Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 42 CCM - Apology


__ADS_3

Tak seperti biasanya, Angkasa yang biasa sering bangun kesiangan hari ini tampak sudah siap dan rapi dengan seragam sekolahnya lebih awal. Itu semua ia lakukan demi membujuk sang adik yang masih belum juga memaafkannya. Maira menahan senyumnya, sejujurnya ia sudah memaafkan Angkasa. Tapi ia sengaja berpura-pura masih marah, untuk memberi kakaknya itu pelajaran.


Bahkan Rio juga di buat tersenyum melihat anak-anaknya. Ia yakin, pasti sebentar lagi mereka akan berbaikan.


Setelah sarapan bersama dan ayahnya berangkat untuk bekerja. Barulah mereka berdua juga bersiap-siap untuk berangkat sekolah.


"Udah siap?" Angkasa menatap Maira yang baru selesai mengikat tali sepatunya.


Maira tidak menjawab, ia hanya diam seraya berjalan mendahului Angkasa menuju motor mereka. Angkasa menghela nafasnya pelan, Maira masih juga belum mau berbicara padanya. Angkasa akan terus berusaha untuk berbaikan dengan Maira. Karena ia tidak suka suasana seperti ini, sangat tidak nyaman.


...🐒🐒🐒...


Angkasa mematikan mesin motornya ketika sudah berada di parkiran sekolah. Tanpa berkata-kata Maira meletakkan helmnya di spion motor, kemudian langsung berlenggang pergi meninggalkan Angkasa. Mata Angkasa mengikuti Maira, cepat-cepat ia juga melepaskan helmnya dan menyusul sang adik. Maira hanya diam membiarkan Angkasa mengekorinya.


Padahal biasanya ia akan langsung pergi ke markas tempat anak-anak MDC berkumpul. Tapi sekarang ia harus membujuk Maira dulu.


Kedua alis Angkasa saling bertautan ketika arah langkah Maira, bukan menuju kelas mereka. Melainkan ke arah yang berlawanan. Sebenarnya Maira mau ke mana. Angkasa terus mengikuti Maira, hingga sampailah mereka di depan kelas Raka.


"Oh nyamperin pacarnya dulu rupanya," gumam Angkasa.


Angkasa diam di depan pintu kelas, ketika Maira berjalan masuk dan menghampiri meja Raka. Di mana sang pemilik meja belum terlihat batang hidungnya.


"Mau ngapain sih tu bocah, bang Raka juga gak ada padahal," lirih Angkasa bingung.


Tanpa memperdulikan Angkasa yang kebingungan melihatnya. Perlahan Maira mengeluarkan kotak bekal berwarna biru muda dari dalam tasnya. Tadi pagi sekali, ia sengaja menyiapkan sandwich untuk Raka. Walaupun tak seberapa setidaknya Maira sudah berusaha kan.


Setelah meletakkan kotak bekal tersebut di laci meja Raka, Maira menutup tasnya dan beranjak keluar kelas.


"Lo buatin bang Raka bekal?" tanya Angkasa, namun Maira hanya memberikannya tatapan datar dan berlalu pergi meninggalkannya.


Lagi-lagi Angkasa menghela nafas pasrah. Entah sampai kapan Maira akan mendiamkannya.


"Semangat Angkasa! Lo pasti bisa!" semangat Angkasa pada dirinya.


...🐒🐒🐒...


Tak seperti biasanya hari ini Raka sangat sangat bersemangat berangkat sekolah. Biasanya sih juga semangat, tapi sekarang dua kali lipat lebih semangat. Itu semua berkat Maira. Byasalah pasangan baru hehe.


Raka sedikit terkejut ketika melihat ada sebuah kotak bekal di laci mejanya. Setahunya ia tidak pernah membawa bekal dari rumah. Raka mengambil kotak bekal itu dengan raut wajah heran. Raka mengernyit ketika melihat kertas kecil yang ada di bawah kotak bekal tersebut.


Seketika ekspresi wajah Raka yang semula kebingungan berubah menjadi senyum bahagia. Ketika membaca tulisan yang ada di kertas kecil itu.


To : my kind and handsome boyfriend. Di makan ya jangan di buang\=⁠_⁠\=

__ADS_1


From : Maira yang imut hehe


Raka terkekeh pelan, semburat merah terlihat di pipinya. Bisa-bisanya pagi-pagi begini dia di buat salah tingkah oleh Maira.


"Manisnya," lirih Raka gemas.


"Iya gemes ya? Pengen gigit~," ucap seseorang.


Raka menoleh ke sumber suara dengan senyuman manis masih terpatri di wajahnya. Namun seketika senyum itu pudar ketika ia melihat wajah Rahmat yang tersenyum jahil kepadanya. Cepat-cepat Raka menyembunyikan kotak bekal dan surat itu dari hadapan Rahmat. Jika melihatnya pasti Rahmat akan terus meledeknya.


Tapi sudah terlambat Rahmat sudah melihatnya tadi, bahkan sudah membaca tulisan di kertas kecil tersebut.


"Gak perlu lo sembunyiin, udah gue liat semuanya," Rahmat memasukkan tasnya kedalam laci meja kemudian kembali menatap Raka, "Ciee yang di bikinin bekal dari pacarnya cie cie."


Raka hanya diam menatap Rahmat datar. Apakan Raka bilang, pasti Rahmat akan meledeknya.


"Yang baru pacaran sweet amat sih," goda Rahmat, tangannya tergerak mencolek dagu Raka.


"Diem lo!"


"Lah kok ngamok!"


Dari pada mendengarkan ledekan Rahmat lebih baik Raka memakan bekal yang di berikan oleh Maira.


Raka menjauhkan kotak bekalnya ketika tangan Rahmat hendak mengambil sepotong sandwich.


"Enak aja. Minta buatin sana sama pacar lo," suruh Raka, mulutnya sudah penuh dengan sandwich. Kali ini Raka benar-benar tidak ingin berbagi pada Rahmat atau siapapun. Sandwich ini hanya untuk Raka. Only Raka.


Rahmat menatap Raka sinis, "Ck pelit amat! Kalau gue satu sekolah dengan cewek gue, pasti dia juga bakalan buatin gue bekal setiap hari."


"Yakin deck?" kali ini giliran Raka yang meledak Rahmat. Ia menggoyang-goyangkan sandwich di depan Rahmat kemudian memakannya dengan nikmat.


"Hm Masya Allah enak banget. Buatan pacar gue."


Rahmat yang semula hanya diam tiba-tiba menggoyang-goyangkan lengan Raka penuh drama.


"Huwaa bagiii gue pengen ngerasain nya jugaa~."


"Gak mauuu."


...🐒🐒🐒...


"Kamu ini ya, bisa-bisanya tidak mengerjakan pr. Padahal saya sudah memberikan waktu seminggu," omel pak Heri selaku guru fisika pada Angkasa yang sedang berdiri di depan kelas seraya menundukkan kepalanya malu.

__ADS_1


"Maaf pak," hanya kata itu yang bisa Angkasa ucapkan sekarang, jika tidak mau pak Heri lebih marah lagi padanya.


Karena terus memikirkan masalahnya dan Maira, Angkasa sampai lupa kalau mereka ada di berikan pr oleh pak Heri.


Pak Heri menghela nafasnya gusar.


"Ya sudah, sekarang kamu keluar kelas. kerjakan pr yang bapak beri, di tambah tugas yang di sebelahnya. Sebelum jam istirahat yang harus selesai. Paham!" titah pak Heri.


"Paham pak," jawab Angkasa kemudian langsung bergegas mengambil bukunya dan beranjak pergi keluar kelas.


Angkasa mendudukkan tubuhnya di lantai kemudian menyandarkan punggungnya di dinding kelas. Matanya menatap nanar soal-soal fisika yang sama sekali ia tidak bisa kerjakan. Bagaimana Angkasa bisa menyelesaikan semuanya sebelum jam istirahat selesai. Biasanya saja Angkasa di bantu oleh Maira.


Angkasa mendongakkan kepalanya seraya menengadahkan kedua tangannya.


"Ya Allah tolong Angkasa Ya Allah."


Kemudian ia mulai mengambil pulpennya seraya bergumam, "Puh ajarin dong puh sepuh, Tinky, Winky, Dipsy, Lala, puh sepuh."


...🐒🐒🐒...


"Nih salin!" ucap Maira seraya menyodorkan sebuah buku pada Angkasa.


Angkasa mengangkat kepalanya menatap Maira dengan heran.


"Ra? Itu apa?"


"Ini jawaban tugas fisika, buruan salin! Sebentar lagi istirahat, nanti hukuman lo di tambah sama pak Heri."


Bukannya mengambil buku itu. Angkasa malah menatap Maira dengan mata yang berkaca-kaca. Ia terharu, walaupun sedang marah tapi Maira masih saja mengkhawatirkannya.


"Lo udah gak marah sama gue?" tanya Angkasa.


Maira menghela nafasnya pelan, ia meletakkan buku itu di atas paha Angkasa.


"Iya gue udah gak marah," balas Maira tersenyum hangat.


Angkasa mencebikkan bibirnya, rasanya ia ingin menangis sekarang. Ya tidak seperti tampangnya yang cool, Angkasa ini sebenarnya berhati hello Kitty.


"Maafin gue Ra, gue udah buat salah. Gue janji gak akan begitu lagi," ucap Angkasa.


Maira berjongkok di samping Angkasa, "Iya gue juga minta maaf. Kemarin kata-kata gue udah keterlaluan sama lo. Udah sekarang lo salin dulu nih jawaban, gue masuk dulu nanti ketahuan sama pak Heri lagi."


Angkasa mengangguk seraya tersenyum senang, hatinya sudah lega sekarang. Maira sudah tidak marah lagi padanya.

__ADS_1


"Oke. Makasih jawabannya."


__ADS_2