Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 26


__ADS_3

Waktu terus bergulir, sudah lima tahun berlalu. Usia pernikahan Ferry dan Dayana pun masih bertahan.Dayana percaya, jika suatu saat nanti Ferry akan benar-benar mencintainya.


" Fer, makanan nya udah aku siapkan, kamu mau makan sekarang?"


Ferry hanya berlalu, tak menggubris perkataan Dayana. Dayana pun sudah terbiasa dengan sikap Ferry hanya bisa menghembuskan nafasnya.


" Mau sampai kapan begini, Fer." Gumam Dayana.


Sejak beberapa minggu yang lalu, Ferry dan Dayana sudah menempati rumah mereka sendiri. Walau rumah sederhana, namun ini hasil jerih paya Ferry sendiri. Dayana pun sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga selayaknya seorang istri. Hanya selama dua tahun ini, Ferry dan Dayana tidur terpisah. Dayana akhirnya memilih tidur di kamar yang lebih kecil, agar tidak menggangu Ferry. Dayana sadar, bahwa dirinya tidak bisa terus memaksakan keinginan nya.


" Fer, aku mau bicara. Bisa?"


Dayana membuka suara. Setelah Ferry menyelesaikan makan malamnya. Melihat Dayana yang hanya diam, Ferry pun menghela nafasnya.


" Katanya mau bicara tapi-"


Ucapan Ferry terhenti, saat Dayana menyodorkan sebuah kertas. Sudah ada tanda tangan Dayana disana, Ferry membaca dan melihat ke arah Dayana.


" Kau mau bercerai?"


Dayana mengangguk.


" Kenapa?" Apa alasanmu ingin bercerai dari ku? Bukankah ini keinginanmu, impian mu? Hm??"


Ferry menekan intonasi suaranya. Dan menatap Dayana tajam. Melihat tatapan Ferry, Dayana pun hanya mampu menunduk. Tak juga mendapat jawaban, Ferry pun bangkit dari duduknya.


" Maafkan aku, Fer."


Kata yang terucap dari bibir Dayana, membuat Ferry berhenti melangkah.

__ADS_1


" Aku tau, aku manusia paling jahat, karena telah merebutmu dari saudara kembarku dengan cara yang kotor. Aku manusia paling egois. Sifat manjaku telah membuat semuanya hancur, hidupmu, cintamu, dan cita-cita mu. Aku minta maaf atas itu semua."


Suara serak Dayana menandakan dirinya sedang menahan air mata. Jika dulu, air mata menjadi senjata andalannya, kini Dayana tidak mau lagi melakukan hal itu.


" Setelah kita berpisah, aku akan membantumu untuk bersatu dengan Dian-"


" APA KAU KIRA DIANDRA MASIH MAU MENERIMAKU, HAH???"


Dayana terperanjat, mendengar suara Ferry yang begitu besar. Bahkan tubuhnya yang tengah duduk pun bergetar, selama lima tahun menikah, Ferry memang kerap cuek dan tak peduli. Tapi malam ini, Ferry meluapkan amarah yang selama ini di pendamnya.


" KALAU OTAKMU KAU PAKAI LIMA TAHUN YANG LALU, MUNGKIN SAAT INI AKU SUDAH BAHAGIA BERSAMA DIANDRA. KAU PENYEBAB SEMUA INI, KAU MANUSIA EGOIS, MANUSIA YANG TIDAK PUNYA HATI. ARRGGHHH..."


Tubuh Dayana bergetar, dan air matanya luruh seketika itu juga. Sedangkan Ferry meninggalkan rumah dan pergi dengan mengendarai motor besarnya. Usaha bengkel yang di buka Ferry buka lumayan maju.


Dayana tidak menyalakan Ferry. Dayana sadar jika memang dirinya lah penyebab semua ini. Bahkan sampai saat ini, Diandra tak juga membuka blokiran di ponselnya. Dayana hanya melihat perkembangan Diandra melalui akun media sosial yang di miliki Diandra.


Dayana menangis sesegukan di meja makan, teringat akan kejahatan yang di lakukan olehnya pada saudara satu-satunya itu.


" Maafkan aku, Di. Maaf...."


Dayana terus menggumam kata maaf, Dayana sudah sangat menyadari kesalahannya. Maka dari itu dia ingin melepaskan Ferry agar meraih kebahagiannya yang sudah lama terkekang oleh Dayana.


Sudah tiga jam berlalu sejak kepergian Ferry, namun Ferry tak juga kembali. Dayana dengan sabar menunggu hingga Ferry pulang. Waktu terus berjalan, pukul satu lebih, akhirnya Ferry pulang, namun ada yang berbeda. Ferry pulang dalam keadaan mabuk. Tidak pernah Ferry meminum minuman itu. Dengan jalan yang sempoyongan, Ferry berjalan ke arah kamarnya.


" Fer..kenapa kamu begini. Kamu gak pernah minum."


Dayana memapah Ferry, namun Ferry terus meracau tidak jelas. Dayana membantu Ferry membuka sepatu dan kemejanya. Ferry terus saja meracau. Kadang sedikit tertawa, kadang juga marah.


Dayana terus membantu Ferry, karena tubuh Ferry yang lebih besar, membuat Dayana kesulitan melepaskan kemeja yang di gunakan nya. Saat Dayana ingin meninggalkan Ferry, tangan Ferry dengan cepat mencekal pergelangan tangan Dayana.

__ADS_1


" Kamu orang yang sudah merusak semuanya. Wanita murahan."


Ucap Ferry, lalu mencengkram rahang Dayana. Kuatnya tenaga Ferry membuat Dayana meringis kesakitan.


" Lepas...sakit Fer."


Ferry tersenyum remeh, lalu mendorong tubuh Dayana ke arah kasur. Dayana pun segera bangkit, namun kembali Ferry mencekalnya dan menjatuhkan tubuhnya. Bahkan Ferry langsung menghimpit tubuh Dayana.


" Fer...kamu mau apa...sadar Ferry .."


" Kamu wanita murahan, ini kan alasan yang kau pakai untuk menjebak aku di pernikahan sialan ini."


Ferry masih berusaha melepas pakaiannya sendiri. Sedangkan Dayana yang sedang berada di bawah Ferry hanya bisa mendorong tubuh Ferry agar dirinya bisa lepas dari Ferry.


Dayana sadar, Ferry berhak atas dirinya, namun Dayana juga sadar, saat ini Ferry sedang dalam keadaan mabuk. Dayana tidak ingin di bilang memanfaatkan keadaan.


" Ferry ..lepas..."


" Gak usah sok suci, kau memang menginginkan ini kan. "


Ferry terus saja berusaha melepas semua yang melekat di tubuh Dayana. Dan Dayana terus saja meronta. Dayana kalah tenaga dari Ferry. Bagaimana pun ,tubuh Dayana tak sekuat Ferry. Dengan tanpa pemanasan, Ferry memasuki inti tubuh Dayana dengan paksa. Dayana bahkan mengerang kesakitan, walau ini bukan yang pertama bagi Dayana, tapi tetap saja ini sangat menyakitkan. Dayana tidak pernah tersentuh sejak kejadian malam itu. Tentu membuat dirinya merasakan kesakitan kembali.


Ferry terus saja memacu tubuhnya di atas Dayana, tanpa melihat air mata Dayana yang mengalir, bahkan di beberapa bagian tubuh Dayana ada bekas merah dan membiru. Di bawah kungkungan Ferry, Dayana hanya bisa menangis.


Seandainya Ferry meminta hak nya sebagai Suami, Dayana tidak akan merasa sesakit ini. Ferry terus memacu Dayana, bahkan Ferry beberapa kali menghadiahi Dayana dengan kata-kata kasar dan juga tamparan di wajahnya. Setelah pelepasan, Ferry pun jatuh di atas tubuh Dayana.


Dayana hanya diam membisu. Hanya air mata yang jatuh. Setelah melihat Ferry tertidur, Dayana pun memunguti pakaian nya yang berserakan di lantai, dan berjalan tertatih menuju kamarnya. Sungguh penyatuan yang di lakukan oleh Ferry membuat Dayana merasakan sakit serta perih di bagian inti tubuhnya.


Setiba di dalam kamarnya, tangis Dayana pun pecah. Dayana tidak menyalakan jika hal ini akan terjadi padanya. Sedangkan Ferry sudah masuk ke dalam alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2