Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 43


__ADS_3

Hari ini,.hari yang di nantikan oleh banyak perawat maupun dokter wanita yang masih single. Dokter tampan yang di gadang-gadang akan datang hari ini, membuat mereka tidak sabar untuk melihatnya. Dan saat perkenalan, ternyata membuat mereka kecewa. Yang di katakan dokter ganteng, namun ternyata uang datang seorang dokter cantik. Ya, dokter itu seorang wanita.


" Yah, gagal deh, ternyata dokter wanita."


" Iya, padahal aku udah dandan cantik."


Diandra tersenyum mendengar beberapa perawat yang berbisik kecewa saat setelah perkenalan tadi. Diandra yang sedang jaga di sana pun ikut menimpali sambil berbisik.


" Itu artinya belum jodoh."


Membuat kedua perawat itu tertawa bersama Diandra.


" Dokter bisa aja. "


" Ya udah, saya tinggal dulu ya. Mau ke pasien. Yuk sus."


Salah seorang dari mereka ikut bersama Diandra. Hari ini Diandra berkunjung ke pasien. Begitulah pekerjaannya setiap hari. Melihat dokter baru, Diandra tadinya sempat menyisip kan harapan bahwa Zaidan lah yang akan datang, namun ternyata harapannya pupus.


Saat jam kerjanya selesai, Diandra memilih duduk di taman rumah sakit. Menikmati angin yang berhembus semilir, dan memainkan rambutnya. Pandangan Diandra lurus ke depan, tanpa menghiraukan banyak orang yang lalu lalang di sana.


Diandra masih memikirkan Zaidan, mengapa lelaki itu tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Begitu banyak pertanyaan di hatinya. Yang tanpa di sadari sejak tadi ada seseorang yang ikut duduk bersamanya di sisi bangku taman.

__ADS_1


Diandra melihat ke sisi bangkunya. Melihat seorang yang tersenyum ke arahnya. Membuat Diandra ikut menipiskan bibir.


" Ternyata aku serindu itu ke kamu ya, Mas. Sampe aku berpikir, bahwa kamu ada di sini sekarang."


Diandra bermonolog sendiri. Sambil menyisipkan rambutnya.


" Aku memang disini, Di."


Suara itu sukses membuat Diandra terperanjat. Wajahnya menatap orang yang ada di sisinya itu. Alisnya menyatu. Membuat wajah Diandra tampak lucu.


" Mas Zaidan?"


" Iya, Di. Ini aku...aku disini."


" Nih...pegang, aku nyata Di. Kamu gak berhalusinasi."


Diandra pun langsung dengan cepat memukul lengan Zaidan, beberapa kali hingga Zaidan mengaduh.


" Aduh, aduh, Sakit Yang. Kok jadi kdrt gini."


Ucapnya sambil mengelus lengannya. Sedangkan masih kesal dan mencubit lengan Zaidan.

__ADS_1


" Kamu kemana aja sih, hah? Aku tuh setiap hari nelponin kamu, kirim pesan ke kamu tapi kamu gak pernah aktif? Kamu selingkuh ya? Hah??"


Ucap Diandra dengan nada kesal. Dan tangannya masih berusaha untuk mencubit Zaidan. Namun selalu di hadang oleh Zaidan.


" Ya...ya...sabar...sabar, aku jelasin. Aku jelasin. Tenangnya., tenang...oke..tarik nafas, keluarkan. Oke..udah tenang?"


Diandra menatap tajam ke arah Zaidan.


" Gini, aku kan lagi ngurus kepindahan aku ke sini, Yang. Jadi, aku sibuk. Lupa ngabarin, lupa makan, biar bisa cepat satu rumah sakit sama kamu, tapi....ada satu kejadian Yang, yang membuat semuanya berantakan."


Ucap Zaidan sambil menggenggam tangan Diandra. Sedangkan Diandra masih menatapnya serius.


" Jadi...hp aku hilang." Ucap Zaidan sambil melirik Diandra. Sedangkan Diandra masih terus diam, ingin mendengarkan semua penjelasan Zaidan.


" Dan...semua email yang ada di dalamnya, aku lupa yang..."


Ucapan Zaidan berhasil membuat Diandra menegakkan punggungnya dan kembali menatap Zaidan.


" Kan email yang ada di ponsel kamu udah kamu pindahin ke laptop."


Zaidan hanya bisa cengengesan, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


" Belum yang, belum jadi aku pindahin..." Ucapnya pelan, namun masih bisa di dengar oleh Diandra.


" Zaidaaaaaannnnnnnn......."


__ADS_2