
Tap
Tap
Tap
"Tidaaaak."
Terlambat sudah Maira, gerbang sekolah telah di tutup setengahnya yang berarti yang masuk berikutnya namanya akan di masukkan ke dalam buku kasus dan di hukum. Ia terlambat karena Angkasa tidak sekolah karena sakit, dan ia juga tidak bisa minta antar ayahnya karena ayahnya sudah berangkat kerja lebih awal.
"Kalian semua baris di lapangan!" Titah pak Yanto selaku guru BK.
Kira-kira ada sepuluh murid yang terlambat saat itu dan yang membuat Maira malu adalah hanya dia seorang yang adik kelas.
"Kalian ini, seharusnya kalian lebih di siplin tidur lebih awal dan bangun lebih awal. Sehingga tidak terlambat datang ke sekolah."
Mereka hanya tertunduk sambil mendengarkan omelan pak Yanto.
"Masih mau terlambat lagi?"
"Tidak pak."
"Yang jelas ngomongnya, giliran ribut-ribut di kelas aja bisa sampai kekantor suaranya."
"TIDAAK PAAK."
"Baik, kalian bapak beri hukuman hormat di sini sampai jam istirahat selesai. Mengerti!"
"Mengerti pak."
Tak lama mata pak Yanto mengernyit, "Sebentar, kenapa kamu tidak memakai dasi?"
Semua mata tertuju pada Maira, Maira menundukkan kepalanya dan ya dia tidak memakai dasi. Habis lah Maira hari ini, bisa-bisanya dia lupa memakai dasi.
"Sa..saya lupa pak," ucap Maira takut.
Pak Yanto berkacak pinggang seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kamu ini ya. Kelas berapa kamu?"
"Kelas 10 pak."
Lagi-lagi pak Yanto menggelengkan kepalanya, "Baru kelas sepuluh sudah berani melanggar peraturan sekolah. Mau jadi apa nanti."
"Maafkan saya pak," ucap Maira semakin menundukkan kepalanya karena malu.
"Kamu saya beri hukuman tambahan. Berlari keliling lapangan dua puluh kali putaran," ucap pak Yanto yang membuat Maira sontak mengangkat kepalanya tak percaya.
What? Dua puluh kali? Lapangan sebesar ini? Bisa pingsan Maira.
"Kenapa diam? Mau saya tambah lagi hukumannya?" tanya pak Yanto.
__ADS_1
"Eh gak pak. Itu sudah cukup pak,"jawab Maira cepat, bisa habis dia kalau di tambah lagi hukumannya.
"Ya sudah, semuanya hormat sekarang! Ingat jangan ada yang berhenti hormat sampai jam istirahat nanti!" ucap pak Yanto dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Iyaa paakk."
Waktu pun berlalu mereka yang di hukum menyelesaikan hukuman mereka sampai jam istirahat. Tapi tidak dengan Maira karena ia harus melanjutkan hukumannya berlari di lapangan.
"Kita ke kelas dulu ya, good luck jalanin hukumannya," ucap salah seorang kakak kelasnya bernama Vani.
Maira tersenyum canggung, "Iya kak makasih."
Maira mulai berlari memutari lapangan, karena sekarang sudah jam istirahat ia menjadi pusat perhatian. Ah Maira sangat malu rasanya, masa anggota osis di hukum begini sih. Padahal kan harus memberikan contoh yang baik pada murid-murid yang lain. Maira ingin menyalahkan Angkasa tapi Angkasa tidak salah di sini, dan Maira juga tidak salah eh tapi yang soal dasi Maira salah sih. Ya sudah lah biar adil salain pak Yanto aja lah.
"Ra lo ngapain!" pekik Dewi di pinggir lapangan.
Maira menoleh ke arah teman-temannya itu dengan wajah yang penuh keringat, "Lagi lari lah, masa kayang."
"Ya maksud gue lo ngapain lari-larian begitu?"
Maira menghela nafas panjang, sejujurnya ia sudah sangat lelah bahkan untuk meladeni Dewi berbicara pun ia sudah tak sanggup.
"Gue di hukum gara-gara telat sama gak pakai dasi," jawab Maira.
"Ya udah gue tungguin nih, kita ke kantin sama-sama," ucap Dewi.
Maira menggeleng, "Gak usah duluan aja, nanti gue nyusul."
Maira menggeleng cepat, "Nooo. Lo liat ke sana! Gue di awasin pak Yanto."
Dewi mengarahkan pandangannya ke arah yang di suruh Maira, dan ya di situ ada pak Yanto sambil menatap tajam ke arah mereka.
"Hehe ya udah deh nanti aja gue kasih," ucap Dewi memundurkan langkahnya.
Tak jauh dari mereka Raka dan Bara juga ikut mengawasi Maira yang sedang di hukum. Raka yang menatap dengan wajah khawatir dan Bara dengan wajah datarnya.
"Kenapa bisa sampai di hukum sih dia?" ucap Raka.
Rahmat yang berada di samping Raka, melirik Raka dengan senyuman jail. Ia tahu betul bahwa sahabatnya itu sedang khawatir.
"Kenapa? Lo khawatir? Temenin lah sana, ikut lari juga. Kan romantis tuh," ucap Rahmat.
Raka melirik Rahmat sinis, "Mata lo romantis. Gak lo liat tuh pak Yanto ngawasin dia."
"Kan demi adek apapun rela abang lakukan," ucap Rahmat dramatis.
"Lo pilih tangan kanan atau kiri?" tanya Raka datar.
"Kalau kiri apa kalau kanan apa?"
__ADS_1
"Kalau kiri lo masuk rumah sakit, kalau kanan lo juga masuk rumah sakit tapi koma."
"Buset lo," Rahmat lebih mendekatkan dirinya ke arah Raka dan menunjukkan wajah so imutnya, "Jangan gitu dong, aku kan jadi takut."
"Lo beneran mau masuk rumah sakit ya?" ucap Raka menunjukkan tinjunya.
Cepat-cepat Rahmat menjauhkan tubuhnya dari Raka, "Eh gak canda bro canda."
Raka kembali diam dan memperhatikan Maira yang masih berlari dengan terjengah. Bajunya sudah hampir basah karena keringat, Maira benar-benar sudah lelah. Tinggal tiga kali putaran lagi, Maira harus semangat. Walaupun tubuhnya sudah sempoyongan hampir tumbang. Tapi ada Dewi yang memberikan nya dukungan di sana, Maira jadi tidak merasa sendirian.
"Ayo Maira sedikit lagi," ucap Dewi.
"Yoi."
Tinggal satu kali putaran Maira hampir selesai, sedikit lagi dan..
Bruk
Maira jatuh pingsan.
"Maira!"
Dewi bahkan Raka dan Bara berlari dengan panik menghampiri Maira yang sudah terkapar di lapangan.
"Maira ya ampun bangun Ra," ucap Dewi khawatir.
Raka bergerak untuk menggendong Maira namun Bara menahannya.
"Biar gue yang bawa dia ke UKS," ucap Bara.
Raka menatap Bara datar, "Biar gue aja."
"Gue bilang gue aja!"
Mereka saling berebut untuk membawa Maira ke UKS.
"Kok kalian malah ribut gini sih? Ini Maira lagi pingsan woi! Kalau gue bisa gue aja yang bawa dia ke UKS," ucap Dewi kesal, bisa-bisanya di saat-saat seperti ini mereka berdua malah bertengkar.
"Ya udah sini biar gue," Raka kembali berniat menggendong Maira namun lagi-lagi Bara menahannya.
"Gue aja!" ucap Bara.
"Woi! Astaga bego lo berdua," ini kalau kalau keadaannya sedang tidak genting sepertinya Dewi akan menghajar dia laki-laki di hadapannya ini.
Tiba-tiba di balik pertengkaran mereka berdua Diwa datang dan langsung menggendong Maira.
"Gue aja yang bawa dia ke UKS, lo berdua lama," Diwa melirik Raka, "Gue juga udah bilang ke Angkasa tadi di grup MDC, dia minta sama kita buat jagain adek nya. Bukan malah berantem gak jelas begini."
Setelah itu Diwa langsung pergi membawa Maira ke UKS dengan di ikuti oleh Dewi. Mendengar ucapan Diwa barusan Raka langsung mengecek ponselnya dan membuka grup MDC. Di situ Angkasa mengatakan bahwa ia minta tolong agar teman-temannya menjaga Maira karena ia sedang sakit.
__ADS_1
Ya selama ini Raka juga lah bagian dari kumpulan Diwa dan teman-temannya yang mereka sebut MDC itu. Hanya saja Raka tidak terlalu sering berkumpul karena banyak kegiatan lain yang ia ikuti. Tapi waktu Angkasa membawa Maira untuk berkumpul bersama mereka Raka ada kok Maira nya saja yang tidak menyadarinya.
Bro tolong jagain adek gue ya, hari ini gue lagi sakit jadi gak bisa pergi ke sekolah. Dia di hukum pasti gara-gara gue.