Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 34 CCM - Penasaran


__ADS_3

"Kalau gue minta lo buat balas perasaan gue bisa?" ucap Raka.


"Hah?" Maira menghentikan langkahnya, dia tidak salah dengar kan.


"Hah?" Raka juga ikut menghentikan langkahnya dan memasang wajah polos.


"Hah?" kata Maira lagi.


"Hah?" ucap Raka juga.


Maira menghela nafasnya jengah, baru saja dia berdebar-debar mendengar perkataan Raka. Tapi beberapa detik kemudian malah di buat kesal.


"Lo kenapa sih kak?" tanya Maira kesal.


"G-gue," ucap Raka gugup. Kenapa bibirnya jadi sulit berbicara, padahal tadi lancar-lancar saja. Jantungnya juga berdegup kencang.


"Mairaa!"


Sontak Maira dan Raka menoleh ke arah Dewi yang memanggil Maira seraya berlari kecil menghampiri mereka.


"Kenapa Dewi?" tanya Maira ketika Dewi sudah berdiri di depannya.


Dewi memegang tangan Maira, "Temanin gue ke toilet yuk."


"Gue baru aja dari toilet."


"Udah gapapa ke toilet lagi temenin gue," Dewi langsung menarik lengan Maira untuk pergi karena ia sudah kebelet buang air kecil. "Kak Raka, Maira nya gue pinjam dulu."


"Eh eh tapi gue," Maira pergi dengan pasrah sambil menoleh menatap Raka yang juga sedang menatapnya. Jujur saja dia penasaran maksud dari perkataan Raka tadi.


Setelah kepergian Maira dan Dewi, Raka menghela nafasnya lega.


"Bisa-bisanya gue keliatan kayak orang bego tadi. Aarrg Raka Raka bego bener sih lu," Raka melanjutkan langkahnya sambil sesekali merutuki kebodohannya, yang tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada Maira.


...🐒🐒🐒...


Lery terus menatap tajam ke arah Maira yang baru saja masuk ke dalam kelas bersama Dewi. Melihat Maira yang tertawa bahagia bersama Dewi, membuatnya sangat muak. Ia masih sangat kesal karena ucapan Maira di toilet tadi. Padahal Lery sudah memperingatkan nya, tapi Maira sama sekali tidak takut. Apa yang harus Lery lakukan agar Maira menyerah untuk mendapatkan hati Raka.


"Sialan! Sialan! Cewek Sialan!" gumam Lery penuh amarah.


Mau di pikirkan bagaimana pun Lery masih tidak mengerti, apa yang membuat Raka menyukai Maira. Sama sekali tidak ada yang menarik dari gadis itu. Bahkan Dewi juga senang berteman dengan Maira, padahal Lery juga berusaha untuk berteman dekat dengan Dewi tapi tidak bisa sampai sedekat itu.

__ADS_1


Sikap Lery ini tanpa di sadari sedari tadi sudah di perhatikan oleh Melly yang duduk di belakangnya. Kurang lebih Melly tahu apa penyebabnya karena ia dan Lery cukup dekat, jadi Lery sering bercerita pada Melly. Dan dia juga senang karena bukan hanya dirinya saja yang membenci Maira.


"Lo mau diem aja, ngeliat dia deket dengan kak Raka?" tanya Melly memanas-manasi.


"Ya gak lah, gue gak bakalan biarin dia gitu aja. Kan udah berkali-kali gue bilang, kak Raka itu cuma buat gue," balas Lery.


Melly tersenyum menyeringai, terlintas satu ide di kepalanya.


"Gimana kalau kita kasih dia pelajaran."


Lery melirik Melly, "Gimana caranya."


"Sini gue bisikin," Melly mendekatkan wajahnya ke telinga Lery dan membisikkan sesuatu.


"Gimana?" tanya Melly.


Beberapa detik kemudian Lery mengembangkan senyumnya dan mengangguk.


"Boleh juga ide lo."


...🐒🐒🐒...


Jam pelajaran sudah di mulai dan guru juga sedang menjelaskan materi di depan sana. Tapi Maira sama sekali tidak bisa fokus sedari tadi. Pikirannya di penuhi dengan perkataan Raka tadi. Ini benar-benar membuatnya frustasi, Maira benar-benar penasaran dan di buat bingung. Apa Raka benar-benar menyukainya atau tidak. Maira sudah lelah dengan hubungan tanpa status ini, Maira butuh kepastian.


Detik berikutnya ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gak gak nanti kalau di tolak gimana?" gumam Maira.


Dewi melirik Maira yang sedari tadi tampak gelisah dengan heran. Ia menyenggol lengan Maira pelan.


"Sst Ra lo kenapa sih dari tadi?" bisik Dewi.


"Hah? Gapapa kok," balas Maira berbisik.


"Yang di belakang fokus, jangan ngobrol-ngobrol dengan teman di sebelahnya," tegur guru di depan menatap lurus kearah mereka berdua.


Maira dan Dewi sontak menutupi wajah mereka dengan buku karena teman-temannya memperhatikan mereka.


"Lo sih ngajak gue ngomong," ucap Maira berbisik.


"Ya udah ya udah fokus nanti di marahin lagi," balas Dewi dan kemudian kembali mendengarkan penjelasan guru di depan.

__ADS_1


...🐒🐒🐒...


Jam pelajaran terakhir karena adalah pelajaran bahasa Indonesia. Karena melihat murid-muridnya yang terus menerus ribut saat guru menjelaskan. Bu Tuti selaku guru bahasa Indonesia sekaligus wali kelas X IPA 1. Memutuskan untuk menukar tempat duduk mereka.


Dan di sinilah Maira sekarang duduk di kursi paling pojok sebelah kanan di samping Udin. Sedangkan Dewi duduk bersama Angkasa di barisan nomor dari depan. Kalau Maira dan Dewi merasa sedih karena tidak duduk berdekatan lagi. Tapi berbeda dengan Khoirul,ia sangat senang karena bisa duduk di samping Asih. Khoirul benar-benar berterimakasih kepada Bu Tuti tercinta, karena telah memilihkan nya posisi yang pas.


Maira melirik Udin yang duduk di sebelah kirinya, lelaki itu sedang tidur dengan nyenyak. Dimana pun dia berada selalu saja tidur.


"Dasar pangeran tidur," ucap Maira tanpa sadar.


Perlahan Udin membuka matanya seketika Maira langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Denger gak ya dia?" batin Maira.


Udin hanya menatap Maira sekilas kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain dan kembali tidur. Maira juga ikut-ikutan menidurkan kepalanya di atas meja, matanya lumayan ngantuk. Jam pelajaran terakhir mata memang sudah lelah dan mengantuk. Perlahan Maira memejamkan matanya, tidur sebentar tidak apa kan? Toh bu Tuti sedang sibuk menilai tugas murid-murid di depan.


Beberapa menit kemudian Maira membuka matanya, yang pertama kali ia lihat adalah wajah tampan Udin yang sedang menatapnya. Untuk sejenak tatapan mereka saling beradu sampai suara bell pulang sekolah menyadarkan mereka.


"Eh pulang," ucap Maira kemudian menegakkan tubuhnya dan langsung mengemaskan buku-bukunya tanpa memperdulikan tatapan Udin.


"Kenapa dia mandangin gue terus sih? Ada iler kah?" batin Maira.


Maira hanya menatap kedepan tanpa memperdulikan Udin yang masih menatapnya. Sisi sebelah kirinya terasa merinding karena di tatap seperti itu.


"Lo kenapa mandangin gue terus sih? Iya gue tau gue cantik, jangan di liatin terus juga kali," omel Maira kesal.


Udin menautkan kedua alisnya seraya menatap Maira heran, "Hah? Gue gak ada ngeliatin lo."


"Udah deh jangan bohong, gue liat kok lo mandangin gue tadi."


Udin menghela nafasnya jengah, ia mengangkat kedua tangannya dan menangkup wajah Maira kemudian memalingkannya ke samping kanan Maira.


"Eh eh mau ngapain lo?" tanya Maira panik.


"Liat dinding itu, banyak tulisannya kan? Gue dari tadi baca coretan-coretan yang ada di dinding. Bukan ngeliatin lo," jelas Udin kemudian melepaskan tangannya dari wajah Maira.


Seketika wajah Maira langsung memerah karena malu bisa-bisanya dia asal tuduh.


"Oh sorry udah nuduh lo sembarangan," ucap Maira pelan.


"Hhm."

__ADS_1


Udin menahan senyum melihat Maira yang menahan malu. Bisa-bisanya gadis ini terlihat imut. Ah tidak apa yang Udin pikirkan.


__ADS_2