
Waktu bergerak dengan cepat, kini Raka sudah menyelesaikan S2 nya. Begitu juga dengan Tika. Hanya tinggal Diandra yang masih menjalankan tugasnya sebagai mahasiswa kedokteran. Perubahan mulai tampak dari diri seorang Diandra. Selain lebih berisi dan kulitnya lebih terang, kini penampilan Diandra pun tak kalah modis dari gadis-gadis seusianya. Itu semua berkat Raka dan Tika yang selalu memperhatikan dirinya. Begitu juga dengan pakde dan bude yang menyayangi dirinya seperti anak kandung mereka.
Pagi itu, Diandra terburu-buru berangkat. Hari ini ada kuliah pagi yang mengharuskan dirinya datang lebih awal. Namun dirinya terlambat bangun di karenakan percakapan dengan Ferry malam tadi hingga hampir pagi. Ferry tengah berkumpul dengan teman-teman kampusnya. Namun dirinya tetap menghubungi Diandra. Mereka tak ingin jarak menjadikan hubungan mereka semakin jauh.
" Loh..kok kamu gak sarapan?"
Bude Ayu bertanya pada Dian, saat melihat gadis itu tergesa-gesa.
" Maaf bude, Dian kesiangan, gak sempat sarapan..Takut telat ke kampus."
Saat Dian akan beranjak, Raka yang baru saja turun langsung mencegah Diandra.
" Tunggu, kamu pergi sama Mas aja. Kalau kamu naik angkot, atau kendaraan umum lain, kamu pasti terlambat."
" Tapi Mas kan belum-"
" Nih, Bude udah siapin sarapan kalian di tempat masing-masing. Jangan lupa di makan. Bude gak mau kalian makan sembarangan. Apalagi kamu, Dian. Anak kedokteran kok selalu penyakitnya kambuh. Piye toh."
Dian hanya tersenyum masam. Sedangkan Raka melipat bibir nya menahan tawa. Setelah menerima bekal dan mencium tangan serta kedua pipi Bude nya, Diandra dan Raka pun berangkat.
" Kok tumben kesiangan, Dek?"
Raka semakin sering memanggil Dian dengan sebutan Dek. Sama seperti Raka memanggil Tika.
" Iya Mas. Tadi malam Ferry telepon Dian. Terus kita ngobrol sampe lewat tengah malam. Soalnya Ferry lagi ada acara bareng temen-temen kuliahnya gitu."
" Loh, lagi ngumpul ma teman-teman nya masih sempat mengubungi kamu. Sampe lama lagi, emang dia gak segan sama teman-teman nya itu."
Diandra menatap Raka sejenak, lalu menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
__ADS_1
" Acara di club' gitu, Mas. Ada beberapa temannya yang minum. Ferry menghindari itu. Jadi dia sibuk telponan aja sama Dian."
Raka mengangguk tanda paham. Namun tak lama, Raka melihat Diandra sejenak.
" Hm...Si Yana ikut acara itu juga?"
" Hm..gak tau sih Mas. Soalnya Ferry gak cerita. Lagian kayaknya gak mungkinlah Yana ikut-ikutan kayak gitu. Mana mungkin ibu ngasi dia keluar malam. Secara Yana kan anak kesayangan ibu. "
Raka melirik sekilas ke arah Dian. Kini Diandra sudah lebih bisa menerima semuanya. Bahkan saat dirinya pulang, dan ibunya mengacuhkannya pun Diandra sudah biasa.
" Iya juga ya. Yang sering di takutkan bertindak macem-macem kan kamu ya, Dek. Padahal di sini kamu gak pernah keluar malam, jangan kan malam, pulang kuliah aja kamu langsung pulang. Gak kelayaban. Tapi kok ibu kamu itu,berpikir buruk aja tentang kamu. Mas kadang rasanya gak tega ngeliat kamu di gituin sama ibu kamu."
Diandra hanya tersenyum tipis. Menatap lurus ke depan.
" Dian udah terbiasa Mas. Kalau dulu di tanya sakit gak di curigai, pasti rasanya sakit banget. Tapi sekarang Dian gak mau masukin ke hati. Walau ibu gak begitu menyayangi Dian. Dian masih dapat kasih sayang dari orang-orang di sekitar Dian. Ada Ayah, Bude, Pakde, Mas dan Mbak Tika yang peduli dan sayang sama Dian. Dian akan buktikan ke ibu, kalau Dian gak seburuk yang ibu fikirkan."
Raka menipiskan bibirnya. Senyum Dian yang berlapis dengan kesedihan dan kekecewaan membuat dirinya semakin menyayangi adik sepupunya itu. Bahkan terkadang sikap protectif dirinya sangat berlebihan kepada Diandra.
" Pegang, nanti kalau mas gak bisa jemput, kamu pulang naik taksi online. Jangan lupa sarapannya di makan."
" Tapi Dian masih ada uang dari Mas yang kemarin kok."
" Ambil aja, nanti kamu bisa beli buku atau apa lah. Tika juga sering Mas kasih. Walau dia udah kerja. Kalian adik-adik Mas. Udah sepantasnya Mas menyenangkan kalian berdua. Sebelum mas menyenangkan istri Mas nanti."
" Terima kasih, Mas."
" Hm..masuk, belajar yang giat. Jangan lupa sholat. Mas berangkat ya?"
" Iya, Mas. Hati-hati ya."
__ADS_1
Setelah itu mobil Raka pun pergi meninggalkan Dian di depan gerbang kampusnya. Lalu Diandra pun melangkah menuju fakultas tempatnya belajar.
Saat jam mata kuliah berakhir. Diandra pun pulang menggunakan taksi online sesuai keinginan Raka. Jika tidak di turuti, Raka bisa lebih cerewet dari Bude nya. Namun hari ini, perasaan Diandra sangat tidak karuan. Ada perasaan tak enak yang terus di rasakannya sejak pagi. Pikirannya selalu terbagi, antara Ferry dan Yana.
Tiba di kamarnya, Diandra menatap foto Ferry.
" Perasaan aku kok gak enak banget ya, Fer. Kamu baik-baik aja kan?"
Diandra bermonolog sendiri. Dan yang membuat Diandra semakin cemas, Ferry sejak pagi tak memberikan kabar apapun pada Diandra. Biasanya Ferry selalu mengabari dirinya. Diandra mengambil ponselnya, dan mencoba menghubungi Ferry namun nomor telepon nya tak aktif.
" Kamu kemana sih, Fer? Tumben loh, seharian ini kamu gak ngabarin aku."
Tak ingin semakin cemas. Diandra pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dirinya bertujuan untuk melaksanakan kewajibannya siang itu. Namun saat meletakan jam tangannya, tanpa terduga jam tangan itu terjatuh. Dan membuat bagian kaca dari jam tangan milik Diandra itu retak.
" Ya Ampun, kok bisa ceroboh sih aku. Jam ini kan pemberian Ferry. Hadduuuhhh...."
Setelah melihat kondisi jam tangannya. Diandra pun meletakkan kembali jam tangan itu. Dan Diandra pun melanjutkan niatnya untuk melaksanakan kewajibannya.
Setelah selesai, Diandra kembali memandangi jam tangan pemberian Ferry itu.
" Nduk, ayo makan dulu."
Bude Ayu yang masuk ke kamar Diandra pun melihat diandra yang sedang memegang jam tangan itu.
" Loh, jam kamu kenapa? Kok kacanya retak gitu."
" Jatoh Bude. Tadi Dian ceroboh waktu meletakkan nya di atas nakas. Kira -kira bisa di benerin gak ya, Bude?"
Tanya Diandra saat Bude nya memegang jam tangan itu.
__ADS_1
" Kayaknya bisa lah itu. Besok kamu bawa aja ke toko jam tangan. Sekarang makan siang dulu. kamu pasti belum makan kan?"
Diandra mengangguk. Setelah melepaskan mukenahnya, kini Diandra dan bude ayu makan bersama di meja makan. Namun Bude ayu bisa melihat, jika Diandra seperti nya sedang cemas.