Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 14


__ADS_3

Malam sebelumnya...


Ferry yang baru saja selesai berbicara di telepon dengan Diandra terkejut melihat kehadiran Dayana. Ferry melihat Dayana yang berbeda. Pakaian yang terbuka serta tertawa bersama temannya. Jangan lupakan, ada gelas minuman di hadapannya. Ferry melihat dengan jelas.


" Napa? Kayak baru kali ini aja liat cewek begitu."


Ucap Rey, salah satu teman Ferry.


" Itu...si Yana kan?"


Ucap Ferry sambil terus melihat ke arah Dayana guna meyakinkan pandangan nya.


" Iya, itu Yana. Dia sempat dekat kan sama Lo."


Ferry menolehkan wajah ke arah Rey. Sedangkan Rey masih melihat Yana. Lalu melihat ke arah Rey. Dan menaikan sudut bibirnya.


" Gak usah kaget. Yana sering kok kek gitu. Kelihatannya aja dia Alim, gak banyak ulah. Tapi ya gitu pergaulannya. Kalau aku gak melihat sendiri aku juga gak percaya, syukur Lo udah gak Deket lagi ma dia."


Ferry semakin mengerutkan keningnya, tak mengerti arti ucapan Rey.


" Dia itu sering keluar masuk hotel. Sama itu, cowok yang di sampingnya itu, Si Denny. Yah, tau sendiri lah, pergaulannya Denny kayak apa? Lo gak cemburu kan? "


Pertanyaan Rey, sontak mendapat hadiah pukulan di pundaknya.


" Gilak Lo, ya enggaklah. Cuma gue gak nyangka aja, kalau Yana kek gini kelakuannya. Kasian orang tuanya."


Ucap Ferry. Membuat Rey menatap tajam ke arahnya. Dan membuat Ferry langsung merubah ekspresi wajahnya.


" Rumah gue sama rumah dia itu gak jauh-jauh amat. Gue juga kenal sama keluarganya. Jangan mikir yang macem-macem Lo."


Rey tertawa.


" Gue kira hubungan Lo udah dalam sama dia. Makanya sampe Lo kenal ma orang tuanya."


" Gue deket sama kembarannya. Kembaran dia pacar gue."


Rey menatap tak percaya.


" Dia punya kembaran?"


Akhirnya Rey dan Ferry pun bercerita. Bagaimana dirinya bisa tau tentang Yana. Dan bercerita tentang kisah asmaranya dengan Diandra. Membuat Rey tertawa tak percaya.


" Gue kira Lo deket karena emang lo suka ma dia. Gak taunya karena Lo tetanggaan."


Setelah itu, teman-teman Ferry yang lain pun mengajak mereka untuk bergabung. Disaat itu, Ferry hanya meminum minuman bersoda, tanpa menyentuh alkohol sama sekali.


Tak lama, Yana dan teman-temannya pun duduk di meja yang tak jauh dari mereka. Tatapan Yana dan Ferry bertemu. Namun Yana hanya memberikan senyum menggoda. Ferry dengan cepat memutus pandangan mata itu. Dan itu membuat Yana sedih. Yana tau betul, saat ini dirinya masih dalam keadaan setengah sadar. Alkohol yang masuk ke tubuhnya belum sepenuhnya membuat diri nya melayang.

__ADS_1


Lantunan suara musik terus menusuk gendang telinga para manusia yang hadir malam itu. Saat ini pesta sudah hampir berakhir. Yana yang dalam keadaan setengah sadar pun masih terus sesekali menatap ke arah Ferry. Saat Ferry akan meninggalkan lokasi, Yana pun dengan cepat mengikutinya.


" Ferry, Tunggu."


Ferry yang tahu siapa orang yang memanggilnya. Hanya menghentikan langkah tanpa menoleh ke arahnya.


" Fer, aku..."


" Ternyata begini kelakuan anak yang selalu di banggakan oleh ibunya. Miris..."


" Jaga bicara Lo. Lo gak berhak menilai gue. Oke, gue cuma mau bilang ke elo, jangan sampe kejadian malam ini di ketahui oleh orang tua Gue. Terutama Diandra."


Setelah berkata seperti itu, Dayana pun melangkah menjauh.


" Gue akan tetap bilang ke Diandra. Dia berhak tau apa yang terjadi dengan saudaranya."


Yana menghentikan langkahnya. Lalu kembali ke Ferry.


" Fer, gue mohon sama Lo. Cuma Lo yang tau. Jangan sampe nyokap ataupun Diandra tau. Lo mau kan Fer, nolongin gue?"


" Oke,.untuk malam ini gue gak akan bilang. Bukan karena gue mau nolongin elo. Gue cuma kasian aja sama Pak Bayu, Bokap Lo."


" Makasih Ya Fer...kamu baik banget.."


Yana langsung memeluk Ferry. Ferry yang dalam keadaan tak siap pun pada akhirnya terjatuh tepat dengan Dayana di atasnya. Namun saat kejadian itu, Denny pacar Dayana melihat dan langsung menarik Dayana. Sedangkan Ferry langsung mendapat hadiah bogem mentah dari Denny.


" Mau ngapain Lo? Hah?? Lo mau ciuman ma dia? gak puas Lo maen ma Gue??"


" Denny...sakit. Kamu salah paham. Aku cuma.."


" Cuma apa..dasar Lo..."


Umpatan keluar dari mulut Denny. Denny pun pergi meninggalkan Yana dan Ferry di parkiran.


Yana tampak menangis di parkiran. Sementara Ferry menatap Yana dengan sorot mata yang tak terbaca.


" Gue gak nyangka, ini Yana yang dulu pinter, pendiam dan selalu di banggakan."


Lalu Ferry pun melangkah, namun tiba-tiba saja, Yana berkata lantang.


" Ini semua karena Dian. Aku begini karena Dian. Apa kamu gak sadar itu? Hah???"


Ferry mengerutkan keningnya. Tidak paham dengan ucapan Yana.


" Kamu tau, sejak dulu, Dian selalu mendapatkan kasih sayang lebih. Dari Ayah, dan juga saudaraku yang lain. Tapi aku?? Mereka selalu saja menganggap aku sebagai orang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan aku tidak memiliki sahabat seperti Diandra. Aku iri pada Diandra. Aku iri...."


Ucap Dayana di sela isak tangisnya.

__ADS_1


" Tapi gak gini caranya, Yan. Diandra gak salah apa-apa. Apa Lo tau, sejak dulu Dian selalu mengalah sama Lo. Dan sekarang Lo ngancurin hidup Lo sendiri, itu bukan salah Diandra."


" Tetap itu salahnya. Karena Dian, Lo gak pernah ngeliat gue. Gue mau Lo perhatian ke gue kayak Lo perhatian ke Dian. Paham Lo?"


Ferry menggelengkan kepalanya.


" Mabok Lo. Lama-lama ngomong Lo ngelantur."


Ferry pun berbalik.


" Gue suka sama Lo, Fer. Gue cinta sama Lo. Sejak dulu, tapi Lo gak pernah melihat itu di diri gue."


Ferry berhenti. Lalu menggelengkan kepalanya.


" Lo benar-benar mabok, Yan. Lo makin ngelantur."


Ferry pergi meninggalkan Yana sendirian disana. Ferry pergi menggunakan motor miliknya. Sedangkan Yana kembali terisak.


Ferry tiba di rumahnya menjelang subuh. Setelah masuk dan membersihkan diri, Ferry pun tertidur. Tak tahu berapa lama Ferry tidur. Sampai Ferry merasa jika tubuhnya terguncang. Ferry pun membuka matanya, dan melihat sang Bunda yang sedang meneteskan air mata.


" Bunda...bunda kenapa?"


Ferry langsung mendudukkan tubuhnya. Mendengar pertanyaan dari Ferry, Bunda Mira, semakin terisak.


" Bun, ngomong dong. Abang gak paham, kalo bunda nangis begini."


Bunda Mira pun menyeka air matanya. Lalu menatap ke anak lelaki kebanggaan nya itu.


" Bang, di depan ada orang tuanya Diandra. Mereka mau ketemu sama Abang."


Ferry mengerutkan keningnya.


" Mau apa, Bun? Ko tumben?"


Ferry pun segera bangkit dan menuju ke pintu kamarnya.


" Mereka minta pertanggung jawaban dari Abang. Dayana saat ini masuk rumah sakit, karena perbuatan Abang..."


.


.


. **Assalamualaikum reader tersayang....


Aku mohon jangan lupa, Like, komen, gift serta vote nya ya...πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ


Terima kasih readers tersayang...😘😘😘**

__ADS_1


.


.


__ADS_2