
" Bu, untuk seminggu ini, Dayana tinggal di sini dulu ya. Nanti setiap harinya, Ferry akan datang. "
Mata Dayana membulat. Bukan seperti ini maksud dari Dayana.
" Hanya seminggu, Yan. Aku rasa cukup untuk menenangkan dirimu. Aku pergi dulu, ada pekerjaan yang harus aku kerjakan di bengkel. "
Ferry pun membelai kepala Yana. Dan mendaratkan kecupan di puncak kepala Yana. Membuat Dayana membulatkan matanya. Dayana masuk ke kamar yang dulu tempat dirinya dan Diandra. Keadaan kamar tidak berubah, karena Dayana yang meminta.
Bu Maya masuk ke kamar dengan membawa secangkir teh hangat untuk Dayana. Lalu meletakkan di meja yang ada di sana.
" Suamimu seperti nya sudah mulai berubah, Yan. Ibu senang, jika kalian seperti ini."
Ucap Bu Maya. Wajahnya menampilkan senyum. Lalu Bu Maya duduk di sebelah Dayana. Dan menyentuh punggung tangan anaknya itu.
" Ayah sudah cerita ke Ibu. Gak ada salahnya kalian memperbaiki hubungan ini. Apalagi ada anak diantara kalian."
" Yana akan coba Bu."
Bu Maya beranjak. Namun terhenti saat Dayana bertanya.
" Bu, apa ibu tidak merindukan Diandra?"
Bu Maya terdiam. Raut wajahnya berubah sendu. Bohong kalau dirinya tidak merindukan putrinya itu. Bagaimana pun, Diandra anak nya juga.
" Ibu rindu. Tapi ibu tidak punya keberanian untuk sekedar bertanya kabarnya. Ibu sudah sangat keterlaluan padanya."
Bu Maya berkata, sambil menahan air matanya. Lalu Bu Maya keluar dari kamar. Dayana kembali merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
Seperti pada janjinya, Ferry selalu datang setiap akan pergi, dan setelah pulang dari bengkel. Dan sudah seminggu waktu Dayana di rumah ibunya. Kini Ferry membawa Dayana menuju rumah mereka.
" Kamu pinjam mobil siapa?"
Ferry menipiskan bibirnya.
" Ini mobil kita. Aku baru membelinya. Walau pun gak baru, tapi ini masih bagus kok."
Dayana hanya ber oh saja. Dirinya tak tahu harus berkomentar apa lagi. Setibanya di rumah, Ferry langsung membawa Dayana menuju kamar nya. Membuat Dayana tertegun.
" Mulai sekarang, ini kamar kita. Barang-barang kamu juga udah aku pindahkan. Kita mulai semua dari nol. Kita bangun rumah tangga ini, dan aku berharap kita akan menjadi keluarga bahagia."
Ferry berkata sambil membelai wajah Dayana. Dayana tersenyum dan setetes air mata jatuh di pipinya. Dayana seperti mimpi, setelah dirinya menyerah, ternyata kini, Ferry mau memperbaiki rumah tangganya.
Ferry sepetinya memang serius dengan ucapannya. Pada malam hari, sebelum Dayana tidur, Ferry menyuguhkannya segelas susu. Membuat Dayana menatap penuh tanya.
" Terima kasih."
Setelah susu dalam gelas Dayana habis. Ferry pun membawanya ke dapur, dan melepaskan di wastafel. Ferry kembali ke kamar, dan melihat Dayana yang sedang memegang ponselnya. Melihat Ferry masuk, Dayana meletakkan ponsel di nakas.
" Fer, mulai besok aku kerja lagi ya? Aku udah kelamaan libur."
Namun Ferry menggeleng kan kepalanya.
" Mulai besok, kamu di rumah aja. Jangan kemana-mana tanpa aku. Kamu resign aja. Aku masih sanggup menghidupi kamu dan anak-anak kita nantinya."
Dan apa yang diminta oleh Ferry, mau tidak mau di turuti oleh Dayana. Bagaimana pun, Ferry adalah suaminya. Dan saat ini mereka sedang memulai menata kehidupan rumah tangga yang mereka jalani.
__ADS_1
Sedangkan di kota lain, Diandra masih berkutat dengan pekerjaannya. Bahkan kini, Diandra di minta untuk mengisi kekosongan dokter umum di rumah sakit pusat. Membuat Diandra menjadi bingung.
Di satu sisi Diandra senang, karena itu artinya Diandra akan bisa sering -sering bertemu dengan Ayahnya. Namun di sisi lain, Diandra masih belum bisa menerima tanggapan ibunya nanti.
Diandra masih enggan untuk mendengar ocehan ibunya, yang mengangguk Diandra ingin merusak rumah tangga saudara kembarnya itu.
Diandra menghela nafasnya. Lalu, Diandra terkejut melihat tangan mengangsurkan coklat di hadapannya. Diandra sudah tau siapa itu.
" Terima kasih."
Zaidan pun duduk di samping Diandra.
" Kenapa?"
Diandra menceritakan keraguannya. Dan Zaidan menanggapinya dengan sangat bijak.
" Bagaimana pun, itu tetap ibumu. Hormati dia."
" Tapi, Mas..."
" Mas percaya kamu gadis yang bijaksana. Dan kamu juga gadis yang kuat. Hm..."
Diandra hanya mampu mengangguk. Dan Zaidan pun lagi-lagi mampu membuat Diandra merasa tenang. Setelah selesai dengan jam kerjanya, Diandra pun segera menuju apartemen nya. Sebenernya apartemen ini milik Zaidan, laki-laki itu dengan senang hati meminjamkannya pada Diandra.
Dulu, Zaidan suka berada di apartemennya. Namun sejak dua tahun terakhir, Zaidan meminjamkan unitnya itu pada Diandra. Zaidan pulang ke rumah yang di berikan orang tuanya.
Sebenarnya, Zaidan menaruh hati pada Diandra, tapi Zaidan belum berani mengungkapkannya. Apalagi ,dulu Raka sering menemui Diandra ke rumah sakit. Namun Diandra selalu menghindar. Sejak mengetahui tentang perasaan Raka, Diandra memilih keluar dari rumah budenya, dan memilih untuk kost, dengan alasan agar lebih dekat dengan rumah sakit, ataupun klinik.
__ADS_1
Hubungannya dengan Raka pun sekarang merenggang. Diandra takut, Raka tidak dapat mengontrol perasaannya sendiri. Apalagi, keadaan mereka yang tak akan bisa bersatu. Diandra menyayangi Raka sebagai kakaknya, namun Raka menyayangi Diandra sebagai seorang lelaki dewasa.