
"Lo kesini dengan siapa?" tanya Raka mengalihkan pembicaraan.
"With my brother," jawab Maira.
"Di mana dia sekarang? Kok gak ada," ucap Raka, seraya memperhatikan sekitar mencari keberadaan Angkasa.
"Ke toilet dia, mau bab katanya. Yang makan banyak gue, yang mau berak dia," jawab Maira seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau lo kak, ke sini sama siapa?" tanya Maira.
"Tadi sih gue sama teman-teman yang lain. Tapi udah pada mencar gak tau dah kemana."
Maira mengangguk-anggukkan kepalanya, "Oh gitu."
Untuk beberapa saat mereka sama-sama terdiam, sambil memandangi langit senja. Tanpa sadar bibir Raka tersenyum, berdua seperti ini bersama Maira sangat membuatnya senang. Raka memperhatikan wajah Maira yang terkena sinar matahari sore.
"Cantik," lirih Raka.
"Hah? Apa kak? Kak Raka bilang apa tadi?" tanya Maira, sepertinya tadi ia mendengarkan sesuatu.
Raka menggeleng cepat kemudian memalingkan wajahnya ke depan, "Gak ada. Gue gak ada ngomong apa-apa."
"Oh ya udah."
Mereka kembali saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kenapa mereka jadi canggung begini, Maira juga bingung mau bicara apa. Apalagi Raka, dia juga sama bingungnya.
"Lo haus gak?" tanya Raka membuka suara.
"Lumayan sih," jawab Maira.
"Ya udah beli air minum dulu. Lo tunggu sini, jangan ke mana-mana!" ucap Raka.
"Oke."
Setelah kepergian Raka, Maira hanya diam seraya memperhatikan sekelilingnya. Dimana banyak sepasang kekasih yang sedang menikmati senja, beberapa anak remaja yang jalan-jalan bersama teman-temannya.
"Permisi," ucap seseorang yang membuyarkan lamunan Maira.
"Iya kenapa?" tanya Maira ketika mendapati dua orang lelaki yang sepertinya seumuran dengannya, sudah berdiri di sampingnya.
Salah seorang yang menggunakan kemeja berwarna biru menyodorkan ponselnya ke arah Maira, "Boleh minta nomor wa nya gak?"
__ADS_1
"Hah? Wa?" Maira sedikit kaget karena di mintai nomor WhatsApp nya.
Lelaki itu mengangguk, "Iya boleh gak?"
Wajah Maira tampak ragu, mana mungkin dia mau memberikan nomor WhatsApp nya ke orang yang tidak di kenal. Tapi bagaimana cara menolaknya ya.
"Hhm tapi saya gak bisa ngasih nomor saya ke orang yang gak saya kenal," tolak Maira sopan.
"Ya udah kalau gitu kita kenalan dulu. Nama gue Nathan," ucap lelaki seraya mengulurkan tangannya ke arah Maira.
Waduh! Bukan ini maksud Maira. Ia menatap tangan lelaki itu ragu, pelan-pelan ia menggerakkan tangannya untuk bersalaman dengan lelaki di hadapannya itu. Sampai tiba-tiba..
"Nama gue Raka. Salam kenal ya," ucap Raka tersenyum seraya bersalaman dengan lelaki bernama Nathan tersebut.
Nathan menarik tangannya dengan kesal, "Lo siapa? Gue gak ada nanya nama lo."
Raka menarik Maira agar berada di belakangnya, "Gue pacar cewek ini. Kenapa? Ada masalah?"
Nathan berdecih pelan kemudian mengajak temannya untuk meninggalkan Raka dan Maira.
Raka berbalik dan mendapati Maira yang membeku karena mendengar perkataan Raka. Yang menyebutnya dirinya adalagi pacar Maira. Ini nih masalahnya nih, cuma gitu saja Maira sudah baper. Padahal kan Raka berniat membantu Maira makanya berkata seperti itu.
"Lain kali tuh kalau ada yang begitu langsung pergi aja, jangan di hirauin," ucap Raka mengingatkan.
"Ngapain gue pergi, kan gue udah punya pacar. Iya kan mas pacar?" ucap Maira seraya mengedip-ngedipkan matanya genit.
Raka hanya terdiam melihatnya, kemudian ia pergi meninggalkan Maira yang masih tersenyum genit kepadanya.
"Kuatkan iman lo Raka," batin Raka.
"Mas pacar tunggulah aku," ucap Maira, ia mengejar Raka dengan drama tanpa memperdulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.
...๐๐๐...
Mereka berdua kembali ke tempat Maira melihat Bara dan Melly tadi. Tapi dua orang itu sudah tidak ada, syukur lah Maira tidak perlu melihat dua orang jahat itu. Tapi yang lebih anehnya Angkasa juga tidak datang-datang, ini dia berak batu atau apa pikir Maira.
Maira mendudukkan tubuhnya di kursi taman, kemudian mengibas-ngibaskan tangannya ke wajahnya, "Capek banget gue. Kak Raka sih jalannya cepat banget."
"Siapa suruh lo, manggil-manggil mas pacar," ucap Raka juga ikut duduk di samping Maira.
"Nih minum," lanjut seraya memberikan sebotol minuman dingin kepada Maira.
__ADS_1
"Idih sok soan gak suka, padahal suka kan lo kalau jadi pacar gue," ucap Maira percaya diri. Kemudian ia meneguk air minumnya sampai tinggal setengah.
"Ogan gue pacaran sama tuyul kayak lo," ucap Raka tidak terima.
"Tuyul tuyul, gue punya rambut ya Bambang. Kalau gak bisa liat. Nih," Maira menarik tangan Raka dan meletakkan di atas kepalanya," Adakan? Awas lo manggil gue tuyul lagi. Dasar upil!"
Raka terdiam ketika Maira meletakkan tangannya di puncak kepala Maira. Tanpa sadar ia mengusap-usap kepala gadis itu pelan, seperti mengelus anak kucing pikir Raka. Lucu(โ โงโ โฝโ โฆโ )
"Woi bocah!" pekik Angkasa dari jauh yang membuat Raka langsung menarik tangannya.
Angkasa berjalan menghampiri mereka berdua dengan wajah sedikit kesal, "Di sini rupanya lo, gue kira lo di culik tau gak Ra. Sampai muter-muter nih taman buat nyariin lo."
Angkasa duduk di tengah-tengah Maira dan Raka kemudian mengambil air minum Maira dan meneguknya sampai habis. Ha segarnya.
"Di tinggal berak bentar doang langsung ngilang," omel Angkasa.
Maira hanya terkekeh pelan melihat Angkasa mengomel, "Hehe sorry tadi gue jalan-jalan ke sana sebentar."
Angkasa memutar bola matanya kesal, "Ck untuk kagak gue tinggal lu."
"Bang Raka main ke sini juga, dateng sama siapa bang?" tanya Angkasa setelah menyadari keberadaan Raka.
"Sama anak-anak yang lain tadi, cuman udah pada mencar. Terus gak sengaja ketemu Maira, jadi ngobrol-ngobrol bentar dulu," jawab Raka.
"Oh gitu," ucap Angkasa seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Angkasa melihat jam di tangannya, jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.
"Udah sore nih, kita pulang yuk Ra! Nanti ayah nyariin lagi," ajak Angkasa.
Maira mengangguk, "Ya udah ayok."
"Kita berdua pulang dulu ya bang," pamit Angkasa yang di balas anggukan kecil dari Raka. Kemudian beranjak pergi ke tempat motornya di parkir.
"Gue pulang ya kak upil. Makasih udah nemenin gue tadi," ucap Maira seraya tersenyum manis ke arah Raka.
"Emang boleh semanis ini?" batin Raka.
Hari ini Maira benar-benar membuatnya salah tingkah.
"Iya," balas Raka singkat kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain, ia tidak sanggup menatap wajah Maira.
__ADS_1
"Ya udah bye bye mas pacar," Maira pergi sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Raka.
"Gue jadiin pacar beneran baru tau rasa lo," gumam Raka