
Dayana kembali masuk ke dalam kamar. Sungguh ini diluar keinginannya. Dayana membelai perutnya yang rata.
" Permintaanya ganti yang lain aja ya, Dek. Besok kita makan nasi uduk di depan jalan itu aja. Gimana?"
Dayana bergumam sambil membelai perutnya. Dan Dayana pun kembali masuk ke dalam selimut. Melihat tatapan Ferry tadi, jelas Dayana meyakini, bahwa Ferry tidak setuju. Dayana mencoba memejamkan matanya.
Tak lama Dayana pun kembali terlelap. Karena waktu yang memang sudah menunjukkan tengah malam. Tak berselang lama, Ferry masuk ke dalam kamar, dan membangunkan Dayana. Dayana membuka matanya dengan perlahan, bahkan matanya memerah karena menahan kantuk.
" Bangun dulu sebentar."
Ferry memegang tangan Dayana, karena Dayana sedikit oleng akibat kantuknya. Di meja makan tersaji sepiring nasi goreng yang asapnya masih menguar. Aromanya pun mampu membuat mata Dayana terbuka. Dayana melihat ke arah Ferry, lalu tersenyum dan mengangguk. Dayana duduk di kursi dan berhadapan langsung dengan nasi goreng itu. Bahkan Dayana mengendus aromanya dengan sedikit mendekat kan wajahnya.
" Kamu beneran buatin ini?
Ucap Dayana. Ferry pun menarik kursi yang ada di sebelah Dayana. Tangan Dayana menggiring asap yang sedang menguar ke arah nya.
" Dari aromanya aja enak banget. Makasih ya, Fer."
Senyum Dayana mengembang, bahkan wajahnya tampak berseri. Ferry yang melihat itu menipiskan bibirnya. Hanya seporsi nasi goreng bercampur dengan sosis, dan di atasnya di beri telur mata sapi, dan beberapa irisan timun. Sudah bisa membuat Dayana bahagia. Baru malam ini Ferry melihat Dayana begitu bahagia. Hanya dengan nasi goreng.
" Sekarang kamu makan, setelah makan, kamu bisa tidur lagi. "
Dayana mengangguk lalu menyuapkan nasi itu ke dalam mulutnya. Gumaman dari mulut Dayana langsung terdengar. Bahkan dirinya mengangkat bahunya. Lucu.
__ADS_1
" Enak banget, makasih ferry."
Ucap Dayana sambil mengunyah. Namun saat suapan ke tiga, Dayana melirik ke arah Ferry yang sedang memperhatikannya.
" Kamu mau?"
Ferry tersenyum sambil menggeleng.
" Buat kamu aja. Kalau kamu mau sesuatu, kamu bilang aja ya."
Dayana hanya tersenyum lalu melanjutkan makannya. Tanpa terasa seporsi nasi goreng habis dalam sekejap saja. Dayana menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi. Lalu mengelus perutnya.
" Ibu kenyang banget. Adek udah senang kan? Tapi lain kali gak boleh gitu lagi ya, dek."
" Kenapa gak boleh lagi? "
" Hm..aku.."
Ferry duduk di sebelah Dayana. Dan membelai rambut hitam Dayana. Ferry menatap
" Kita udah bicarakan ini. Kita akan memulai hidup baru. Kamu istri aku, sebisaku akan memenuhi kewajiban aku. Kita mulai semua dari nol lagi. Oke?"
Dayana langsung memeluk Ferry dan di balas dengan Ferry yang kembali memeluk Dayana erat.
__ADS_1
" Makasih, makasih fer.."
Mereka melerai pelukan dan Ferry mengecup kening Dayana lama. Seperti menyalurkan rasa sayangnya pada perempuan yang selama ini di abaikannya.
" Maaf untuk semua yang pernah aku lakukan ke kamu."
Dayana menggeleng.
" Seharusnya aku yang minta maaf. Seharusnya aku tidak menjeb-"
Telunjuk Ferry berada di bibir Dayana. Lalu menggeleng.
" Kita tutup kisah lama kita. Mulai saat ini, jangan pernah mengungkit kisah itu. Kita sudah mengakhiri semuanya."
Setalah berbicara dari hati ke hati. Ferry kembali membawa Dayana ke kamar. Karena Ferry melihat Dayana yang sudah beberapa kali menguap dan mata yang rasanya sulit untuk di buka.
" Apa setiap ibu hamil seperti ini ya. Random banget."
Ucap Dayana sambil berjalan ke kamar mereka. Ferry tertawa pelan.
" Ya gak ngerti juga sih. Kamu gak mual atau muntah kan?"
Dayana menggeleng.
__ADS_1
" Malah mau makan aja. Bisa sebesar apa aku nanti."
" Gak usah di pikirin. Yang penting kamu dan anak kita sehat. Itu aja."