Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 37 CCM - Pengakuan (2)


__ADS_3

Raka sedikit tidak bersemangat hari ini. Karena sejak kemarin setelah kejadian Maira mengajaknya untuk berpacaran, saat ekskul voli Maira terus saja menghindari Raka. Pagi ini juga saat Raka hendak menyapa Maira yang baru tiba di sekolah, gadis itu malah melarikan diri ketika dia melihat Raka.


Ini memang salah Raka sih, pasti Maira sangat marah kepada Raka. Di saat Maira sedang serius, Raka malah bercanda. Raka benar-benar merutuki kebodohannya. Lihatlah sekarang bagaimana caranya agar Raka bisa berbicara dengan Maira, kalau gadis itu saja menghindarinya.


Dari jam pertama sampai istirahat, Raka benar-benar tidak fokus menyimak penjelasan guru di depan. Pikirannya sekarang hanya di penuhi oleh Maira.


Karena sekarang sedang istirahat lebih baik Raka menemui Maira di kantin. Iya betul, dengan begitu Raka bisa menjelaskan semuanya kepada Maira.


Raka mengangguk-anggukkan kepalanya yakin kemudian berdiri, bersiap untuk beranjak ke kantin.


"Ke perpustakaan yuk Rak," ajak Rahmat tiba-tiba yang juga ikut berdiri dengan membawa beberapa buku.


"Ngapain? Gue mau ke kantin," tanya Raka.


"Ngembaliin buku lah. Emang lo gak mau ngembaliin buku yang lo pinjam, batas waktunya kan hari ini," balas Rahmat.


Oh iya Raka hampir lupa, ia harus mengembalikan beberapa buku yang telah ia pinjam di perpustakaan. Eh tunggu tapikan istirahat kedua bisa.


"Istirahat kedua aja kita ngembaliin nya ya."


Rahmat menggeleng, "Sekarang aja lah, gue juga mau minjam buku lagi. Katanya lo mau minjam buku juga, untuk ngerjain tugas kimia. Buruan ambil buku lo, nanti kalau sempat kita baru ke kantin. Gue yang traktir."


"Ck keburu masuk yang ada, mana sempat gue ngomong sama Maira," gumam Raka kesal, walaupun begitu ia tetap menuruti perkataan Rahmat. Pasalnya Raka juga sering bersikap seperti ini pada Rahmat.


Walaupun tidak mendengar perkataan Raka dengan jelas, Rahmat dapat menangkap raut wajah kesal sahabatnya itu.


"Gak usah kesal-kesal bagung muka lo jelek kalau lagi kesal," ledek Rahmat sambil tertawa.


"Mata lo jelek!"


...🐒🐒🐒...


Raka dan Rahmat sudah mengembalikan buku mereka pinjam dan sekarang mereka sedang memilih buku yang akan mereka pinjam lagi di rak buku.


"Hhm kemana sih bukunya, kemarin gue liat di sini deh," lirih Rahmat seraya melihat-lihat judul buku yang ada di rak buku.


Raka yang juga sedang memilih buku, melirik Rahmat sekilas.


"Di rak sebelah kali, coba cari sana! Lo kan udah tua, jadi cepat lupa," ucap Raka terkekeh geli.


"Yee enak aja lo ngatain gue tua," ucap Rahmat sambil pergi ke rak lain untuk mencari buku yang ia cari.


Raka tertawa setelah berhasil menggoda temannya kemudian kembali fokus mencari buku.


Bruk


Terdengar suara barang jatuh di rak tempat Rahmat mencari buku. Raka berpikir terjadi sesuatu kepada Rahmat, ia bergegas mendatangi sahabatnya itu.


Namun saat sampai di sana, Raka melihat seorang siswi yang sangat ia kenal sedang berdiri di atas kursi. Dia adalah Maira, gadis itu mengeluh kesakitan seraya mengusap wajahnya lebih tepatnya bagian keningnya. Buku-buku juga berserakan di sana. Dan Rahmat juga ada di situ.


"Lo gapapa?" tanya Rahmat berniat membantu Maira.


Maira melirik ke sumber suara memastikan siapa yang berbicara dengannya.


"Eh kak Rahmat, gapapa kok kak," balas Maira masih mengelus keningnya yang mulai biru.


"Itu kening lo memar, sini turun dulu," Rahmat memegang tangan Maira untuk membantu gadis itu turun dari kursi. Hal ini membuat Raka yang memperhatikan mereka melebarkan matanya. Tiba-tiba ia terbakar api cemburu.

__ADS_1


"Sini coba gue liat," baru juga Rahmat hendak memegang wajah Maira, lengannya sudah di tahan lebih dulu oleh Raka.


"Jangan di pegang!" ucap Raka.


"Eh Rak, kenapa?" tanya Rahmat kaget.


Maira juga tak kalah kaget melihat kehadiran Raka. Niatnya ke perpustakaan untuk menghindari Raka, tapi mereka malah bertemu di sini dalam kondisi seperti ini.


"Tangan lo," Raka tampak berpikir beberapa saat, "Banyak debu, nanti muka Maira kotor," lanjutnya.


Rahmat langsung menarik tangannya, "Oh iya tangan gue kotor, hampir aja. Sorry ya Ra."


"Iya gapapa kak Rahmat," balas Maira.


Sekarang tatapan Raka beralih pada Maira yang sedang menundukkan kepalanya. Gadis itu tidak berani menatap wajah Raka.


"Lo gapapa Ra?" tanya Raka lembut.


Maira menggeleng cepat tanpa menatap mata Raka, "Gapapa kok kak upil ma-maksudnya kak Raka."


Raka hanya tersenyum kecut mendengar hal itu, sepertinya Maira benar-benar marah padanya.


Untuk menghilangkan rasa canggungnya, Maira beralih memungut buku-buku yang telah ia jatuhkan. Namun Raka langsung mengambil buku-buku itu dari tangan Maira.


"Biar gue yang susun bukunya."


"Ma-makasih kak."


Setelah menyusun buku-buku itu, Raka menempuk bahu Rahmat pelan.


"Mau kemana lo? Belum juga kita minjam buku," tanya Rahmat.


"Gue mau bawa Maira ke UKS," ucap Raka seraya melirik Maira yang hanya terdiam.


Rahmat menatap Raka dan Maira bergantian, kemudian ia mendekatkan tubuhnya ke Raka.


"Mau modus kan lu?" bisik Rahmat seraya menunjuk senyum jahilnya. Sedangkan Raka hanya menunjukkan wajah kesalnya.


"Ya udah iya iya pergi sono, antar Maira ke UKS. Kasian tuh keningnya memar ketiban buku," ucap Rahmat sambil mendorong tubuh Raka agar pergi.


Tanpa basa-basi Raka langsung menarik tangan Maira dan membawanya ke UKS.


"Yuk gue antar ke UKS," ajak Raka.


"Eh gak usah kak, gue gapapa kok."


"Gak. Lo kenapa-napa."


Akhirnya Maira hanya pasrah mengikuti Raka.


...🐒🐒🐒...


Setelah sampai di UKS Raka langsung menyuruh Maira untuk duduk di atas ranjang.


Maira terdiam menatap Raka yang sedang sibuk mencari obat untuk dirinya. Tanpa sadar bibirnya tersenyum senang melihat Raka yang perhatian kepada dirinya.


"Seharusnya sih ada, salep untuk memar. Mana ya," lirih Raka mencari-cari.

__ADS_1


"Nah ini dia," seru Raka senang.


Ia menarik kursi dan duduk di depan Maira. Jantung Maira langsung berdegup kencang, karena berada terlalu dekat dengan Raka.


"Sini wajah lo deketan, gue mau olesin obatnya," ucap Raka yang sudah mengeluarkan obat salep dan meletakkannya di jari telunjuknya.


Dengan ragu Maira mendekatkan wajahnya ke Raka. Dengan perlahan Raka mengoleskan salep ke kening Maira. Ia tidak tahu saja jantung Maira sekarang hampir meledak karena melihat ketampanannya dari jarak sedekat ini.


"Udah," ucap Raka sambil tersenyum manis.


"Ma-makasih banyak kak," Dengan cepat Maira menjauhkan wajahnya dari Raka.


"Sama-sama."


Maira memalingkan wajahnya ke arah lain, karena Raka terus menatapnya. Hal ini membuat Maira sangat gugup.


"Kalau gitu gue ke kelas dulu ya kak," ucap Maira hendak berdiri namun pergerakannya di tahan oleh Raka.


"Maaf," ucap Raka.


"Eh?"


"Maaf tentang kemarin, padahal kemarin lo lagi serius. Tapi gue malah bercanda, maafin gue Ra. Lo mau kan maafin gue," ucap Raka lagi matanya tersorot lembut ke arah Maira. Terlihat kekhawatiran di sana.


Maira terdiam sesaat berusaha mencerna keadaan, ia tidak menyangka Raka akan mengatakan hal ini. Detik berikutnya ia mengembangkan senyumnya.


"Haha gapapa kok kak. Kan gue juga gak boleh maksain lo buat suka sama gue. Sans aja lah," balas Maira pura-pura tenang.


"Emang gak perlu lo paksa, karena gue memang suka sama lo."


"Hah?"


"Gue suka sama lo Maira, gue cinta sama lo," tegas Raka, tangannya masih menggenggam erat tangan Maira.


Seperti tersihir bibir Maira tersenyum lebar. Mendengar pernyataan cinta dari Raka, benar-benar membuat hatinya senang.


"Kak Raka serius?" tanya Maira memastikan.


Raka mengangguk yakin, "Iya gue serius."


"Jadi?"


"Sekarang lo jadi pacar gue."


Maira mengernyit, "Kok gak nanya dulu, gue mau apa gak?"


Raka tersenyum penuh arti, ia berdiri kemudian mengelus lembut rambut Maira.


"Karena gue gak terima penolakan, cantik."


"Kok gitu sih? Tanya dulu lah," ucap Maira tidak terima padahal wajahnya sudah bersemu merah karena senang sekaligus malu.


"Ya begitu lah. Ya udah ayok ke kelas pacarku, sebentar lagi bel bunyi."


"Apaan manggil pakai pacarku segala."


"Kenapa? Gak suka? Mau di panggil sayang hm?

__ADS_1


__ADS_2