Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 41


__ADS_3

Diandra mulai bertugas di rumah sakit. Dan saat ini, Dayana juga akan memeriksakan kehamilannya di rumah sakit yang sama. Dayana tampak duduk sendiri disana. Tanpa ada yang menemani.


" Yana..." Gumam Diandra


Diandra mendekati Dayana dan menyapanya.


" Yan, kamu datang sendiri?"


Yana yang akan menjawab pertanyaan Diandra terhenti saat mendengar suara bariton dari arah belakang Diandra.


" Yan, maaf aku terlambat. "


Diandra kenal suara itu. Suara yang kenal suara itu hanya diam dan menatap Dayana. Dayana sedikit menundukkan wajahnya. Lalu tangan Diandra menyentuh bahu Dayana. Senyuman terbit di bibir Diandra.


" Kamu sama siapa, Yan?" Kembali Ferry bertanya pada Dayana. Dan Diandra pun langsung membalikkan badan. Lalu tersenyum ke arah Ferry.


" Dian..."


" Hai, udah lama gak ketemu. Selamat ya, sebentar lagi kamu jadi Ayah."


Ucap Diandra sambil menjulurkan tangan ke arah Ferry. Ferry menatap Dayana dan Diandra. Ada gurat bingung di wajahnya.


" Di....iya... makasih..."


" Yan aku balik ke ruanganku dulu. Jaga kandungan kamu ya."

__ADS_1


Diandra hendak pergi meninggalkan Dayana dan Ferry.


" Di...kamu...maaf..."


Ucap Dayana dan menundukkan wajahnya. Diandra berbalik dan memeluk Dayana.


" Gak perlu minta maaf. Aku bahagia, akhirnya kalian bisa bersama. Jaga kesehatan kamu, ingat ada calon keponakan aku di dalam perut kamu."


Ucap Diandra saat memeluk Dayana. Air mata Dayana jatuh. Hatinya merasa lega. Dayana bahkan tak hentinya mengucapkan terima kasih. Akhirnya Diandra kembali ke ruangannya. Menyisakan Dayana dan Ferry disana. Ferry tampak diam sejak berlalunya Diandra dari hadapan mereka.


Saat nama Dayana di panggil, barulah Ferry sadar dari lamunannya. Dayana tak menyalahkan Ferry yang sedari tadi diam. Bahkan saat dokter menerangkan kondisi Dayana pun, Ferry lebih banyak diam. Hanya Dayana yang memperhatikan.


Selama perjalanan pulang dari rumah sakit ke rumah mereka, Ferry lebih banyak diam. Sedangkan Dayana tak ingin mengganggu Ferry. Dayana hanya mengelus perutnya yang masih rata. Melihat pergerakan lamban tangan Dayana di perutnya, Ferry akhirnya bertanya.


Dayana hanya menggeleng. Lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ferry yang merasa perubahan sikap Dayana akhirnya menghela nafas.


" Maaf, Yan..."


" Gak apa-apa."


Setelah itu, mereka pun kembali hening. Setibanya di rumah, Dayana pun segera membersihkan diri, dan langsung menuju dapur. Dayana berniat untuk membuat makan siangnya sendiri. Sedangkan Ferry kembali meninggalkan rumah, saat Dayana sudah masuk.


Dayana bergelut dengan pikirannya sendiri, sampai saat tangannya teriris barulah Dayana menyadari. Sayatan luka itu memang tak besar, namun berhasil membuat Dayana mengaduh dan merasakan perih saat membersihkannya di wastafel.


Tak lama, Ferry pun kembali dan membawa kantongan berisi makan siang mereka. Ferry langsung berlari ke arah Dayana saat melihat Dayana memegang tangannya dan meringis menahan perih.

__ADS_1


" Kamu kenapa?"


Ferry langsung menarik tangan Dayana dan mengeringkannya dengan tissu yang ada di sana. Melihat kondisi dapur, Ferry meyakini jika Dayana akan memasak makan siang.


" Kamu gak usah masak, Yan. Aku pergi beli makan siang untuk kita. Tadi nya aku mau bilang ke kamu, cuma aku lihat kamu langsung masuk kamar."


Dayana cuma diam memperhatikan Ferry yang sedang mengeringkan tangannya dan menjelaskan kemana dirinya. Ferry masih terus meniup tangan Dayana yang tengah di beri obat merah oleh Ferry. Lalu menempelkan plester.


" Kenapa? Kok kamu ngeliatin aku sampe kayak gitu?"


" Fer...aku kira kamu..."


" Jangan berpikir yang macem-macem. Ingat kamu gak boleh capek, dan banyak pikiran. Sekarang kita makan, setelah itu kamu istirahat."


Ferry mengajak Dayana duduk di meja makan. Ferry membuka sebuah bungkusan yang berisi ayam bakar. Dan seporsi bebek rica-rica. Serta capcay. Ferry meletakan nasi di piring Dayana dan mengisinya dengan sayur dan lauk yang di bawanya.


" Fer, ini kebanyakan."


Dayana protes. Melihat isi piring nya.


" Kamu harus banyak makan. Setelah ini nanti aku kupasin buah untuk kamu. Kamu mau makan buah apa?"


" Nanti aja, Fer. Liat isi piringku aja aku udah kenyang duluan."


Ferry tertawa. Dan saat mereka mulai makan, Ferry memperhatikan Dayana yang sedang mengunyah. Walau Dayana bilang itu kebanyakan, tapi Dayana tetap lahap memakan itu semua.

__ADS_1


__ADS_2