Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 32


__ADS_3

Dayana terbangun dari pagi harinya dengan badan yang sedikit lemas. Namun itu tidak menyusutkan langkah Dayana untuk kembali bekerja. Setelah kemarin sempat minta izin untuk tidak hadir. Wajahnya masih sedikit pucat, tapi Dayana tetap memaksakan diri untuk bekerja.


" Kalau kamu sakit, jangan paksakan bekerja. Aku masih mampu menafkahi mu Yan."


Ucapan Ferry di pagi itu membuat Dayana menoleh ke arahnya. Pagi itu seperti biasa, Ferry akan menunggu untuk makan bersama dengan Dayana, tapi lagi-lagi Dayana menghindar.


Dayana hanya diam. Dirinya sangat ingin menghindar dari Ferry. Tujuannya saat ini adalah mengumpulkan uang, mempunyai tabungan, dan mengajukan gugatan perceraian nya ke pengadilan. Dayana ingin segera melepaskan Ferry. Rasanya sangat tidak adil, dan rasa bersalah terus menggerogoti hatinya selama tiga tahun belakangan ini.


" Ayo kita berpisah."


Ajakan dari Dayana membuat Ferry tertegun. Di tatapnya wajah wanita itu. Datar. Dayana hanya menatap datar.


" Yan..aku su-"


" Fer, jangan siksa dirimu lagi, sejak awal awal, akulah yang salah. Akulah yang memfitnah, aku lah yang menjebak mu di pernikahan ini. Aku akui semua kesalahanku. Aku hanya ingin kamu bahagia, bukan menderita seperti sekarang. Aku tahu selama ini aku egois. Selalu mengancam, jika kamu ingin berpisah dari ku. Tapi sekarang aku benar-benar sudah sadar."


Ferry hanya berdecak. Lalu bangkit dari kursi dan menyambar jaket nya.


" Aku pergi, jangan lupa kunci pintunya."


Bukannya jawaban yang di dapatkan, kepergiannya Ferry dari meja makan lah yang terjadi. Ferry merasa aneh, dengan permintaan Dayana, jika dulu, itulah keinginan utamanya, kini malah dirinya yang enggan untuk berpisah.


Dayana menghela nafasnya, lalu merapikan kembali meja makan, dan berangkat ke mini market tempatnya bekerja. Dayana bertekad untuk menemui Diandra akhir bulan ini. Gaji yang di dapat nya bulan kemarin cukup untuk dirinya menemui Diandra.


Untuk alamat Diandra, Dayana akan meminta nya dari sang Ayah. Walau pun Dayana tahu, pasti akan berat ayahnya memberi tahukan. Tapi Dayana akan tetap membujuk ayahnya. Bagaimana pun, ayahnya tidak bisa lama-lama menolak keinginannya.


Akhir bulan yang di tunggu Dayana tiba. Setelah meminta izin untuk tidak masuk dua hari, Dayana memberanikan diri pergi menemui Diandra. Selama tiga Minggu ini, Dayana terus membujuk Ayahnya sampai akhirnya sang Ayah luluh dan memberikan alamatnya.


Dayana pergi pagi-pagi sekali, bahkan Dayana hanya meminta izin melalui secarik kertas yang di masukannya memalu celah pintu. Ferry yang melihat pesan Dayana, hanya menghela nafas.


Selama perjalanan, Dayana selalu berdoa semoga saja Diandra mau bertemu dengannya. Dirinya hanya ingin meminta maaf secara langsung dan juga memohon pengampunan pada saudara kembarnya itu.


Dayana tiba di kota tempat Diandra tinggal hampir menjelang siang. Biasanya siang hari Diandra berada di klinik, bersama dengan Zaidan tentunya. Dayana memasuki klinik dan langsung bertanya pada bagian informasi.


" Maaf, Saya mau tanya, apa dokter Diandra ada?"

__ADS_1


" Dokter Diandra belum tiba, Bu. Tapi dokter lain ada. Ibu mau berobat?"


Dayana menggeleng. " Saya mau bertemu dokter Diandra."


Setelah itu Dayana pun menunggu di kursi yang di sediakan di ruang tunggu klinik tersebut. Cukup lama Dayana menunggu, hingga saat Diandra masuk, Dayana melihat Diandra yang sudah sangat berbeda, kulitnya yang dulu gelap, kini sudah sangat bagus, bahkan penampilan nya sangat menakjubkan.


" Dokter, ada seseorang yang ingin bertemu, dan sejak tadi sudah menunggu dokter?"


Ucapan perawat bagian informasi itu membuat kening Diandra berkerut.


" Siapa,? Apa Ayah saya datang?"


Perawat itu menunjuk ke arah Dayana. Dayana yang sedang berdiri pun menatap Diandra. Sedangkan Diandra terkejut melihat Dayana. Pakaian Dayana berubah, wajahnya juga tirus. Dayana berjalan perlahan mendekat ke arah Diandra. Bahkan air matanya jatuh. Melihat Diandra, rasa penyesalan dan berdosa menyergap hatinya.


" Yana..." Suara Diandra terdengar lirih.


" Di...aku...aku..hiks...hiks..."


Dayana bahkan tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Dirinya langsung bersimpuh di hadapan Diandra.


" Maafkan aku, Di. Maafkan aku.."


" Yan jangan seperti ini."


" Enggak, Di. Aku sudah sangat jahat. Maafkan aku.."


Diandra terus memaksa Dayana, hingga saat Dayana bangkit, kepala nya terasa berputar. Dan Dayana tak sadarkan diri. Membuat Diandra dan beberapa perawat terkejut. Dan saat bersamaan , Zaidan juga baru masuk ke dalam klinik.


" Dok, tolong..."


Zaidan langsung membawa Dayana menuju UGD. Dan saat itu juga, Diandra memeriksa keadaan Dayana. Dari raut wajahnya tidak bisa di bohongin, jika Diandra pun sangat khawatir dengan kondisi saudaranya. Dayana langsung mendapat perawatan. Di bantu oleh perawat Diandra terus memantau Dayana.


" Di, kenapa terlalu khawatir. Kita sering bertemu dengan pasien seperti ini."


Diandra melihat ke arah Zaidan.

__ADS_1


" Dia saudara kembarku, Mas. Bagaimana pun aku pasti khawatir."


Ucap Diandra. Membuat Zaidan mengangguk. Tak lama berselang, akhirnya Dayana sadar. Melihat Diandra yang duduk di sisinya membuat Dayana meneteskan air matanya.


" Yan, kamu sudah sadar?"


" Di, aku-.."


" Sebaiknya setelah infus ini habis, dan kondisi mu lebih membaik, kamu segera pulang. Kandungan mu sangat lemah. Kenapa memaksakan diri untuk kesini? Apa ingin memamerkan kebahagiaanmu? Aku sudah ikhlas,Yan. Demi apapun itu, aku sudah merelakan semuanya."


Ucap Diandra sambil membenarkan infus dan memeriksa Dayana.


" Di, aku kesini untuk meminta maaf, bukan untuk memamerkan kebahagiaan atau apapun. Kandun-"


Ucapan Dayana terhenti, lalu menatap penuh tanya ke Diandra. Diandra melihat Dayana. Yang tiba-tiba saja meneteskan air mata. Tidak ada raut bahagia di wajah Dayana.


" Aku hamil, Di? Kamu gak salah?"


Ucapnya setelah menghapus air matanya. Diandra hanya mengangguk. Melihat reaksi yang berbeda oleh saudaranya, Diandra paham jika ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.


" Yan, apa kamu baik-baik aja?"


Dayana melihat ke arah lain, lalu menggeleng.


" Aku mohon maafkan aku, Di. Aku mau pulang sekarang. "


Dayana ingin melepas jarum infus di tangannya. Namun di tahan oleh Diandra.


" Tunggu sampai infusnya habis, kondisimu sangat lemah."


" Aku tidak apa-apa, Di. Terima kasih untuk pertolonganmu, dan terima kasih sudah memaafkan aku. Dan aku mohon, jangan beri tahu ibu atau pun ayah. Tolong rahasia kan kehamilanku."


Diandra semakin tak mengerti.


" Yan apa yang kamu lakukan lagi. Apa selama ini kamu gak puas, sudah membuat ayah dan ibu khawatir? Katakan kenapa kamu mau merahasiakan kehamilan mu? Hah? Siapa lagi laki-laki yang-"

__ADS_1


" Di, sumpah aku gak pernah macam-macam lagi. Aku gak pernah dekat dengan siapapun sejak aku menikah dengan Ferry. Aku gak mau siapapun tahu keadaan ku,Di. Aku mohon..."


Setelah melihat kondisi Dayana, akhirnya Diandra membawa pulang Dayana ke apartemennya. Diandra akan meminta penjelasan yang selama ini masih sangat mengganjal di hatinya. Walau sudah merelakan dan mengikhlaskan, namun Diandra masih ingin mendengar ada apa semua ini.


__ADS_2