
Hari ini, Diandra berencana mengenalkan Zaidan kepada Ayahnya. Selama ini, baik Diandra ataupun Pak Bayu, sering bertemu diluar. Atau kadang, Pak Bayu datang ke kost Diandra.
Sore ini, rencananya Diandra akan membawa sang Ayah ke satu restoran keluarga. Tempatnya lebih santai dan lebih sejuk. Sementara Zaidan sudah menunggu disana.
Diandra datang dan langsung menuju meja yang sudah di pesan oleh Zaidan sebelumnya. Zaidan bangkit dari duduknya, saat melihat Diandra datang bersama seorang lelaki, yang di yakini oleh Zaidan adalah ayahnya.
" Assalamualaikum, Om."
Ucap Zaidan sambil menjulurkan tangannya. Menyalami tangan Pak Bayu. Zaidan duduk berhadapan dengan Pak Bayu. Tak lama, makanan yang di pesan mereka pun datang. Pak Bayu dan Zaidan serta Diandra menyantap makanan yang ada di hadapan mereka.
Pak Bayu dan Zaidan berbincang secara ringan, sampai pada akhirnya, Zaidan memberanikan diri membicarakan keinginan Zaidan yang ingin serius terhadap Diandra.
" Om, saya sebenarnya ingin meminta restu Om untuk hubungan saya dan Diandra. Saya ingin membawa hubungan ini ke arah yang lebih serius."
Diandra diam, sedangkan Pak Bayu tampak sedikit terkejut dengan apa yang di ungkapkan oleh Zaidan.
" Sebagai seorang ayah, saya senang, karena akhirnya Dian bertemu dengan lelaki yang bisa menyayanginya."
Ucap Pak Bayu. Sedangkan Diandra menipiskan bibirnya.
" Saya hanya minta, jika kamu serius, datanglah ke rumah, bersama orang tuamu, dan minta lah Diandra dengan baik."
Zaidan mengangguk secara mantap. Sedangkan Diandra, menegakkan tubuhnya. Dan menatap Ayahnya.
__ADS_1
" Yah .."
Pak Bayu memegang tangan Diandra.
" Pulanglah, Nak. Kamu masih punya ayah dan ibu. Ibumu juga merindukanmu,percayalah. Jauh di lubuk hatinya, Ibumu sangat merindukan,dan menyayangi mu."
Tak lama, Pak Bayu pun pergi meninggalkan restoran itu. Diandra dan juga Zaidan masih berada disana. Zaidan dapat melihat ekspresi kecewa dari Diandra.
" Kamu marah sama Ayah? Karena minta kamu untuk pulang?"
Diandra menatap Zaidan, lalu menggeleng.
" Aku belum siap untuk pulang, Mas. Rasanya masih.."
" Mas tau. Kita akan menikah, Di. Dan mas ingin, kita menikah dengan restu kedua orang tua kita. Coba kamu tanya hati kamu, apa kamu gak kangen dengan ibumu? Mas yakin, ibu juga pasti kangen sama kamu."
Diandra menghela nafasnya.
Suara Diandra sedikit meninggi. Membuat Zaidan menatap dalam ke arah Diandra. Setelah itu, Diandra sadar, tak seharusnya dirinya meninggikan suara di hadapan Zaidan.
" Maaf, Mas...aku permisi."
Diandra menyambar tas nya lalu pergi meninggalkan Zaidan. Zaidan yang melihat Diandra pergi, langsung mengejarnya, Diandra pergi dengan taksi yang sudah ada di dekat restauran.
__ADS_1
Zaidan mengejar Diandra, sampai Zaidan menggedor jendela bagian belakang, di mana Diandra duduk. Air mata Diandra jatuh, namun di biarkannya saja. Bahkan Diandra tak meminta sopir taksi itu untuk menghentikan kendaraan nya.
Dalam pikiran Diandra selalu terbayang saat dirinya selalu di bedakan. Semua bayangan itu berputar. Semakin membuat sakit di dada Diandra.
Diandra tak memberitahukan kemana dirinya akan pergi. Melihat Diandra yang hanya menangis di dalam taksinya, sopir itu pun hanya membawa Diandra berkeliling.
Saat di lihatnya Diandra sudah lebih tenang, supir itu pun menanyakan kemana mereka akan pergi. Diandra menyebutkan satu alamat. Dan disini lah dirinya saat ini berada.
Diandra menyendiri di danau yang selalu di jadikannya tempat menenangkan diri. Suasana Danau yang sejuk, dan juga semilir angin membuat Diandra merasa tenang.
Disana Diandra cukup lama. Saat Diandra ingin pergi dan berbalik, Diandra terkejut, melihat taksi dan pak sopir nya masih berada di tempat itu. Sopir taksi yang berusia enam puluh tahun itu tampak masih berdiri di dekat mobilnya. Dan melihat Diandra dari jarak yang tak begitu jauh.
" Bapak masih disini? Bayaran saya kurang ya, Pak?"
Diandra dengan cepat, merogoh tas dan mengeluarkan dompet nya. Untuk membayar sopir tua itu.
" Tidak...tidak, bayaran yang Neng beri sudah sesuai. Bapak hanya ingin menemani Neng saja."
Alis Diandra tertaut. Sedangkan pak sopir itu hanya tersenyum.
" Saya hanya mengkhawatirkan keadaan Eneng saja. Kalau begitu, mari kita pulang, Neng. Selesaikan masalah yang Neng hadapi dengan kepala dingin. Dan keluarga adalah tempat kita pulang."
Diandra menghela nafasnya. Lalu ikut kembali ke dalam taksi. Diandra tiba di kost an saat menjelang malam. Diandra pun kembali memberikan sejumlah uang untuk sopir itu. Namun bapak itu menolak.
__ADS_1
" Neng, ingat satu hal. Apapun masalah kita. Jangan pernah tinggalkan Tuhan."
Diandra mengangguk, dan berterima kasih. Lalu keluar dari taksi, saat melangkah masuk, Diandra melihat mobil Zaidan sudah ada di sana.