Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 23


__ADS_3

" Fer...aku lagi bicara sama kamu..."


Ferry langsung berhenti dan berbalik ke arah Dayana.


" Jangan pernah campuri urusanku. Kita bukan siapa-siapa, Paham !!!!"


Dayan terkejut dengan sikap Ferry. Selama ini Ferry terkenal sangat lembut dan juga tak pernah membentuk seseorang. Jangankan membentak, sekedar berbicara sedikit tinggi saja sudah membuatnya sangat bersalah.


" Kamu lupa? Aku ini istri kamu, Fer..."


Ferry melirik ke arah Dayana. Lalu tersenyum miring.


" Istri di atas kertas."


Ucap Ferry dingin. Dan meninggalkan Dayana begitu saja. Hati Dayana merasa tercubit dengan ucapan Ferry. Air mata menetes begitu saja. Dengan kasar Dayana mengusap air matanya.


" Aku akan buat kamu jatuh cinta sama aku, lihat aja."


Ucap Dayana setelah kepergian Ferry. Ferry masuk ke kamarnya. Lalu mengambil selimut dan juga bantal, meletakkan nya di sofa ruang tamu. Ferry memilih tidur di sana, dari pada harus sekamar dengan Dayana. Wanita yang telah merusak masa depan dan juga cintanya. Walau Dayana adalah kembaran Diandra, namun Ferry sama sekali tak melihat Diandra ada di sosok Dayana.


Dayana yang melihat Ferry tidur di sofa pun akhirnya memilih masuk ke kamar. Di dalam.kamar, Dayana meneteskan air mata. Ini adalah malam pertama bagi mereka, tapi Ferry lebih memilih tidur di sofa.


Bunda Mira yang keluar dari kamar pun terkejut melihat Ferry yang tertidur di ruang tamu. Lalu menyentuh tangannya. Ferry yang merasa tangannya di sentuh pun langsung terbangun dan menghempaskan tangan itu, tanpa tau siapa pemiliknya.


" Bunda..."


Ferry terkejut, ternyata itu adalah tangan Bundanya.


" Abang kok tidur disini? Kenapa gak di kamar?"


" Abang gak akan sekamar dengan perempuan itu, Bun. Abang gak mau."


Bunda Mira menghela nafasnya.


" Bang, bagaimana pun, Dayana itu sekarang istri Abang. Abang harus tetap memperlakukan dia dengan baik."


" Bun, tolong jangan paksa Abang. Abang capek, Bun. Tolong biarkan Abang istirahat."


Bunda Mira mengangguk. Lalu menepuk pelan bahu anaknya.

__ADS_1


" Pindah ke kamar Bunda. Nanti Abang bisa sakit kalau tidur di sini. Bunda bisa tidur sama Aliya."


Ferry pun melangkah menuju kamar. Sedangkan Bunda Mira hanya bisa menatap sendu punggung putra kesayangannya.


" Ya Allah, maafkan hamba yang memaksakan kehendak pada anak hamba. Hamba lakukan ini, agar Ferry tidak semakin lama di dalam penjara. Hamba hanya ingin terus bersama anak-anak hamba."


Bunda Mira pun mengusap air matanya yang jatuh. Lalu ke dapur untuk mengambil segelas air dan membawanya ke dalam kamar Aliya. Malam ini bunda Mira memilih untuk tidur di kamar Aliya.


Adzan subuh berkumandang, dan Bunda Mira pun sudah siap dengan beberapa jenis kue buatannya. Pagi ini seperti biasa, Bunda Mira akan membawa kue-kue buatannya ke toko langganan nya.


" Al, bangunin Abang kamu, Abang kamu ada di kamar bunda."


Aliya yang mendengar perintah ibunya pun sedikit terkejut. Karena abangnya tidur di kamar ibunya.


" Pantes aja, bunda tidur di kamar Aliya."


" Sudah, jangan banyak tanya. Bangunkan Abang ya."


Aliya mengangguk. Lalu masuk ke kamar ibunya. Membangunkan abangnya dengan perlahan.


" Subuh, Bang."


Setelah melipat sajadah, Ferry pun keluar kamar dan menuju dapur. Di lihatnya beberapa kue buatan ibunya. Namun hati Ferry terasa nyeri, karena kini kue buatan ibunya sudah tak sebanyak dulu. Sebelum dirinya berada di dalam sana.


"Bun, ada yang bisa Abang bantu?"


" Gak usah, Bang. Ini juga udah selesai. Setelah ini, bunda akan hantar ke langganan."


Aliya yang sedang memasak makan pagi pun masih sibuk dengan masakannya.


" Bang, nanti anterin Aliya ke kampus ya. Aliya ada kuliah pagi. Takutnya gak keburu kalau naik angkot."


Ferry melihat punggung Aliya. Aliya masih saja bersikap sama. Seperti dulu, saat Ferry masih kuliah.


" Al, kamu gak malu dianter sama Abang?"


Aliya membalik tubuhnya. Dan mengerutkan kening.


" Kenapa malu, Bang?"

__ADS_1


" Abang ini mantan napi, kamu gak takut kalau nanti teman-teman kamu menjauhi kamu, karena tahu status Abang?"


Aliya menghela nafasnya.


" Aliya gak peduli. Yang Aliya tau, Abang tetap Abang aliya yang dulu. Terserah mereka Bang. Kita gak bisa membungkam mulut mereka tapi kita menutup telinga kita kan?"


Tanpa mereka sadari, sudah ada Dayana di dekat mereka. Dayana ingin membantu, namun saat mendengar ucapan Ferry, Dayana menghentikan langkahnya.


" Maafin Abang ya, Bun. Abang gak bisa mewujudkan impian Bunda memiliki anak seorang sarjana yang bisa membanggakan bunda. Bunda pasti malu, karena Abang pernah di penjara kan? Pasti sampai sekarang, orang masih banyak yang menggunjing keluarga kita kan, Bun?"


Bunda Mira yang sedang menyusun kue pun menghentikan gerakannya. Di peluk nya putra tertuanya itu. Lalu mencium keningnya.


" Bunda tetap bangga sama Abang. Banyak kok Bang, orang sukses di luaran sana yang gak menyandang gelar sarjana. Yang Bunda ingin kan saat ini, Abang bisa bangkit. Bunda lebih sedih melihat Abang murung terus."


Ferry memeluk ibunya. Berada di pelukan ibunya membuat Ferry merasa sedikit tenang. Dayana yang melihat kejadian itu, terasa tersentil hatinya. Kalau bukan karena dirinya yang membuat laporan itu, pasti saat ini, Ferry sudah menyandang gelar sesuai dengan jurusannya.


" Maafin Bunda yang memaksa Abang untuk menikahi Dayana."


Ucap Bunda Mira di sela Isak tangisnya. Ferry dan ibunya saling berpelukan. Sementara Aliya tak membalikkan tubuhnya. Dirinya menangis sambil tetap mengaduk masakannya. Dirinya sungguh tidak kuat menyaksikan adegan itu. Hanya bahunya yang bergetar, dan itu pun tak luput dari pandangan Dayana.


Dayana memilih kembali ke kamar. Disana Dayana menetes air matanya.


" Maafkan aku, Fer. Aku harus memaksa kamu dengan cara ini. Aku sangat mencintai kamu, tapi kamu gak pernah sedikit pun melirik ke arah ku, Fer."


Setelah itu, Dayana pun segera mengusap air matanya. Dan melangkah keluar kamar. Di sana, Ferry dan Bunda Mira sudah duduk di meja makan. Makanan pun sudah tersedia. Saat melintasi meja makan, Ferry tersenyum sinis.


" Disini bangun paling lama saat adzan subuh."


Ucapnya sambil terus mengaduk teh yang ada di hadapannya. Dayana yang merasa dengan ucapan Ferry pun menghentikan langkahnya.


" Maaf, aku gak tau. "


" Iya, gak apa-apa. Kamu bersih-bersih dulu ya. Setelah itu kita sarapan sama-sama."


Bunda Mira mencoba menengahi.


" Bunda jangan terlalu memanjakan dia. Ini bukan rumahnya."


Ucap Ferry saat Dayana sudah masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


" Bang, jangan begitu. Dayana baru satu hari di rumah kita. Pasti dia belum terbiasa."


__ADS_2