
Ferry terbangun dari tidurnya. Bahkan dirinya terperanjat mendapati tubuhnya yang tak memakai apapun. Kepalanya pun berdenyut.
" Pasti terjadi sesuatu malam tadi, apa ..." Gumamnya.
Ferry keluar dari kamar, dalam keadaan sudah bersih. Sepertinya hari ini Ferry tidak akan ke bengkel. Ferry menuju ruang makan, makanan sudah tersedia, namun tak di dapatinya Dayana disana. Bahkan Ferry celingukan mencari keberadaan Dayana. Biasanya Dayana selalu menunggunya, walau pun sering di abaikan. Tapi pagi ini, Dayana tak menampakkan diri.
Ferry memakan sarapannya. Ferry tau, ini bukan buatan Dayana. Walau sering di abaikan, tapi Ferry tau betul rasa masakan Dayana. Ferry menyelesaikan sarapan, dan menyesap teh yang sudah berkurang rasa hangatnya.
Sampai menjelang siang, Ferry juga tidak melihat Dayana pergi tanpa berpamitan. Walau hanya melalui pesan singkat, Dayana pasti mengabarinya
" Kemana dia?" Gumam Ferry lagi.
Menjelang sore Dayana pulang dan penampilannya membuat Ferry mematung. Diam dan hanya melihat dengan tatapan yang sulit diartikan.
Dayana datang menggunakan gamis longgar dan jilbab. Serta riasan wajah yang sangat sederhana. Dayana yang menyadari Ferry menatapnya, hanya berlalu setelah mengucapkan salam. Dayana pun masuk ke kamarnya, mengganti pakaian yang lebih sederhana, namun tetap menggunakan penutup kepala. Sesuatu yang membuat Ferry terheran-heran.
Dayana tak bertanya apa pun pada Ferry. Dayana langsung menuju halaman belakang rumah mereka. Membawa pakaian yang sudah kering,dan menyimpan nya di kamar tempat Dayana biasa menyetrika. Lalu Dayana bergegas ke dapur, dan menyiapkan makan malam. Dayana sama sekali tak membuka suara.
" Dari mana aja kamu?"
Suara bariton menghentikan sejenak gerakan tangan Dayana yang sedang mengiris sayuran.
" Ikut acara ibu-ibu."
" Sampai sore? Jangan ngarang,.."
__ADS_1
" Terserah, kamu mau percaya atau enggak."
Mendengar jawaban Dayana membuat Ferry mengerutkan keningnya. Biasanya Dayana akan bercerita sendiri, tanpa harus di tanya. Namun hari ini, Dayana sangat berbeda.
Selesai menyiapkan makan malam, dan menatanya di meja makan. Dayana kembali masuk ke kamarnya. Dayana hanya membawa segelas air putih masuk bersamanya. Ferry yang melihat itu semakin mengerutkan kening. Biasanya Ferry akan selalu di panggil dan di paksa untuk makan, tapi malam ini tidak.
Ferry makan malam sendiri. Jika biasanya Dayana akan tetap menunggu sampai Ferry selesai makan , namun malam mini, Dayana tak menemaninya sama sekali. Ferry masih menunggunya hingga jam sepuluh malam, Namun Dayana tak juga keluar dari kamar.
Ferry yakin, malam sebelumnya ada sesuatu yang terjadi yang membuat sikap Dayana berubah. Ferry ingin memastikan hal itu, namun hari ini Dayana sepertinya ingin menghindar ketemu dengan Ferry.
" Besok aja lah. Aku harus memastikan semuanya."
Malam berganti pagi, saat Ferry bangun, seperti sebelumnya, sarapan sudah tersedia dan juga segelas teh hangat sudah tersedia disana. Namun Dayana tak ada disana. Sepertinya hari ini pun Dayana tak ingin bertemu dengan Ferry.
Pagi ini, Ferry bangun lebih awal, masih di temukan Dayana yang sedang menyiapkan sarapan. Saat mata mereka bertemu, Dayana langsung ingin pergi, namun cekalan tanga Ferry di lengannya membuat Dayana terhenti.
" Cukup, hentikan sandiwara mu, Yan."
Dayana mengerutkan alisnya.
" Maksudmu?"
Ferry tertawa mengejek.
" Apa kamu kira dengan caramu ini aku akan bersimpati, menghindar. Dan..."
__ADS_1
Ferry memandang Dayana dari atas sampai ke bawah. Dan lagi-lagi tawa meremehkan itu keluar.
" Apa kamu kira, dengan kamu berpakaian seperti ini aku akan terpesona dan terpengaruh? Sama sekali enggak."
Dayana menatap Ferry dengan mata yang berkaca-kaca.
" Terserah, aku hanya ingin menuju kebaikan.Bukan untuk mu, melainkan untuk diriku."
Dayana melenggang pergi, namun lagi-lagi lengannya di cekal oleh Ferry.
" Apa yang terjadi diantara kita malam itu? Apa kau merayuku?"
" Yang terjadi malam itu, memang yang seharusnya terjadi, tapi buka aku yang merayu, melainkan kamu yang memaksa."
" Jangan pernah bohongi aku lagi, Yan."
Ferry tampak menahan emosinya.
" Terserah. Lepaskan."
Dayana pun masuk kembali ke kamarnya. Sedangkan Ferry mengepal kan tangannya.
" Sial..."
Ferry meninju udara. Untuk meluapkan amarahnya. Sedangkan Dayana hanya bisa meneteskan air mata. Sakit, hanya rasa itu yang di rasakannya.
__ADS_1