
Ferry membangunkan Dayana dengan lembut, namun sepertinya tubuh Dayana terlalu lelah, hingga tak menyadari panggilan dari Ferry. Ferry mengangkat tubuh Dayana menuju kamarnya. Dan merebahkannya di kasur. Membuka mukenahnya lalu menyimpannya di nakas. Ferry memandang wajah Dayana cukup lama.
" Cantik..." Gumamnya, namun sedetik kemudian, Ferry menggeleng kan kepala. Dan memukulnya pelan.
Ferry keluar dari dalam kamar Dayana. Lalu Ferry kembali masuk ke dalam kamarnya. Membersihkan diri, dan menyantap makanan yang di masak oleh Dayana. Ferry menatap sekeliling, rumah nya rapi dan bersih, makanan yang di hidangkan pun terasa enak. Ferry menghela nafasnya, mengingat saat Dayana meminta cerai beberapa waktu lalu.
Sebagai seorang istri, selama lima tahun ini, memang banyak berubah. Dayana sudah tidak pernah bertemu dengan teman-teman nya. Selalu berusaha mengerjakan semua dengan baik. Walau di awal-awal masih banyak yang salah. Tapi seiring berjalannya waktu, kini Dayana sudah sangat berubah.
Dayana terbangun dari tidurnya, sesaat sebelum waktu subuh masuk. Dayana bingung, kenapa tiba-tiba dirinya ada di kamar. Dayana ingat terakhir dirinya berada mushola kecil rumah itu. Dayana mulai membersihkan rumah, setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang hamba. Dayana tertegun sejenak melihat Ferry dengan baju Koko dan juga sarung serta peci, tampak begitu tampan di pagi itu. Ferry baru saja kembali dari mesjid yang tak jauh dari rumah mereka.
Ferry melambaikan tangannya di depan Dayana, karena melihat Dayana yang terdiam melihat dirinya.
" Yan...hei..."
Dayana pun langsung tersentak, dan tampak salah tingkah, ketika dirinya ketahuan memandang Ferry.
" Maaf...aku..aku..mau buat sarapan dulu. I..iya ...aku buat sarapan."
Dayana pun langsung menuju dapur, mengeluarkan bahan makanan, dan memulai mengeksekusinya. Sedangkan Ferry tampak tersenyum tipis, dan menatap Dayana dari tempatnya berdiri.
Ferry duduk menunggu Dayana menyiapkan sarapannya. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi, Dayana sedang menyiapkan bekalnya.
Ferry hanya memperhatikan setiap pergerakan Dayana.
Saat Dayana ingin kembali masuk ke kamarnya, Ferry mencekal.
" Makanlah dulu, dari malam kamu belum makan kan?"
Dayana yang melihat tangannya di pegang oleh Ferry, mencoba melepaskan secara halus.
__ADS_1
" Gak usah, Fer. Aku makan di tempat kerja aja."
Dayana pun berlalu, sedangkan Ferry menghela nafasnya.
" Apa uang bulanan yang aku berikan kurang, sampai kamu harus ikut kerja?"
Ucapan Ferry membuat Dayana terhenti. Lalu melihat ke arahnya.
" Gak, aku cuma ingin mandiri, selama ini aku terlalu bergantung padamu. Maaf atas sikapku selama ini."
Ferry hanya terdiam. Dayana pun melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar. Dayana keluar dari kamar sudah menggunakan pakaian rapi. Celana panjang di padu dengan kemeja lengan panjang berwarna peach, serta hijab bermotif yang serasi dengan kemejanya.
Seperti kemarin, hari ini pun Dayana kembali berjalan ke halte, untuk menunggu angkot yang akan membawanya ke tempat kerja. Setibanya di sana, masih juga sama seperti hari sebelumnya. Mini market itu belum buka, jam operasional mereka pukul delapan pagi, dan Dayana tiba pukul tujuh tiga puluh lima pagi itu. Tak lama, Susi pun datang, membuka pintu dan mereka mulai bekerja.
Pukul enam sore, Dayana pun pulang, hari ini banyak barang masuk, dan tentu saja membuat Dayana harus membantu merapikan barang tersebut. Dan kembali Dayana kelelahan. Tidak bisa di sembunyikan, raut wajah Dayana tercetak jelas.
Dayana tiba hampir pukul tujuh malam, kemacetan jalanan membuat Dayana terlambat tiba di rumah. Dayana sudah melihat motor Ferry berada di teras. Dayana mengucapkan salam, dan langsung menuju ke kamarnya, meletakan tas yang di pakai, lalu menaruh tempat bekal di wastafel. Dan buru-buru membersihkan diri untuk berwudhu. Waktu Maghrib sudah hampir habis.
Ferry yang melihat Dayana masih menggunakan pakaian pagi tadi mengerutkan kening, lalu pandangan nya mengarah ke mushola kecil rumah mereka. Mukenah yang di pakai Dayana masih tergeletak begitu saja. Ferry yakin, Dayana baru aja datang, sholat lalu bergegas masak.
" Kamu baru pulang?"
Dayana hanya mengangguk, dan kembali tangannya sibuk mengiris bawang serta menggoreng ikan. Ferry membantunya, dengan melipat mukenah dan sajadah yang masih terbentang, membuat Dayana membulatkan matanya.
" Gak usah, biarkan saja, biar setelah ini aku yang merapikan itu semua. Maaf."
Tangan Ferry terhenti. Dulu Ferry tak pernah mau tau apa pun, yang dirinya tau, ketika dia pulang ke rumahz rumah harus rapi serta bersih, jangan ada sesuatu yang merusak pandangannya. Ferry bisa marah. Dan sejak saat itu, Dayana selalu berusaha mati-matian agar rumah mereka terlihat bersih.
Selesai memasak, Dayana menyiapkan makan malam di meja. Dan meminta Ferry untuk segera makan. Sedangkan Dayana sendiri masuk kembali ke kamar.
__ADS_1
Dayana kembali ke kamar untuk mandi. Tiga puluh menit kemudian, Dayana keluar dari kamar, dan langsung menuju kamar tempat dimana pakaian yang belum tersetrika berada. Dayana menyetrika pakaian yang sudah kering.
Dayana memang sedang menghindari Ferry. Sekarang dia tak ingin Ferry merasa kesal, karena selalu melihatnya. Selama ini Dayana selalu berusaha agar Ferry melihatnya. Tapi kini tidak lagi, tekadnya sudah bulat, setelah uangnya terkumpul, Dayana akan mengajukan perceraian. Dia tak ingin lagi mengungkung Ferry dalam pernikahan yang menyiksa. Sudah cukup lima tahun ini, Dayana menjadi egois. Sejak dulu Dayana sadar, bahwa kebahagiaan Ferry ada pada Diandra. Tapi keegoisan dan tamak menguasai hati dan pikirannya hingga membuat Ferry terkurung di pernikahan ini.
Hampir pukul sepuluh malam, Dayana baru selesai. Dayana keluar dari kamar setrika, dan melihat Ferry berada di ruang televisi namun makanan di meja tidak berkurang. Dayana ingin tak peduli, namun rasa sayangnya membuat dirinya membuka suara.
" Kenapa tidak makan?"
Ferry yang mendengar suara Dayana, pun melihat ke arah Dayana yag berdiri di meja makan.
" Kamu juga belum makan, kan? Kita makan bersama."
" Sebaiknya kamu makan dulu, ingat kamu punya penyakit lambung, kamu harus makan tepat waktu."
Ucapan Dayana membuat Ferry terdiam. Dayana masuk kembali ke kamarnya dengan membawa setumpuk pakaian yang sudah di setrika. Sedangkan Ferry hanya melihat Dayana yang berjalan mondar mandir sambil membawa pakaian.
" Aku izin masuk kamar kamu, menyimpan pakaian."
Tanpa mendengar jawaban Ferry, Dayana pun masuk, lalu menyusun pakaian Ferry. Dan mengganti seprei kamar suaminya itu. Setelah beres semua, Dayana pun keluar. Dayana melihat Ferry yang sedang makan. Dayana pun kembali masuk ke kamarnya.
.
.
. Assalamualaikum semua..
Terima kasih untuk semua yang masih mau membaca karyaku ini...
Mohon maaf karena cerita ini sempat terhenti beberapa waktu lalu. 🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
Mohon tetap like, dan vote nya ya...
Love you All♥️♥️♥️