
Dua bulan berlalu sejak kejadian malam itu, dan tak terasa Dayana juga sudah hampir bekerja sebulan di mini market itu. Hari ini Dayana merasa sangat lelah. Tubuhnya seperti tidak berenergi. Dan sampai saat ini pun, Dayana masih berbicara seperlunya dengan Ferry.
" Kamu kenapa, Yan. Sakit? Wajah kamu pucat, dan kamu kelihatan lesu banget."
Susi tampak memperhatikan wajah Dayana.
" Gak tau ni, Mbak. Mungkin masuk angin. Badan ku rasanya gak enak banget. "
" Kalau sakit, mending istirahat dulu. Nanti kerjaannya di sambung lagi. Atau kamu izin aja dulu. Lagian hari ini gak ada barang masuk kan?"
" Emang boleh, Mbak."
" Ya boleh lah."
Setelah izin pada sang pemilik mini market, akhirnya Dayana pun pulang. Di sepanjang jalan menuju rumahnya, Dayana merasa sangat mual. Sampai akhirnya, Dayana memuntahkan seluruh isi perutnya setibanya di rumah.
Tubuh Dayana lemas. Namun Dayana tetap berusaha berjalan ke kamarnya. Dayana merebahkan diri di kasur, dan memandang ponselnya. Untuk meredakan rasa pusing dan mulanya, Dayana mengoleskan minyak kayu putih di kening dan juga perutnya.
Dan entah mengapa, rasa rindunya pada saudara tidak dapat di bendung, jika selama beberapa tahun ini, Dayana hanya mampu memandangi foto serta melihat postingan Diandra melalui sosial media, tapi hari itu , Dayana merasa sangat ingin mendengar suara Diandra.
Dayana mendial nomor Diandra. Namun tidak berhasil, karena Diandra masih memblokirnya. Namun Dayana tak hilang akal, Dayana mencoba menghubungi melalui nomor lain. Dayana sengaja memakai nomor lain, agar Diandra mau menjawab panggilannya.
Dan benar saja, Diandra menjawab panggilan Dayana saat itu. Air mata Dayana jatuh seketika. Agar Diandra tak mendengar suara tangisannya, Dayana menutup rapat bibirnya, dan menutup nya dengan tangan.
Tak lama Diandra pun mematikan panggilan, karena merasa tak mendengar suara siapapun. Tubuh Dayana luruh bersama air mata nya juga. Rasa sesal menyelimuti hatinya, begitu tega dirinya pada saudara kandung nya itu.
Dayana menangis, hingga tak tertidur. Ferry baru saja pulang, dan mendapati rumahnya tak terkunci mengerutkan keningnya.Dengan segera Ferry masuk ke dalam rumah. Melihat isi rumah masih sama seperti saat di tinggalkannya lagi tadi , Ferry pun membuka pintu kamar Dayana.
Ferry melihat Dayana yang meringkuk di balik selimut. Dan juga melihat wajah Dayana yang pucat. Ferry mendekat dan mendaratkan punggung tangannya pada dahi Dayana. Membuat Dayana terbangun. Lalu mendudukkan tubuhnya.
__ADS_1
" Kamu sakit?"
" Gak apa-apa, cuma masuk angin."
Ucap Dayana parau. Lalu matanya menatap ke arah jam yang ada di dinding kamarnya.
" Aku masak makan malam dulu "
Ferry mencekalnya.
" Gak usah masak. Nanti aku pesan makanan aja. Kalau kamu sakit, istirahat. Aku mau mandi dulu "
Dayana menatap punggung Ferry yang keluar dari kamarnya. Selama dua bulan ini, sikap Ferry sangat berbeda.
Saat makan malam, Ferry melihat Dayana yang makan dengan tidak semangat. Nasi yang sangat sedikit di piringnya hanya mampu di telan dua sendok. Selebihnya, Dayana hanya diam. Melihat itu, Ferry menatap Dayana.
" Kamu gak suka makanannya? Mau aku pesankan makanan lain? Atau mau-"
" Kenapa kamu berubah. Tolong kembali menjadi Ferry yang selama ini aku tau."
" Yan, aku gak paham maksud kamu."
Dayana mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
" Tolong kembali menjadi Ferry yang gak pernah memperdulikan aku. Jangan membuat aku semakin merasa bersalah, Fer."
Ferry menghela nafasnya. Lalu menunduk.
" Yan, selama ini aku mulai berpikir. Kamu memang salah-"
__ADS_1
" Maka dari itu, Fer. Tetaplah menjadi Ferry yang aku tau. Karena semakin kamu baik, maka aku takut, akun akan semakin sakit."
Dayana pergi setelah mengatakan isi hatinya. Meninggalkan Ferry yang masih terdiam di meja makan. Ferry sudah mulai membuka dirinya untuk Dayana. Ferry mulai berdamai, dengan menerima Dayana menjadi istrinya. Dan berusaha mempertahankan rumah tangganya.
Kejadian di malam itu, membuat Ferry juga merasa sebagai suami brengsek. Meminta hak nya dengan cara paksa. Dan dalam keadaan setengah sadar. Ferry ingin memperbaiki semuanya. Tapi saat ini, Dayana hanya ingin menjauh darinya.
Malam itu di lewati oleh Ferry tanpa memejamkan mata. Matanya menatap langit-langit kamar. Lalu mengambil foto yang selama ini di simpan di dalam dompet. Foto Ferry bersama Diandra. Foto lama , foto waktu zaman mereka masih bersama.
" Di, maafin aku, ternyata aku mulai jatuh cinta sama saudara kamu. Aku gak tau kapan cinta itu hadir, tapi yang jelas, saat Dayana keluar dari kamar ini, dan memilih tidur di kamar terpisah, aku marah Di. Saat Dayana ingin bercerai dari aku, aku pun marah Di. Aku brengsek ya, Di. Aku sudah mengecewakan kamu, dan kini, aku jatuh cinta sama kembaran kamu, yang juga istriku. Semoga kamu sekarang bahagia ya, Di."
Ferry berbicara sendiri sambil memandangi foto usang itu. Ferry pun menegakkan tubuhnya, dan menyobek foto yang selama ini mengisi dompetnya itu. Baginya saat ini, tujuan utamanya adalah memperbaiki rumah tangga yang sudah sangat tidak sehat ini.
Ferry membuka album yang selama ini tak pernah di lihatnya. Album pernikahan Dayana dan dirinya. Disana, Ferry mengambil satu foto Dayana sendiri. Lalu memotong dan membuat foto itu bisa di simpan di dalam dompetnya.
Sedangkan Dayana di dalam kamar,menangis, dan mencoba menghubungi Diandra. Namun nomor itu tidak aktif, Dayana yakin, saat ini Diandra pasti sudah memblokir nomornya lagi.
Kepala Dayana semakin pusing. Dan dirinya berencana akan menemui Diandra dalam waktu dekat ini, Dayana harus meminta maaf secara langsung. Bahkan jika Diandra tak memaafkannya, Dayana akan melakukan apapun demi mendapatkan maaf Diandra.
Dayana akhirnya memutuskan untuk tidur, setelah di rasa kepalanya semakin sakit. Setelah mengoleskan minyak kayu putih, di kepala dan juga perutnya, Dayana pun terlelap.
Dayana bangun saat merasakan perutnya yang mual. Dayana berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Hingga hanya cairan kuning yang keluar dari mulutnya. Tubuh Dayana lemas, dan saat akan keluar dari kamar mandi, Dayana melihat Ferry yang berdiri tak jauh dari pintu kamarnya.
" Yan-"
Namun Dayana hanya mampu menggeleng. Meminta Ferry tidak bertanya apapun padanya.
" Fer, tolong jangan tanya apapun, kepala ku sangat pusing."
Melihat Dayana yang hampir jatuh, Ferry segera memapahnya. Dan membantunya berbaring di kamar miliknya. Ferry segera membuatkan wedang jahe, untuk mengurangi rasa mual dan juga pusing. Ferry ingat, jika dirinya sedang sakit, maka ibunya akan membuatkan wedang jahe untuknya.
__ADS_1
" Yan, minum dulu wedang jahe nya."
Dayana duduk di bantu oleh Ferry. Dan meneguk wedang jahe buatan Ferry. Hari ini adalah kali pertama Ferry begitu perhatian pada dirinya. Selama ini jika Dayana sakit, maka Dayana memilih pulang ke rumah orang tuanya, dan Bu Maya akan merawatnya. Karena Ferry pun selalu marah, jika ibunya merawat Dayana pada saat sakit.