
Kedua sahabat Diandra itu pun saling melempar celotehan yang membuat Diandra tertawa. Andra yang bergabung dengan mereka pun ikut tertawa.
Satya dan Alisha memang selalu begitu, mereka terkadang sangat akur, namun tak jarang juga saling bertengkar.
" Udah ..udah, kalian ini dari dulu selalu aja berantem . Ntar jodoh loh."
Diandra menengahi kedua sahabatnya itu.
" Ih... amit-amit jadian sama ni kentongan ronda. Mending gue jomblo deh."
" Dih...sapa juga yang mau sama Mak lampir kayak kamu. Aku Yo ogah."
Kedua manusia ini masih saja ribut. Namun itulah yang membuat mereka saling merindukan. Mereka menghabiskan waktu dengan saling bertukar pengalaman dan cerita. Tak jarang mereka saling bercerita tentang masa lalu.
Sedangkan Andra memilih untuk kembali ke mejanya. Dia harus membantu karyawan yang lain untuk membuat pesanan. Walau Andra pemilik cafe itu, tapi Andra tak berpangku tangan saja.
" Jadi sekarang kamu sudah disini, Di? Wehhh...aku Yo seneng banget, kalo aku sakit, ada orang yang nolongin, gratis lagi."
Ucap Satya saat mereka tengah menikmati makan malam di cafe itu. Dan tentu saja, ucapan itu di bantah langsung oleh Alisha.
" Enak aja gratis. Ya bayarlah. Percuma pengusaha, tapi berobat aja minta gratisan. Gak malu Lo?"
" Lah...aku kan masih merintis to Al. Ya ndak apa-apa kan. Lagian Diandra itu kan temen kita. Moso dia tega minta bayaran."
Lagi-lagi Diandra menggeleng sambil tersenyum.
" Udah gak usah ribut."
"Di, kemarin aku ketemu loh sama Ferry. Waktu itu aku jumpa dia di rumah sakit. Kalo gak salah istrinya lagi sakit."
Diandra menghentikan suapannya. Sedangkan Alisha memberikan kode pada Satya melalui mata gerakan mata, dan ekspresi wajah.
" Hm..maaf Di. Bukan maksud aku...aku...tadi..."
" Gak apa-apa kok, Sat. Lagian aku sama Ferry kan emang udah lama berakhir. Cuma aku gak tau, kalo Yana di rawat. Cuma yang aku tahu, Yang saat ini sedang hamil."
Satya dan Alisha saling pandang tak percaya. Diandra tahu Dayana hamil. Melihat ekspresi kedua temannya, membuat Diandra akhirnya menceritakan kejadian saat Dayana datang menemuinya.
__ADS_1
" Kamu yakin, Di. Kalau Yana itu memang tulus. Ya, maaf ni, Dayana kan berubah jadi ratu drama saat kuliah dulu."
" Aku yakin sih, Al. Aku liat ketulusan dan penyesalan di sorot matanya. Lagian, mau sampai kapan aku menyimpan marah dan kecewa sama saudaraku sendiri, Al. Dayana satu-satunya saudara kandungku."
Alisha mengangguk. Bersamaan dengan Satya yang menggaruk pelipisnya.
" Kalau memang gitu, kenapa kamu gak pulang ke rumah orang tuamu aja, Di? Kamu kok milih nge kost?"
Satya bertanya.
" Aku belum siap ketemu ibu, aku gak tau reaksi ibu gimana kalau ketemu aku. Aku takut di tolak . Sakit rasanya di tolak ibu sendiri, Sat."
Ucap Diandra dengan mata yang berkaca-kaca. Kejadian berapa tahun silam masih terngiang, saat lebaran ibunya mengatakan dan meminta Diandra tidak menjadi duri dalam pernikahan saudaranya.
Melihat Diandra yang bersedih, Alisha dan Satya kembali menghiburnya. Menciptakan senyum di wajah Diandra malam itu. Entah sampai pukul berapa mereka berkumpul malam itu, yang jelas, cafe Andra sampai sunyi dan mereka baru pulang ke kediaman masing -masing. Dan tentu saja Alisha siap menghantarkan Diandra kembali ke kostnya.
Diandra masuk ke kamar kost dan membersihkan diri. Kamar kost nya sangat nyaman. Dan memiliki kamar mandi sendiri di dalam kamar. Sedangkan untuk dapur ada di belakang, dan bisa di gunakan oleh para penghuni kost-kostan.
Diandra keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri dan berganti pakaian. Lalu menghubungi Zaidan. Panggilan Diandra pun langsung di jawab oleh lelaki yang kini sudah menjadi kekasih nya itu.
" Mas belum tidur?"
Diandra mengangguk. Sedangkan di sebrang sana, Zaidan mengerutkan keningnya.
" Maaf, tadi bertemu Satya. Akhirnya kita lupa waktu. Maaf ya. Mas jangan marah."
" mas gak marah, Sayang. Cuma kamu kan baru aja sampe. Kenapa gak istirahat dulu."
" Aku kangen mereka, Mas. Jadi lupa waktu."
Zaidan menghela nafasnya.
" Kalo sama Mas. Kamu kangen gak?"
Wajah Diandra memerah malu. Dirinya ingin sekali berkata bahwa dirinya pun kangen pada lelaki yang dekat dengannya sejak dua tahun lalu itu, tapi rasa malu menahan Diandra untuk berbicara. Walau Diandra tak menjawab, namun Zaidan dapat melihat ekspresi wajah Diandra. Tentu saja saat ini mereka sedang dalam mode panggilan video.
Setelah mereka bertukar cerita, Diandra pun mengakhiri panggilan nya. Dan membuat Diandra senyum-senyum sendiri di kamarnya. Bahkan ucapan Zaidan masih terngiang di telinga Diandra.
__ADS_1
" Selamat tidur, Sayang. Mimpikan mas malam ini ya. Dan semoga malam-malam berikutnya, mas bisa tidur berdampingan dengan kamu. Setelah kita menjadi halal."
Diandra tersenyum mendengar ucapan Zaidan malam ini. Pasalnya selama mengenal Zaidan. Zaidan tak pernah membual seperti ini.
" Gombal..." Gumam Diandra setelah meletakkan ponselnya di nakas. Dan menarik selimut sampai ke dada. Diandra pun memejamkan mata, menjemput mimpi.
Sedangkan di tempat terpisah, Dayana kini gelisah. Bahkan dari tadi, Dayana terus bergerak ke kanan dan ke kiri. Membuat Ferry yang ada di sampingnya membuka mata.
" Kenapa, Yan?"
Tanya Ferry dengan suara serak khas bangun tidur. Bahkan mata Ferry tampak memerah. Melihat Ferry yang terbangun, membuat Dayana tak enak.
" Maaf, Fer. Aku ganggu tidur kamu ya."
Ferry menggeleng. Lalu menarik tangan Dayana, yang saat ini menegakkan tubuhnya.
" Ada apa? Perut kamu sakit?"
Dayana menggeleng. Namun Ferry dapat melihat Dayana yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
" Kenapa, Yan. Bilang aja. Kamu jangan ragu."
" Hm...aku...aku...pingin makan nasi goreng."
Ucap Dayana pelan. Lalu Ferry tersenyum. Dan menatap jam di dinding kamar mereka.
" Kamu ngidam, yaudah aku ganti baju dulu, nanti aku keluar cari nasi goreng untuk kamu. Kamu di jangan ikut. Angin malam gak baik untuk kesehatan kamu."
Belum selesai Dayana bicara, Ferry sudah lebih dulu bangkit dari ranjang, menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ferry keluar dari kamar mandi,dan mengambil kaos serta celana panjang. Lalu tersenyum ke arah Dayana yang kini duduk di tepi ranjang.
" Aku keluar sebentar ya."
Ucap Ferry sambil meraih dompet dan kunci mobilnya. Dayana bangkit dan menahannya.
" Fer...aku mau nasi goreng buatan kamu, bukan yang beli diluar. "
Seketika Ferry mematung sambil menatap Dayana. Sedangkan Dayana meremas ujung piyamanya. Dan menunduk. Melihat reaksi Ferry, Dayana pun memutar tubuhnya sambil berkata.
__ADS_1
" Maaf Fer. Kalo gitu, gak usah aja. Aku tidur aja."