Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 20


__ADS_3

Di temani oleh Bude Ayu serta Raka, Dia Dea berangkat ke Jakarta. Dengan penerbangan paling awal. Perasaan campur aduk yang di rasakan Diandra, membuat dirinya gelisah saat berada di bandara dan di dalam pesawat.


" Tenang, Nduk."


" Dian bingung bude. Kenapa Dayana seperti ini ke Dian."


Bude Ayu hanya mengelus punggung tangan keponakannya itu. Sedangkan Raka tampak mengepalkan tangannya.


" Kamu semestinya gak harus pulang, Di. Kalau cuma menyakiti hati kamu."


" Dian mau dengar semua penjelasan ini, Bude. Dian masih belum percaya."


Setelah hampir dua jam mereka pun tiba di bandara. Mereka semua langsung menuju rumah Pak Bayu. Di teras rumah, sudah ada tenda yang terpasang. Dan beberapa orang yang akan memasang perlengkapannya.


Diandra menatap pilu semua yang ada di hadapannya. Sementara itu, Raka tampak menghela nafasnya. Mencoba mengatur emosi di hatinya.


" Assalamualaikum..."


Salam dari Diandra membuat Dayana dan Maya yang sedang melihat beberapa orang yang sedang mendekor ruangan terperanjat.


" Waalaikum salam...Dian..."


Dian menatap ke arah Dayana. Pak Bayu yang baru saja tiba pun terkejut melihat kedatangan anak perempuannya. Bu Maya pun tak kalah terkejut melihat kedatangan Diandra serta Kakak iparnya.


Plaakkk


Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Dayana. Membuat Bu Maya dan Pak Bayu terkejut dengan apa yang di lakukan Diandra.


" Diandra, apa-apaan kamu?"


Ucap Bu Maya sambil merengkuh Dayana dalam pelukannya. Melihat Diandra tiba-tiba datang saja sudah membuatnya terkejut , di tambah lagi Diandra yang menampar wajah Dayana secara keras. Sudah pasti membuat Bu Maya semakin terkejut.


" Apa-apaan ibu bilang? Kalian yang apa-apaan. Tega kamu Yan, tega kamu melakukan ini ke aku. Aku gak pernah ganggu kebahagiaan kamu. Tapi kamu selalu saja merebut kebahagiaanku. Apa salah ku? Hah...apa?"


Yana masih memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari Diandra. Yana hanya menangis di pelukan Ibunya.


" Siapa yang merebut kebahagian kamu. Yana hanya meminta pertanggung jawaban atas perbuatan yang sudah Ferry lakukan padanya."


" Meminta pertanggung jawaban? Apa


maksudnya?"

__ADS_1


Bu Maya pun menceritakan semua yang di ceritakan Yana padanya. Diandra menggeleng tak percaya.


" Dian gak percaya, kalian pasti bohong?"


" Tapi itu yang terjadi, bahkan ibunya yang memohon pada Yana untuk mencabut gugatan nya. Dan sebagai balasannya, Ferry di minta menikahi Yana. Karna bagi wanita, dirinya akan merasa sangat rendah, saat kehormatannya di renggut. Yana juga terpaksa menerima Ferry. Apa kamu pikir, lelaki seperti Ferry itu punya masa depan yang baik. Gak, Dian. Ferry itu mantan napi, dan seorang pemerkosa."


Bu Maya terus saja merendahkan Ferry.


" Asal kamu tau, Dian. Ibu juga keberatan Yana menikah dengan Ferry. Yana bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dan lebih kaya. Bukan seorang anak penjual kue. Yana harapan ibu untuk membuat keluarga ini lebih baik. Tapi nyatanya apa, Yana harus berhenti gara-gara ulah pacar kamu yang bajingan itu. Paham kamu !!!!! "


Diandra terdiam. Hati dan pikirannya tak sinkron. Diandra percaya bahwa Ferry tidak mungkin melakukan hal rendah seperti itu. Namun ucapan Ibunya membuat Diandra ragu. Diandra merasa seluruh sendinya lemas, kalau Raka tidak ada di sebelahnya, bisa saja Diandra terjatuh saat itu.


" Jadi kapan pernikahannya?"


" Besok."


Jawab Bu Maya, sedangkan Diandra tampak


tersedu di pelukan Raka. Melihat kondisi Diandra dan keadaan yang baru saja terjadi, Raka akhirnya membawa Diandra pergi dari sana.


Di perjalanan, Diandra tak henti menangis.


" Tapi aku gak percaya, Mas. Aku kenal Ferry. Dia buka laki-laki seperti itu."


" Ibumu sudah mengatakan apa yang terjadi Dian. Gak mungkin ibumu bohong."


" Tapi, Mas...Dian masih belum percaya."


" Terus kamu maunya apa, bertemu dengan lelaki itu? Hati kamu bakalan lebih sakit dari ini, Dek. Percaya sama Mas."


" Tapi...."


Bude Ayu membelai punggung Dian. Air mata terus menetes sejak tadi di pipinya.


" Tenangkan diri kamu, baru kamu bisa ambil keputusan. Oke."


" Percuma, Ma. Gak akan merubah apapun. Besok pernikahan mereka-"


Belum semua ucapan Raka keluar, tapi sorot mata Mama nya membuatnya membungkam mulut. Raka tau, Diandra butuh kejelasan, tapi baginya penjelasan yang di sampaikan Bulek Maya tadi, yang merupakan ibu dari Diandra.


Setibanya di hotel, Diandra berjalan gamang. Hatinya masih sakit, namun logikanya tak menerima semua penjelasan yang di berikan ibunya. Apalagi sorot mata Dayana, membuatnya semakin ingin mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Jika memang Dayana membuat laporan untuk memenjarakan Ferry, lalu kenapa Dayana juga menerima permintaan ibu Ferry untuk menikah dengannya. Aneh, itulah yang di rasakan Diandra.


Penjelasan dari sahabatnya yang bertolak belakang dengan penjelasan yang di katakan ibunya membuat Diandra semakin bingung.


" Ya Allah, ada apa sebenarnya, mana yang hamba percaya?"


Diandra bergumam sendiri di sela tangisnya. Bohong jika saat ini hatinya tak sedih. Satu pihak, Ferry adalah cinta pertamanya yang tak pernah terlihat buruk sejak dirinya mengenal lelaki itu. Sebelah pihak lagi, saudara kembarnya, yang mengaku sudah di rusak oleh cinta pertamanya.


Sampai menjelang malam, Diandra hanya banyak diam. Panggilan dari sahabatnya pun tak di jawab olehnya. Hingga sebuah pesan masuk membuat Diandra cepat beranjak pergi dari hotel tempatnya menginap.


" Dian..."


Raka menggumam nama Diandra saat dia melihat adik sepupunya itu berjalan tergesa sambil memakai tas selempang.


Raka mengikuti Diandra yang pergi keluar hotel. Dirinya tak ingin terjadi sesuatu pada adik nya ini. Diandra tampak menghentikan sebuah taksi dan masuk ke dalamnya. Raka pun demikian, meminta supir taksi yang di tumpanginya mengikuti kemana taksi yang ada di depannya.


Suara panggilan telepon membuat Raka menoleh ke arah benda pipih yang selalu di bawanya itu.


" Assalamualaikum, Ma.."


" Waalaikum salam, Raka... Diandra gak ada di kamar, apa Dian ada di sama kamu?"


Bude Ayu terdengar cemas.


" Tenang, Ma. Raka sedang mengikuti kemana taksi yang di tumpangi Dian."


" Ya Allah, adek kamu itu mau kemana Mas?"


" Raka gak tau, Ma. Ya udah dulu ya. Nanti Raka telepon mama lagi."


Setelah mengucapkan salam, Raka pun memutus panggilan itu. Tampak taksi yang di tumpangi Dian berhenti di sebuah taman. Diandra pun masuk setelah membayar taksi itu. Raka pun demikian, lalu mulai mengikuti kemana Diandra.


Diandra berhenti di satu bangku, yang sudah ada lelaki di sana. Wajahnya tampak kusut, dengan mata yang berkaca-kaca.


" Ferry...."


Diandra mengapa pelan. Mendengar namanya di sebut, Ferry pun menoleh.


" Di..."


Ferry bangkit dari duduknya, lalu memeluk Diandra. Tampak bahunya bergetar. Begitu juga dengan Diandra. Bahunya bergetar hebat. Sementara Raka memperhatikan mereka dari jarak yang tak terlalu jauh.

__ADS_1


__ADS_2