Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 9


__ADS_3

Waktu bergerak dengan cepat, kini sudah satu semester Dian menjalani hari nya sebagai mahasiswa. Apalagi Dian masuk ke fakultas kedokteran seperti keinginannya. Kini Dian tengah menikmati liburan semester. Dirinya berencana akan pulang ke rumahnya. Bagaimana pun rumah adalah tempat yang paling di rindukannya. Terutama pada Ayahnya. Dan juga kekasihnya. Selama ini, Dian dan Ferry hanya berjumpa via suara ataupun panggilan video.


Bus yang menghantarkan Dian pulang ke kotanya, sudah tiba di terminal. Tidak ada satu pun yang menjemput Dian di sana. Padahal Diandra sudah mengatakan pada Ayahnya, kalau dirinya akan pulang hari ini. Diandra menghela nafas, dan harus rela bersabar, karena dirinya tahu, pasti Ayah dan ibunya sibuk di toko mereka.


Diandra tiba di rumah siang hari. Diandra yang masih memegang kunci sendiri pun langsung masuk ke dalam rumah. Diandra masuk ke kamar yang di huninya bersama saudara kembarnya, Dayana. Lalu merebahkan diri di atas kasur. Belum lama, Diandra mendengar suara motor berhenti di halaman rumahnya.


" Maaf ya, Fer. Karena nolongin aku, kamu jadi gak bisa jemput Dian."


Diandra mengenal suara itu. Itu suara Dayana. Tapi kenapa bisa bersama Ferry? Pertanyaan itu berada di benak Diandra.


" Gak apa -apa. Kesehatan kamu lebih penting."


Dayana hanya mengangguk sambil tersenyum. Diandra yang menyaksikan itu, hanya bisa mengerutkan keningnya. Lalu Diandra pun membuka pintu kamar, dan langsung berjalan ke ruang tamu. Diandra hanya duduk, sambil memperhatikan mereka berdua dari dalam. Tak lama, Ferry pun pergi. Sedangkan Dayana tampak sumringah dan melangkah ke dalam rumah.


Saat Dayana masuk, sambil bersenandung, tanpa sadar jika ada Diandra di sana.Diandra hanya memperhatikan. Setibanya Dayana di dalam kamar, barulah Diandra ikut masuk. Dayana masih tersenyum sendiri di dalam kamar.


" Sekarang kamu akrab dengan Ferry?"


Pertanyaan dari Diandra sontak membuat Dayana terkejut. Bahkan Dayana sempat memegang jantungnya sejenak. Dayana tampak sedikit gelagapan, dan gugup saat menjawab pertanyaan dari Diandra.


" Hm...Dddiiiaann, ssejjaakk Kappan kamu datang?"


" Sejak tadi, dan sejak tadi juga melihat kamu Deket sama Ferry. Kalian ada hubungan?"


Dayana membulatkan matanya. Lalu menggeleng.


" Engga kok...dia cuma bantuin aku aja tadi. Aku hampir pingsan di kampus tadi."


Diandra semakin mendalam kan kerutan di keningnya.


" Kalian satu kampus? Bukannya kamu mau kuliah di tempat yang paling bagus ya di kota ini?"


" Iiitu...aakkku..."


Belum selesai jawaban Dayana, suara salam mengalihkan perhatian mereka. Diandra langsung melangkah ke arah pintu, karena Diandra hafal betul dengan suara itu. Suara dari cinta pertamanya, suara dari pak Bayu, ayah mereka.

__ADS_1


" Assalamualaikum,.."


" Waalaikum salam, Ayah....Dian kangen..."


Dian langsung memeluk Ayahnya. Dan di sambut dengan pelukan hangat dari Ayahnya. Bahkan Pak Bayu mendaratkan kecupan di pucuk kepala Dian.


" Ayah juga kangen sama kamu, Nak. Kamu sehat kan? "


Diandra mengangguk. Lalu Dayana pun datang menghampiri dan mencium tangan Ayahnya.


" Ayah pulang mau ambil makan siang?"


Pak Bayu menggeleng.


" Ayah mau makan siang sama anak-anak Ayah."


" Ibu mana yah?"


Diandra celingukan melihat ke arah luar. Mencari sosok wanita yang melahirkannya ke dunia.


Ada semburat kekecewaan di hati Diandra. Bahkan setelah enam bulan tidak bertemu pun, ibunya tak antusias melihat dirinya pulang setelah enam bulan tak ada di rumah ini.


" Sudah, gak usah sedih. Makan malam nanti kan bisa ketemu ibu."


Pak Bayu membawa Dian dan Yana ke dapur. Mereka bertiga makan dengan menu sederhana. Namun Dian sangat bahagia, karena ini adalah masakan ibunya.


Setelah makan siang, dan bertukar cerita sejenak, akhirnya Pak Bayu kembali ke toko. Kini hanya tinggal Dian dan Yana di rumah itu. Diandra melihat sekeliling dapur, ada yang berbeda di sana. Sebuah mesin cuci kini sudah menghiasi dapur mereka. Jika dulu, Dian lah yang bertugas untuk mencuci pakaian mereka semua. Namun sekarang, mesin itulah yang melakukannya.


Dulu pak Bayu selalu membujuk istrinya untuk membeli mesin itu, namun Bu Maya selalu beralasan jika menggunakan mesin maka hasil cucian nya tidak akan sebersih memakai tangan. Tapi kini, mereka memakai itu.


Sore hari, pak Bayu dan Bu Maya pulang. Diandra sudah menyiapkan makan malam seperti biasa. Namun tanggapan Bu Maya membuat Diandra sedih. Wanita yang menghadirkannya ke dunia itu hanya menatap datar makanan di meja. Bahkan tak ada peluk hangat dari seorang ibu yang telah berpisah beberapa bulan dengan anaknya.


Mereka makan malam dengan sesekali pak Bayu menanyakan perkuliahan Diandra disana. Namun Bu Maya sama sekali tak merespon. Sedangkan Yana hanya tersenyum tipis.


Setelah makan malam, Dian yang tampak rapi sedang menunggu kedatangan Alisha ke rumahnya. Mereka berencana akan nongkrong di cafe Bang Andra malam ini. Setelah menunggu sepuluh menit, Alisha pun datang bersama Satya. Mereka bertiga pun langsung pergi ke cafe Bang Andra.

__ADS_1


Melihat mereka datang, Andra pun dengan antusias menyambut mereka.


" Apa kabar, Di?"


" Alhamdulillah sehat bang. Makin rame aja ya bang cafenya."


" Alhamdulillah....ayo kita cari tempat, biar enak ngobrolnya. Tenang aja, malam ini Abang yang traktir kalian. Kalian bebas mau pesan dan makan apa aja."


Ucap Andra yang di sambut sorak bahagia dari ketiganya. Kini mereka tengah duduk di salah satu sudut cafe milik Andra.


" Bang Andra udah selesai kuliahnya?"


" Tinggal nunggu wisuda aja, Di. Doain ya, semoga tahun ini Abang bisa segera lulus S2."


" Aamiin..."


Ucap mereka bertiga serentak. Setelah itu, tampak Ferry yang jalan menuju mereka.


" Hai...kalian kenapa gak bilang kalau malam ini nongkrong disini."


Ferry langsung protes dan mengambil duduk tepat di samping Diandra. Diandra hanya melihat sekilas lalu membawa pandangan nya ke arah lain.


" Di, maaf ya. Tadi siang aku..."


" Iya, Gak apa-apa."


Lalu mereka pun saling bertukar cerita. Namun Alisha dan Satya dapat merasakan ada yang tam beres dengan Diandra dan juga Ferry. Beberapa kali Satya memberikan tatapan isyarat pada Ferry, namun Ferry hanya menjawab dengan gelengan kecil. Dirinya juga bingung melihat Diandra yang tampak acuh padanya.


Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, mereka berempat pun akhirnya berpamitan pada Andra. Setelah mengucapkan terima kasih sebelumnya.


" Di, tunggu. Kamu pulang bareng aku."


Ucap Ferry saat mereka sudah berada di parkiran cafe.


" Iya, Di. Sebaiknya kamu pulang bareng Ferry aja ya. Kayaknya kalian butuh waktu berdua deh."

__ADS_1


Diandra pun menghela nafas dan mengangguk. Memang saat ini dirinya tengah merasakan cemburu melihat kedekatan antara Dayana dan Ferry siang tadi.


__ADS_2