
Setelah bertemu dengan Diandra dan Zaidan siang itu, Pak Bayu akhirnya singgah ke rumah Ferry dan Dayana. Di rumah Dayana, Pak Bayu di sambut hangat oleh Dayana.
" Yana buatin minum dulu ya, Yah."
Pak Bayu mengangguk . Setelahnya, Dayana datang membawa secangkir teh hangat dan juga sepiring bolu buatannya.
" Yah, cobain bolu buatan Yana. Yana coba-coba lihat tutor di ponsel."
Pak Bayu membelai kepala Dayana yang tetap menggunakan hijab walau dalam rumah.
"Ayah, salut sama kamu, sekarang kamu sudah berubah. Terus seperti ini ya, Nak."
" Insha Allah,.Yah. Ayah doain ya."
Setelah itu, mereka pun bercerita banyak, mulai dari rumah, toko, dan terakhir pak Bayu bercerita, jika dirinya baru saja bertemu dengan Diandra.
Pak Bayu juga menceritakan, keengganan Diandra untuk kembali ke rumah.
" Yah, Yana tau, ini semua terjadi karena Yana. Yana akan bujuk Ibu untuk meminta Dian pulang, dan memperlakukan Dian dengan baik. Walau sebenarnya luka di hati Dian sudah sangat dalam."
" Ayah hanya ingin, Dian kembali berada di rumah seperti dulu, sejak tamat SMA, Ayah merasa kehilangan Dian. Kehilangan tawanya, kehilangan senyumnya."
Dayana pun menggenggam tangan lelaki yang membesarkannya dan menyayangi nya itu.
" Yah, saat ini, Dian hanya perlu pembuktian. Kita akan buktikan, bahwa Ibu juga sebenarnya merindukan dan menyayangi nya."
Setelah itu, mereka pun kembali bercerita. Bahkan pak Bayu tak lupa menanyakan perkembangan kesehatan bayi di dalam kandungan Dayana.
__ADS_1
Usia kandungan Dayana sudah memasuki bulan kelima. Kini tubuh Dayana pun tampak semakin berisi. Dayana tak mengalami mual dan muntah parah seperti ibu hamil lainnya. Namun Dayana juga mengalami fase ngidam.
Setelah puas mencurahkan isi hatinya pada Dayana. Pak Bayu pun akhirnya pulang. Walau sebenarnya Dayana meminta Pak Bayu untuk menunggu Ferry, untuk menghantarkan lelaki itu pulang ke rumahnya.
Setelah taksi online yang membawa ayahnya pergi, tak lama Ferry pun tiba. Dayana yang masih berdiri di dekat pintu menunggu hingga Ferry keluar dari mobilnya.
" Assalamualaikum, ada tamu?"
Ferry mengangsurkan tangannya pada Dayana, dan Dayana menerima serta mencium takzim tangan suaminya itu.
" Waalaikumsalam, Ayah datang."
Ferry mengangkat alisnya. Tak percaya jika Ayah mertuanya datang mengunjungi rumahnya.
" Ayah datang? Ada apa?"
Tanya Ferry yang masih tak percaya dan berdiri di dekat pintu.
Ferry mengangguk. Lalu mengikuti Dayana ke dalam rumah. Ferry melihat bolu di atas piring, dan langsung mengambilnya.
" Kamu buat ini?"
Ucapnya dan memasukan potongan bolu itu ke dalam mulutnya.
" Iya, habisnya bingung mau ngapain."
Dayana menjawab sambil meletakkan cangkir berisi kopi di hadapan Ferry yang kini tengah duduk di meja makan. Ferry menatap Dayana.
__ADS_1
" Kan dokter bilang kamu gak boleh kecapean. Ingat dong."
Ferry berdiri dan menarik kursi di sebelahnya agar Dayana duduk di sisinya.
" Gak capek kok, Bang."
Dayana kini memang Ferry dengan menambahkan kata Abang di depan namanya. Dayana menghormati Ferry sebagai suaminya.
" Lain kali, kalau kepingin sesuatu, bilang aja, nanti Abang pulang, Abang bawain. Atau kalau pun Abang gak sempat, Abang pesankan."
Dayana tersenyum mendengar perhatian dari Ferry. Bahkan kini sebelah tangannya tengah membelai perut Dayana yang membuncit.
" Adek, hari ini gak nakal kan?"
Ferry seperti bertanya pada Bayi di dalam kandungan Dayana, wajahnya di dekatkan ke arah perut Dayana. Bahkan lelaki itu tak segan mencium perut Dayana yang masih berbalut gamis rumahan. Lalu Ferry menatap Dayana.
" Dia bergerak."
Ferry berseru senang. Walau ini bukan kali pertama merasakan pergerakan bayi di dalam kandungan Dayana. Namun Ferry tetap saja antusias. Sedangkan Dayana tersenyum sambil mengangkat alisnya.
" Iya, Di adek udah mulai aktif sekarang."
Ferry dan Dayana duduk bersama di meja makan. Dan Ferry kembali menanyakan perihal kedatangan ayah mertuanya.
Dayana pun menceritakan semuanya. Lalu menunduk dan menghela nafasnya.
" Ini semua karena aku, Bang. Andai aku dulu gak berbuat yang merugikan Dian. Mungkin saat ini, Dian sudah bahagia. Dan kamu juga-"
__ADS_1
Bibir Dayana di tutup oleh Ferry. Dan Ferry menggeleng kan kepalanya.
" Sssttttt....jangan ungkit masa lalu, sekarang kita hanya perlu meyakinkan Diandra jika ibu juga menyayangi nya. Dan kita juga perlu membuat ibu merasa kehilangan seorang Diandra, dan membuat takut Diandra pergi dari kehidupannya."