
"Nyiiiiiiiiiiiiiiit sampai ~" seru Angkasa seraya mematikan mesin motornya di parkiran sekolah.
Maira turun dari motor sambil membawa tas Angkasa.
"Ke MDC kan lo?" tanya Maira.
"Tau aja lo. Titip tas ya adikku," balas Angkasa terkekeh pelan seraya mengacak-acak rambut Maira.
"Ya udah abangmu yang Masya Allah ganteng ini pergi dulu ya pay pay."
"Ck ck abang siapa sih dia itu?" ucap Maira seraya menatap kepergian Angkasa.
Baru beberapa langkah Maira meninggalkan parkiran. Matanya sudah di kejutkan oleh kedatangan Raka dan Lery yang sedang berboncengan. Wah pemandangan apa ini, di pagi yang cerah ini. Mata Maira rasanya kemasukan debu, sakit rasanya. Melihat Raka dan Lery yang berangkat sekolah bersama, sambil tersenyum bahagia seperti itu. Maira merasa dugaannya benar, kalau Raka dan Lery itu berpacaran.
Ya sudah lah lagi pula Maira bukan siapa-siapa Raka, jadi ia tidak punya hak untuk cemburu. Lery juga lebih cantik dari Maira, Maira sadar diri kok༎ຶ‿༎ຶ. Dari pada berlama-lama di sini lebih baik Maira ke kelas saja.
Sesampainya di kelas Dewi mengernyit heran melihat wajah Maira yang tampak murung. Ada masalah apa lagi dengan temannya ini.
"Kenapa lo? Kusut amat tuh muka, kayak pakaian belum di setrika," tanya Dewi ketika Maira sudah duduk di sampingnya.
Maira menggeleng lemah, "Gapapa. Gue masih ngantuk aja. Semalam begadang nonton Drakor sama Angkasa."
Dewi menyipitkan matanya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Maira.
"Ck ck udah di bilangin jangan bergadang. Masih aja lo begadang, kan ngantuk jadinya," omel Dewi.
"Habisnya drakor nya seru. Kalau gak di tonton gue bakalan kepikiran terus," balas Maira.
"Tetep aja jangan begadang!"
"Iya deh iya lain kali gak lagi," ucap Maira seraya membentuk dua jarinya seperti huruf v.
Dewi tersenyum senang, "Bagus bagus anak pintar. Eh btw gimana lo sama kak Raka?"
"Maksudnya gimana apanya?"
"Ya hubungan kalian?"
Maira menghela nafasnya lemah, "Ya gak gimana-gimana. Kayak biasa aja."
Dewi mengernyit, ia lebih mendekatkan tubuhnya ke arah Maira.
"Lo belum mastiin dia suka sama lo apa gak?" tanya Dewi.
"Gak ada yang beda, sama aja dia kayak biasanya," jawab Maira.
__ADS_1
"Masa sih?"
"Lagian dia kayaknya udah punya pacar deh."
"Hah? Serius? Siapa?" tanya Dewi heboh seraya menggoyang-goyangkan bahu Maira.
Maira melepaskan tangan Dewi dari bahunya, kalau begini terus kepalanya bisa pusing.
"Weh weh tenang tenang. Jangan heboh begitu dong, ntar yang lain dengar," ucap Maira.
"Iya iya. Jadi siapa?" tanya Dewi penasaran.
Maira terdiam sesaat kemudian melirik Lery yang baru saja memasuki kelas.
"Tuh orangnya," jawab Maira menunjuk Lery menggunakan matanya.
Dewi melirik ke arah pintu masuk kemudian mengernyit menatap Maira, "Si botak orangnya? Masa kak Raka pacaran dengan cowok."
"Bukan si botak juga sukinem," ucap Maira gemas.
"Ya lu bilang di situ orangnya, ada botak di situ."
"Ya di sebelahnya. Lery Lery," ucap Maira pelan.
"Hah? Lery?" tanya Dewi sedikit tidak percaya.
"Yakin lo mereka pacaran? Lo tau mereka pacaran dari mana?"
Seketika Maira terdiam, sejujurnya ia juga belum yakin kalau Lery dan Raka pacaran.
"Belum yakin sih gue. Gue cuma nebak doang hehe," balas Maira seraya terkekeh pelan.
Dewi memutar bola matanya jengah, "Dasar lo. Gue kira beneran mereka pacaran, ternyata nebak doang."
"Ya habisnya mereka pulang dan berangkat sekolah bareng. Terus kemarin Lery muji-muji kak Raka ganteng. Dia juga nyender-nyender di bahu kak Raka, tapi kak Raka nya gak marah. Terus dia juga di kasih air minum sama kak Raka. Gimana gue gak mikir mereka pacaran," jelas Maira menggebu hatinya terasa panas sekarang.
Dewi terbengong melihat Maira, baru kali ini ia melihat Maira kesal seperti itu.
"Ra," panggil Dewi.
"Apa?" tanya Maira ketus ia masih terbawa suasana.
"Lo...Lo cemburu ya?"
...🐒🐒🐒...
__ADS_1
Jam pelajaran olahraga, murid-murid kelas X IPA 1 sudah berkumpul di lapangan. Tapi hari ini ada yang berbeda, mereka di gabungkan dengan murid-murid kelas Xl IPA 1. Di karenakan pak Apri selaku guru olahraga yang akan membimbing kelas Maira tidak masuk di karenakan sakit.
Seharusnya sih Maira senang, karena bisa bertemu dengan Raka. Tapi kenyataannya ia harus melihat kedekatan Raka dan Lery. Ah ini benar-benar membuatnya galau. Lagi-lagi Maira terbawa perasaan, dasar Maira terlalu mudah menjatuhkan hati.
"Semangat dong Ra. Jangan lesu begitu. Liat gue nih semangat," seru Dewi di sela-sela kegiatannya senam seraya tersenyum ke arah Kevin yang sedang melambaikan tangannya dari tak jauh dari lapangan.
Ck pantasan saja dia semangat, kan ada samg pujaan hati yang memberi semangat. Maira melirik Lery yang sengaja senam di sebelah Raka. Mereka berdua tampak asik mengobrol. Maira mengusap wajahnya frustasi, kenapa Maira harus cemburu sih. Maira tidak suka perasaan ini, sangat menyiksa. Apalagi cemburunya dengan orang yang sama sekali bukan siapa-siapa kita.
Maira terus mengikuti gerakan senam yang di contoh kan oleh pak Aldi dengan lemah dan lesu. Untung saja guru olahraganya pak Aldi, jadi Maira bisa cuci mata hehe.
"Lemes amat mbak," tegur seseorang.
Maira sedikit terkejut mendengar suara seseorang di sampingnya dan saat ia menoleh ternyata orang itu adalah Raka.
"Eh kak Raka," Maira memaksakan senyumnya kemudian kembali menatap ke depan.
Raka mengernyitkan dahinya heran, tumben sekali Maira cuek begini. Apa dia ada berbuat salah.
"Lo kenapa?" tanya Raka.
"Gak kenapa-napa," balas Maira tanpa menatap Raka.
Raka semakin heran melihat tingkah Maira, ada apa dengan gadis ini. Padahal tujuan Raka pindah ke samping Maira, agar bisa berbicara dengan Maira. Tapi tampaknya Maira sedang marah padanya.
Maira terus menatap ke depan tanpa memperdulikan Raka yang sedari tadi memperhatikan dirinya. Padahal jantungnya dedegan sekarang, tapi ia tetap berpura-pura tenang. Ia harus menjaga jarak dengan Raka, agar perasaannya tidak terlalu dalam.
Namun nasib berkata lain, sangat-sangat tidak sejalan dengan yang Maira inginkan. Tiba-tiba Maira menginjak kakinya sendiri dan hampir terjatuh. Untungnya Raka dengan sigap menangkap tubuh Maira. Tubuh Maira membeku ketika mata mereka saling beradu. Rasanya tubuhnya tidak bisa bergerak.
Deg
Deg
Deg
Maira menggelengkan kepalanya berusaha untuk menyadarkan diri. Dan langsung melepaskan diri dari dekapan Raka.
"Ma-makasih kak upil. Udah bantuin gue," ucap Maira salah tingkah.
"Iya sama-sama," balas Raka seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jantungnya berdetak sangat kencang sekarang.
Mereka berdua sama-sama salah tingkah, dan berusaha menutupi rasa senang mereka. Pipi Maira sepertinya sudah memerah karena malu.
"Cie Maira," ledek Dewi seraya menaik-turunkan alisnya.
"Diem lu!" ucap Maira malu.
__ADS_1
Namun di balik kejadian itu ada seseorang orang yang menatap mereka tidak suka. Ya itu Lery, ia mengepalkan tangannya kesal. Menatap Maira dengan penuh kebencian.