
Tanpa Dayana sadari, bahwa Ferry sejak tadi sudah memperhatikan gerak-gerik nya. Ferry kembali ke rumah, saat melupakan sesuatu, dan saat itulah Ferry mendengar kalau Dayana sedang menerima telepon dari seseorang.
Ferry hanya menatap dingin Dayana. Ferry yakin jika itu adalah telepon dari kekasihnya Dayana. Dayana tersentak kaget, ketika melihat Ferry yang ada di belakangnya.
" Fer...aku..."
Ferry hanya diam, lalu masuk ke kamarnya mengambil sesuatu dan kembali keluar.
" Fer, tunggu. Bagaimana dengan pakaianku, kamu mengunci lemarimu. Aku gak bisa menyimpan pakaian ku di sana."
Ucap Dayana saat Ferry menghentikan langkahnya.
" Pakaianmu tetap di dalam koper."
Dayana terperangah tapi tak bisa berkata apa-apa. Dayana hanya bisa pasrah.
" Hm...oke."
Ferry pun pergi dengan motornya. Kini Dayana hanya seorang diri di rumah. Untuk membunuh kejenuhan, Dayana hanya bisa memainkan ponselnya. Saat membuka aplikasi hijau, Dayana melihat nomor milik Diandra yang tak lagi memakai foto. Saat Dayana mencoba mengirim kan pesan, ternyata hanya centang satu. Dayana yakin jika kini, Dayana sudah di blokir oleh Diandra.
Sementara di kota lain.
Raka masih berperang dengan batinnya. Satu sisi, Diandra adalah adik sepupunya, tapi hatinya menginginkan Diandra untuk menjadi pasangan hidupnya.
" Mas, kamu kenapa sih? Kok mama perhatikan kita kembali ke sini, kamu sering diam? Kamu mikirin apa?"
Raka tersenyum menutupi kegelisahan hatinya.
" Gak ada apa-apa kok, Ma. Raka baik-baik aja. Cuma banyak kerjaan di kantor, jadi pikiran Raka terbagi. Itu aja."
" Yakin kamu?"
" Iya, Mama...Hm, Ma, Dian kemana, kok Raka belum ada lihat Dian satu harian ini?"
Bude Ayu menghela nafasnya.
" Diandra di kamarnya, menyendiri. Biarkan aja lah dulu, Mas. Diandra pasti butuh waktu untuk menyendiri. "
Raka menata pintu kamar Diandra. Lalu mengangguk. Setelah berbincang sejenak, Bude Ayu pun meninggalkan Raka sendiri. Raka kembali memandang pintu kamar Diandra. Raka berinisiatif menemui Diandra di kamarnya.
Tok...
Tok...
Tok...
__ADS_1
Raka mengetuk pintu kamar Diandra.
" Di..."
Raka memanggil Diandra. Diandra pun membuka pintu kamar, dan tampak Raka yang berdiri di depan pintu kamarnya. Wajah Diandra tampak sendu, hidungnya memerah, dan matanya sedikit bengkak, Raka tau, Diandra pasti habis menangis.
" Ada apa, Mas?"
Tanya Diandra parau. Raka menipiskan bibirnya, namun matanya menelisik wajah Diandra yang sendu itu.
" Kita jalan-jalan yuk."
Diandra menggeleng. Membuat Raka merubah ekspresi wajahnya.
" Dian lagi gak pingin kemana-mana, Mas. Dian pingin di rumah aja."
Ucap Diandra dan kembali masuk ke kamarnya, dan duduk di tepi ranjang meninggalkan Raka yang berdiri di depan pintu. Raka menghela nafasnya.
" Di rumah, duduk diam dan menangis. Mas gak mau, kamu terlalu larut dalam kesedihan. Laki-laki kayak gitu gak pantas kamu tangisi, Di."
" Rasanya masih sakit, Mas. Setiap mengingatnya. Gak mudah buat Dian."
Ucap Diandra dengan pandangan lurus. Raka mendekat dan duduk di sampingnya. Memegang bahunya.
Diandra menatap Raka, Raka pun menipiskan bibirnya lalu mengangguk. Raka lalu mengubah senyumannya, dan menarik tangan Diandra.
" Sekarang kamu siap-siap, Kita keluar, jalan-jalan atau kemana pun. Mas akan ikuti semua mau nya kamu."
" Tapi...Mas, Dian gak mau kemana-mana..."
Tolak Diandra saat Raka membawanya menuju lemari pakaian. Raka membuka lemari dan memilih pakaian yang akan di kenakan Diandra.
" Mas gak mau ada penolakan. Ayo cepet, Mas tunggu di bawah. Oke.."
Ucap Raka sambil menarik Diandra ke dalam kamar mandi, lalu Raka menutup pintu kamar mandi dan keluar dari kamar Diandra.
Diandra yang berada di dalam kamar mandi pun, segera mengganti pakaiannya. Setelah sedikit memoles bedak dan juga lipstik berwarna lembut di bibirnya,.Diandra pun keluar dari kamarnya. Sudah ada Raka yang menunggu sambil memainkan ponsel. Sedangkan Bude Ayu sedang menonton televisi.
" Kamu cantik banget, mau kemana Sayang?"
Ucap Bude Ayu sambil beranjak dari duduknya.
" Ni, mas Raka ngajakin keluar. Padahal dia lagi gak mood, Bude."
Diandra mengadu pada bude ayu. Di sambut dengan senyuman lembut dari wanita yang merupakan kakak ipar dari ayahnya itu.
__ADS_1
" Raka bener, sebaiknya kamu jalan-jalan atau nonton, atau apalah. Jangan di kamar terus. Biar kamu gak kepikiran terus. Tatap masa depan kamu, Sayang. Lupakan mereka yang telah menyakiti kamu."
Diandra mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Tak pernah dirinya merasa di sayangi sedalam ini. Selama ini justru ibunya sering menorehkan luka di hati Diandra.
" Hm..Dian akan coba bude. Pelan-pelan Dian akan melupakan mereka."
Ucap Diandra dengan suara serak. Bahkan setetes air mata sudah jatuh di pipinya.
" Udah dong, mau keluar ini. Kok malah nangis lagi. Mulai hari ini, mas gak mau lihat kamu nangis lagi. Kalaupun air mata kamu keluar, itu air mata bahagia, bukan karena sedih atau pun di sakiti."
Ucap Raka sambil mengusap kepala Diandra. Diandra hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
" Ma, Raka jalan dulu ya."
" Dian pergi ya, Bude."
Kedua orang itu pun pergi setelah berpamitan dan mencium tangan wanita yang sangat mereka sayangi.
" Hati-hati ya. Mas juga, hati-hati bawa mobilnya. Dan pulangnya jangan terlalu malam."
" Iya, Ma.."
Mereka pun pergi mengendarai mobil. Dengan Raka yang mengemudi. Sedangkan Diandra berada di sisinya. Sesekali Raka mencuri pandang ke arah Diandra.
" Kenapa sih, Mas. Kok Dian perhatiin dari tadi mas bolak balik liatin Dian. Ada yang aneh ya di wajah Dian? Apa bedak Dian ketebelan?"
Raka tersenyum. Lalu menggeleng.
" Gak, gak kenapa-kenapa kok."
Ucap Raka, sambil terus mengemudi.
" Tapi mas-"
" Mas cuma baru sadar aja, ternyata adik Mas ini cantik juga."
" Ih...apaan sih Mas. Geli tau. Denger Mas ngomong gitu."
"Loh, kenapa...kan gak salah mas ngomong gitu."
" Tapi Dian geli dengernya. Mas lagi belajar ngegombal ya. Mas pasti lagi jatuh cinta kan? Ayooo...jujur sama Dian."
Raka hanya tersenyum. Menanggapi omongan Diandra. Lalu kembali pandangan matanya menatap lurus jalan di depannya.
" Seandainya kamu tahu, Di. Saat ini memang Mas sedang jatuh cinta. Yah, betul yang kamu ucapkan. Mas jatuh cinta. Dan orang yang membuat Mas jatuh cinta itu adalah Kamu. Seandainya kamu tahu, Di. Apa kamu akan tetap bersikap seperti ini terus. Mas takut, jika Mas mengungkapkan isi hati Mas, kamu akan menjauh dari Mas. Mas bingung, Di. Bagaimana caranya agar kamu paham, jika yang mas lakukan ini, bukan hanya sebagai bentuk perhatian seorang Kakak terhadap adik perempuannya. Tapi lebih kepada seorang pria kepada wanita yang di cintainya."
__ADS_1