupa nyatet nya tadi," ucap Dewi bersiap.


Dengan cepat Khoirul dan Angkasa membalikkan badan mereka ke belakang.


"Kita berdua dong~," ucap mereka berdua serempak sambil cengengesan.


Dewi memandang mereka sekilas kemudian menyatat nama mereka berdua.


"Oke. Gue, Maira, Angkasa, Botak terus," Dewi menunjuk Asih dengan pulpennya, "Asih. Dah itu aja kan?"


"Satu lagi coy," saut Maira.


"Siapa?" tanya Dewi.


"Noh," Maira menunjuk seorang murid laki-laki yang duduk di kursi paling pojok belakang yang sedang tertidur pulas. Kalau Maira dan Dewi di pojok belakang paling kanan, maka laki-laki itu di pojok belakang paling kiri.


"Oh iya si Udin, hampir gue lupa," seru Dewi seraya menepuk keningnya.


"Itu bocah setiap ke sekolah tidur mulu ya kerjaannya," ucap Angkasa. Ia sedikit heran dengan teman kelasnya yang satu itu. Pasalnya yang Udin lakukan di sekolah hanyalah tidur, tidak terlihat sama sekali semangat belajar dari temannya itu.


"Iya ngerjain tugas juga jarang. Sering bolos juga," saut Dewi seraya melirik Udin.


"Tapi gitu-gitu incaran ciwi-ciwi loh. Soalnya katanya dia ganteng kayak oppa-oppa Korea," tambah Maira sambil memasukkan buku bahasa Indonesianya ke dalam tas.


"Percuma ganteng kalau malas belajar," ucap Angkasa.


"Ck ck ck ada yang gak sadar diri ya ges ya," ucap Maira sinis.


"Sst astaghfirullah teman-teman ku janganlah kalian membicarakan orang lain. Ghibah itu tidak baik wahai saudaraku," ucap Khoirul mengingatkan, matanya sesekali melirik Asih yang juga sedang memperhatikan mereka.


Angkasa tiba-tiba berdiri seraya mengelus dadanya, "Astaghfirullah daku hampir lupa, terimakasih temanku botak karena telah mengingatkan ku."


"Sama-sama temanku," balas Khoirul seraya tersenyum.

__ADS_1


Maira dan Dewi saling pandang kemudian menatap Angkasa yang sedang mengusap kepala botak Khoirul.


"Istighfar gue ngeliat tingkah mereka berdua," ucap Maira menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Angkasa dan Khoirul yang sedang berpelukan.


"Ya udah Ra istighfar Ra istighfar," kata Dewi sambil menepuk-nepuk bahu Maira pelan.


"Astaghfirullah."


"Sekali lagi Ra."


"Astaghfirullah."


...🐒🐒🐒...


Maira tersenyum ketika melihat Raka baru saja keluar dari dalam kelasnya. Ia hendak memanggil lelaki itu, namun terhenti saat ia melihat Lery datang menghampiri Raka. Maira menatap mereka datar ketika Lery melingkarkan tangannya di lengan Raka.


Maira memiringkan senyumnya, "Gak ada hubungan apa-apa ya?"


"Ra. Lo kenapa?" tanya Dewi yang melihat perubahan ekspresi Maira, yang semula tersenyum berubah menjadi datar.


"Hah? Gapapa kok. Ya udah yuk kita ke kantin," jawab Maira.


"Ya udah yuk."


"Lery jangan kayak gini. Nanti anak-anak yang lain mikir yang macam-macam lagi," ucap Raka.


"Biarin, itu yang aku mau," ucap Lery semakin mengeratkan pegangannya.


"Maksud lo apaan? Jangan aneh-aneh deh Lery," ucap Raka seraya melepaskan tangan Lery dari lengannya.


"Jangan pura-pura gak tau deh kak. Tanpa aku bilang pasti kakak juga tau kan kalau aku suka kakak," balas Lery seraya menatap lekat wajah tampan Raka.


Raka memperhatikan sekitarnya yang sudah mulai sepi karena murid-murid sudah banyak yang ke kantin.


Raka memegang bahu Lery, "Maaf tapi gue gak bisa balas perasaan lo. Udah ada orang yang gue suka."


"Siapa? Siapa orang yang kak Raka suka?" tanya Lery dengan perasaan kecewa.


"Lo gak perlu tau. Yang pasti jangan sia-siakan perasaan lo hanya untuk ngejar gue. Masih banyak laki-laki di luar sana yang bisa nerima perasaan lo. Lo cantik, lo bisa dapetin lebih baik dari gue."


Lery menundukkan kepalanya seraya tertawa hambar. Ia mengangkat kepalanya menatap Raka dengan senyuman miring menghiasi wajahnya.

__ADS_1


"Tapi gue mau nya lo. Gimana dong?"


Raka sedikit memundurkan langkahnya, tatapan Lery kali ini cukup menyeramkan. Ada apa dengan gadis ini, kenapa ia berubah secepat itu.


"Gue tau lo suka dengan Maira kan? Tapi sorry sebelum lo jadian sama dia, gue gak akan nyerah buat dapetin lo," Lery memajukan langkahnya ia terus menatap Raka dengan senyuman percaya diri. Raka sedikit bergidik ngeri di buatnya.


Setelah mengatakan kata-kata yang cukup mengerikan itu, Lery langsung pergi meninggalkan Raka. Raka terdiam menatap kepergian Lery, ia tidak tahu hal apa lagi yang akan di lakukan gadis itu kedepannya.


Setelah itu Raka kembali melanjutkan niatnya untuk pergi ke kantin. Rahmat sudah lebih dahulu meninggalkannya pergi ke kantin. Padahal Raka tadi bilang Rahmat untuk menunggunya, tapi dia malah duluan. Dasar Rahmat tidak setia kawan.


Sesampainya di kantin Raka tersenyum senang ketika melihat Maira sedang asik memakan makanannya bersama Rahmat yang duduk di depannya. Sedangkan Dewi berada di meja lain bersama Kevin dan Bara dan juga Melly.


Dewi mengajak Maira untuk bersama tapi Maira tidak mau. Maira sangat malas melihat wajah Bara dan Melly. Sebenarnya Dewi juga malas melihat mereka berdua, tapi apa daya Kevin ada situ.


"Hai," sapa Raka seraya duduk di samping Maira.


"Lama amat lo, udah mau habis nih bakso gue," ucap Rahmat.


Raka memutar bola matanya jengah, "Siapa suruh lo ninggalin gue."


"Hehe ya maaf gue udah laper berat soalnya."


"Heleh," ucap Raka sinis.


"Ra," tegur Raka, karena Maira hanya diam saja tak seperti biasanya.


Maira mengangkat kepalanya menoleh ke arah Raka, "Ya?"


"Tumben diem aja."


"Ah gapapa, kan kalau makan gak boleh banyak ngomong," ucap Maira tersenyum. Ia berusaha menghilangkan rasa kesalnya karena melihat Lery dan Raka tadi. Karena ia tidak punya hak untuk marah.


"Hehe iya juga sih. Ya udah habisin makanannya," ucap Raka seraya mengelus kepala Maira pelan.


Maira tersenyum senang kemudian mengangguk, "Iya."


Entah karena suka atau kebiasaan, Maira merasa senang setiap Raka mengelus kepalanya. Ayahnya dan Angkasa juga suka seperti itu, saat kepalanya di elus Maira merasa di sayang. Jadi ia merasa senang.


"Ehem ada orang di sini. Jangan mesraan di depan umum dong," ledek Rahmat.


"Apaan sih lo," Raka menusuk bakso Rahmat dengan garpu kemudian menyuapkannya ke mulut Rahmat, "Noh makan biar gak ribut."

__ADS_1


"Tega kamu Rhoma," Rahmat mengunyah bakso itu dan menelannya, "Tapi enak."


Maira di buat tertawa dengan tingkah absurd Rahmat. Tidak teman-temannya tidak kakak kelasnya, semuanya sama saja. Selalu saja terkadang membuatnya beristighfar.


__ADS_2