Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 17 CCM - Jangan-jangan kita apa?


__ADS_3

Bell istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Maira masih terdiam di kelas sambil menidurkan kepalanya di atas meja. Kepalanya menghadap ke arah Asih yang sedang khidmat memakan bekalnya. Hari ini Dewi masih belum masuk sekolah, jadi gadis berhijab itu masih duduk di samping Maira.


Rasanya ia sangat malas pergi ke kantin sendirian, apalagi jika bertemu dengan Bara dan Melly. Ah Maira jadi teringat saat Bara mengantarkannya makanan ke kelasnya. Tidak! Maira tidak boleh mengingat tentang Bara lagi, dia harus move on.


Maira langsung menegakkan tubuhnya saat Angkasa datang dengan membawa sebungkus roti dan minuman dingin.


"Nih makan! Jangan galau mulu," ucap Angkasa seraya meletakkan roti dan minuman itu di atas meja Maira.


Maira menatap makanan yang di berikan Angkasa dengan senang, "Makasih abaang. Tenang aja gue gak galau kok."


"Iyain dah," cibir Angkasa kemudian kembali berdiri, "Ya udah deh gue mau ke MDC dulu."


Maira yang sedang menyuapkan roti ke dalam mulutnya hanya mengangguk kecil. Setelah kepergian Angkasa, Asih melirik Maira yang fokus menghabiskan rotinya.


"Selama ini gue penasaran," ucap Asih tiba-tiba.


Maira menghentikan kegiatan makannya dan melirik Asih, "Penasaran tentang apa?"


"Kepanjangan MDC itu apa sih?" tanya Asih. Ya selama ini ia terus mendengar teman-temannya selalu membicarakan tentang MDC, jadi ia penasaran akan hal itu.


"Oh itu, kepanjangan itu adalah," Maira menjeda ucapannya.


"Apa?"


"Mama Diwa Crew."


...🐒🐒🐒...


Setelah menghabiskan roti yang di belikan Angkasa, Maira memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Dari pada berdiam diri di kelas lebih baik ia membaca buku di perpustakaan. Begini-begini Maira juga hobi membaca, iya membaca, membaca novel ◉⁠‿⁠◉. Kalau buku pelajaran kadang baru baca beberapa menit kepala Maira langsung tiba-tiba pusing entah apa penyebabnya.


Maira mencari-cari buku menarik di rak buku. Di perpustakaan sekolahnya ini juga lumayan banyak buku-buku novel yang bagus dan terkadang juga ada yang keluaran baru. Jadi Maira bisa baca buku secara gratis kan hehe.

__ADS_1


"Dira's Spy," lirih Maira membaca salah satu judul novel yang di lihatnya.


"Kayaknya bagus, baca itu aja deh," Maira berniat mengambil novel yang terletak di rak bagian atas. Namun karena Maira tidak cukup tinggi, ia cukup sulit untuk mengambilnya.


Maira sudah berjinjit tapi masih saja tidak sampai. Tidak mungkin dalam keadaan seperti ini, akan ada cowok ganteng yang tiba-tiba datang membantu Maira untuk mengambil buku. Seperti di novel-novel yang Maira baca. Jadi karena itu tidak mungkin terjadi, lebih baik Maira mengambil kursi untuk jadikan pijakan. Yah mandiri lebih baik.


Setelah mengambil kursi dan meletakkannya di tempat yang pas, Maira langsung berdiri di atas kursi dan mengambil buku yang ingin ia baca.


"Nah gini kan gampang ngambilnya."


Setelah mengambil buku novel itu, Maira ingin turun dari kursi. Namun saat ia menghadap ke kanan tiba-tiba sudah ada Raka berdiri di sampingnya.


"Aaaaaa," pekik Maira kaget dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, bisa-bisa kena marah dia karena ribut di perpustakaan.


"Astaghfirullah kak upil nih, tiba-tiba nongol bikin kaget aja. Sejak kapan kak upil di situ?"


"Barusan," jawab Raka tanpa dosa kemudian kembali memilih-milih buku yang ingin ia baca.


Maira berdecak heran, sepertinya di mana-mana ia selalu bertemu dengan Raka. Jangan-jangan...ah tidak mungkin.


"Gue heran deh kak. Kok gue selalu ketemu lo terus deh di mana-mana. Lo gak ngikutin gue kan kak?" tanya Maira percaya diri.


Raka melirik Maira sekilas kemudian kembali menatap rak buku, "Buang-buang waktu banget, ngikutin lo."


Maira melirik Raka sinis, kemudian ia kembali memasang tampang berpikir, "Atau jangan-jangan kita..."


Raka mengambil satu buku kemudian menghadap ke arah Maira, ia sedikit membungkukkan tubuhnya yang membuat jarak wajah mereka lumayan dekat.


"Jangan-jangan kita apa? Hhm?"


Maira menelan ludahnya, tidak berani menatap mata Raka. Padahal kan tadi niatnya ia ingin menjahili Raka, kenapa sekarang jadi ia yang salah tingkah.

__ADS_1


"Jangan-jangan kita...gak ada, gak ada apa-apa," Maira memundurkan langkahnya dan dengan cepat pergi dari hadapan Raka, ia tidak tahan di tatap seperti itu terlalu lama oleh Raka.


Raka hanya tersenyum melihat Maira yang tampak salah tingkah. Kenapa gadis itu semakin hari semakin menggemaskan baginya.


...🐒🐒🐒...


Maira jadi tidak fokus membaca, karena ada Raka ikut duduk di depannya. Ini dari sekian banyak meja dan kursi kenapa Raka harus memilih duduk di depan Maira sih. Kan Maira jadi tidak fokus membacanya. Walaupun mereka sering bercanda tapi terkadang Maira suka gugup jika di dekat Raka. Mereka juga belum lama ini menjadi dekat.


"Bukunya yang di liat, jangan ngeliatin gue terus!" ucap Raka matanya masih fokus membaca.


Maira kaget ternyata Raka sadar kalau ia sedari tadi memperhatikan lelaki itu.


"Ga..gak ada ya. Siapa juga yang ngeliatin lo. Geer banget," elak Maira, ia kembali memfokuskan pandangannya pada bukunya.


Raka hanya geleng-geleng melihat Maira, gadis ini heboh sekali. Kalau bicara selalu saja sambil teriak. Untung suka pikir Raka.


Sekarang malah giliran Raka yang memperhatikan Maira, tentu saja Maira sadar bahwa ia sedang di perhatikan. Tidak di perhatikan saja dia sudah gugup apalagi di perhatikan seperti ini.


Maira mengangkat kepalanya ikut memperhatikan Raka, lelaki itu sedang tersenyum manis ke arahnya.


"Ngapain lo ngeliatin gue begitu? Iya gue tau gue cantik kan? Makanya lo ngeliatin sampe begitu," tanya Maira sambil bercanda, agar tidak terlalu gugup.


Tanpa sadar Raka mengangguk-anggukkan kepalanya, "Iya cantik."


"ʘ⁠‿⁠ʘ"


Beberapa detik kemudian Raka baru tersadar, astaga apa yang barusan iya katakan. Tanpa sadar mulutnya mengatakan bahwa Maira cantik. Mereka sama-sama salah tingkah. Maira masih terdiam setelah mendengarkan perkataan Raka. Apa ia tidak salah dengar tadi, Raka bilang bahwa Maira cantik?


"Ma..maksud gue itu," Raka langsung menutup bukunya dan berdiri, "Gue mau ke kelas dulu."


"Ah iya kak," Maira mengangguk pelan seraya menatap kepergian Raka yang terburu-buru.

__ADS_1


Ia memegangi pipinya yang terasa panas, sepertinya ia kurang enak badan. Jadi terkadang pendengarannya suka salah. Ya pasti tadi Maira salah dengar. Ia menepuk pipinya pelan kemudian kembali fokus membaca bukunya.


__ADS_2