Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 11 CCM - Panggilan sayang


__ADS_3

"Makasih banyak ya kak upil," Maira melepaskan helmnya dan memberikannya kepada Raka.


"Iya sama-sama. Ya udah kalau gitu gue pulang dulu ya Assalamualaikum."


Maira mengangguk, "Iya kak walaikumsalam hati-hati ya."


"Iya," ucap Raka dan mulai menjalankan motornya.


Maira masih melambaikan tangannya ke arah Raka, sampai Raka sudah tidak terlihat ia baru menyadari sesuatu.


Maira menepuk keningnya, "Oh iya astaghfirullah jaketnya lupa gue balikin."


"Ya udah lah besok aja," gumam Maira dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.


...🐒🐒🐒...


Setelah selesai berganti pakaian, Maira langsung bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk kembaran tercinta yang sedang sakit.


Maira mengetuk pelan pintu kamar Angkasa, "Angkasa gue masuk ya."


"Iya masuk aja," ucap Angkasa dari dalam kamarnya.


Kriet


Maira menghampiri kakaknya yang terbaring lemas di kasurnya dan meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas.


"Nih makan dulu, habis itu minum obat!" ucap Maira seraya membantu Angkasa untuk duduk.


"Lo pulang tadi pakai apa?" tanya Angkasa.


"Di antar sama kak Raka," jawab Maira di sela-sela kegiatannya menyuapkan makanan ke mulut Angkasa.


Angkasa mengangguk-anggukkan kepalanya, "Oh lo cady ci hcum ya."


Mendengar ucapan kakaknya Maira mengernyit heran, "Ngomong apaan sih lo? Kunyah dulu tuh makanan habis itu telen. Baru ngomong!"


Angkasa cepat-cepat mengunyah makanannya dan menelannya, "Lo tadi di hukum ya?"


"Loh kok lo tau?" tanya Maira.


"Anak-anak MDC yang lapor ke gue," jawab Angkasa.


"Oh pantesan kak Diwa bantuin gue tadi."


"Sorry ya Ra, gara-gara gue lo jadi di hukum," ucap Angkasa merasa bersalah.


"Lo gak salah ngapain minta maaf. Lagian tadi gue juga lupa pakai dasi, jadi di kasih hukuman tambahan deh," jelas Maira.


"Ya kan kalau lo gak kelamaan nungguin gue tadi pasti lo gak telat."


"Udah udah gak biasa nih gue ngeliat lo begini. Mending gini aja, lo gak salah dan gue gak salah," ucap Maira.


Angkasa mengernyit, "Jadi siapa yang salah?"

__ADS_1


"Pak Yanto," balas Maira dengan ekspresi yang berhasil membuat Angkasa tertawa.


"Pffh apaan dah, malah pak Yanto yang salah."


"Ya kan dia yang kasih hukuman," ucap Maira juga ikut-ikutan tertawa.


Maira terdiam sesaat menatap Angkasa yang masih tertawa, ia tidak ingin kembarannya itu merasa sedih.


"Nah gitu dong ketawa, kan makin ganteng abang gue."


"Gue emang ganteng sih," ucap Angkasa songong.


Maira menatap Angkasa datar, "Nyesel gue bilang lo ganteng."


Angkasa kembali tertawa karena berhasil membuat Maira kesal.


"Eh tadi bang Diwa juga bilang ke gue, katanya Raka sama Bara rebutan buat nolongin lo," ucap Angkasa, sepertinya akhir-akhir ini adiknya sedang populer.


"Kata Dewi sih juga gitu," balas Maira.


"Wahh curiga gue mereka suka sama lo. Akhir-akhir ini lo juga lagi dekat dengan bang Bara kan?"


"Ya dekat-dekat gitu lah," jawab Maira malu-malu.


"Gue bilang sih lo jangan deket-deket sama dia!" ucap Angkasa mengingatkan.


Maira mengernyit, ia menatap Angkasa sedikit tidak suka dengan penuturannya, "Kenapa?"


"Mukanya sih ganteng. Tapi gue liat-liat kayaknya sih dia cowok yang hobi mainin hati perempuan," jelas Angkasa yang semakin membuat Maira tidak enak mendengarnya.


Maira meletakkan piring makanan di atas nakas sedikit kasar, "Lo tau dari mana emang? Jangan asal ngejudge orang sembarangan deh!"


"Dari insting sesama lelaki."


...🐒🐒🐒...


Pagi ini sebelum masuk ke dalam kelasnya, Maira terlebih dahulu pergi ke kelas 11 IPA 1 yaitu kelas Raka. Maira ingin mengembalikan jaket milik Raka yang kemarin di pinjamkan kepadanya.


"Makasih ya kak upil, jaketnya udah gue cuci kok. Udah wangi berseri," ucap Maira seraya meletakkan jaket itu di atas meja Raka.


Raka yang sedang duduk di kursinya mendongak menatap Maira dengan wajah datarnya.


"Sama-sama. Tapi sebelum itu bisa berhenti manggil gue upil gak?"


Maira menggeleng lucu, "Gak bisa, udah kebiasaan hehe. Anggap aja sebagai panggilan sayang gue buat lo."


Mendengar hal itu seketika Raka membeku, apa ia tidak salah dengar tadi. Panggilan sayang? Tolong Raka hampir tidak bisa menahan senyum di bibirnya. Ada sesuatu yang menggelitik di perutnya.


"Ya udah kalau gitu gue ke kelas dulu ya. Dah kak upil," pamit Maira dan berlalu pergi meninggalkan Raka yang masih mematung menatap kepergiannya.


Raka tersenyum dan tertawa pelan, "Hehe panggilan sayang."


...🐒🐒🐒...

__ADS_1


Setelah keluar dari kelas Raka, Maira tidak sengaja bertemu dengan Bara ketika ia melewati kelas Bara. Tentu saja Maira sangat senang bisa cuci mata sebelum belajar pikirnya.


"Habis dari mana Ra?" tanya Bara ketika Maira sudah di depan kelasnya.


"Dari kelas kak Raka," jawab Maira.


Mendengar hal itu Bara yang semula tersenyum langsung memasang wajah masam, "Ngapain?"


"Oh itu ngembaliin jaket kak Raka, kemarin dia menjamin jaketnya ke gue," Maira sedikit heran melihat perubahan ekspresi Bara, apakah dia ada berbuat salah.


"Jaket? Emang kemarin kalian kemana?" tanya Bara penasaran.


Maira menggeleng, "Gak ke mana-mana. Itu kemarin gue pulang di anterin sama kak Raka."


"Oh gitu."


"Sialan si Raka ngambil kesempatan dia," batin Bara.


Maira menatap Bara heran, ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan Bara.


"Kak Bara! Kak Bara kenapa?"


"Eh gapapa kok. Angkasa masih sakit ya?" tanya Bara.


"Iya dia masih sakit," balas Maira lemah.


Bara mengangguk-anggukkan kepalanya, "Pulang sekolah nanti bareng gue ya."


"Hah? Bareng kak?" tanya Maira berbinar. Bara serius kan ingin mengajaknya pulang bersama.


"Iya, tungguin gue di parkiran nanti ya," ucap Bara.


Maira tidak bisa untuk tidak tersenyum, hatinya sangat senang sekarang.


"Oke kak. Hhm kalau gitu gue ke kelas dulu ya," ucap Maira masih dengan senyuman manis terpatri di wajah cantiknya.


"Iya," ucap Bara.


...🐒🐒🐒...


Jam pulang sekolah pun tiba, Maira sudah berada di parkiran beberapa menit yang lalu. Ia sudah tidak sabar untuk pulang bersama dengan Bara. Senyumnya mengembang saat lelaki yang di nantinya sedang berjalan ke arahnya.


"Udah siap Ra? Yuk pulang!" ajak Bara yang langsung menaiki motornya.


"Iya kak," Maira mengangguk semangat dan langsung menaiki motor Bara.


"Helm gue cuma satu gapapa ya?" ucap Bara melirik Maira dari kaca spion.


"Iya kak gapapa."


"Ya udah pegangan!" ucap Bara dan langsung menjalankan motornya.


Di perjalanan Maira seperti uji nyali, detak jantungnya berdetak karuan. Bukan karena ia berada di motor yang sama dengan Bara, tapi karena Bara membawa motor seperti orang yang balapan. Maira tidak tahu bagaimana kondisi rambutnya sekarang, pasti sangat berantakan.

__ADS_1


"Lindungi hamba ya Allah, hamba masih mau sekolah besok," lirih Maira berdoa.


__ADS_2