
Usia kehamilan Dayana memasuki bulan ke empat, dan selama ini hubungan Dayana dan Diandra semakin membaik. Diandra masih betah tinggal di kost-kostan,sementara Dayana terus membujuk agar Diandra pulang ke rumah orang tuanya.
" Gak mudah untukku pulang ke rumah ibu, Yan. Aku masih belum siap, jika ibu -"
Dayana menggenggam tangan Diandra.
" Ibu juga kangen kamu. Dan maaf, karena aku kamu jadi sering tersakiti oleh ibu."
" Udah dong, Yan. Kayaknya selama beberapa bulan ini kamu sering banget minta maaf. Kupingku pengeng denger kamu minta maaf terus."
Dayana tertawa pelan. Tak lama, Ferry pun datang menjemput. Memang tadi Dayana meminta untuk diantarkan ke kost-kostan Diandra. Setelah itu, Ferry menuju Bengkel yang menjadi tempat usahanya.
" Kami pamit dulu ya, Di. Lain kali, kamu main ke rumah ya?"
Diandra hanya mengangguk. Sedangkan Ferry tersenyum tipis lalu berpamitan sekedarnya pada Diandra. Ferry juga membukakan pintu mobil untuk Dayana. Bahkan tangannya berada di atas kepala Dayana saat Dayana akan memasuki mobil.
Diandra kembali ke kamar setelah mobil yang membawa saudara kembarnya itu menjauh dan menghilang di persimpangan jalan.
Diandra mengecek ponselnya, sudah tiga hari ini Zaidan tidak memberikan kabar sama sekali. Diandra menghela nafasnya.
" Resiko LDR ya begini. Tiba-tiba menghilang tanpa kabar."
Diandra bergumam kecewa. Kenangan saat dulu dirinya bersama Ferry menjalani hubungan jarak jauh pun terbayang. Tiba-tiba Ferry tanpa kabar, dan berakhir Ferry yang menikahi saudaranya. Tanpa terasa air mata Diandra jatuh.
" Apa akhirnya akan sama seperti sebelumnya."
Diandra menghela nafas yang terasa tercekat. Bukan karena melihat Dayana dan Ferry yang saat ini tengah bahagia, tapi kilasan rasa sakit itu muncul saat Zaidan tak memberi kabar.
Sampai malam menjelang, ponsel Zaidan sama sekali tak bisa di hubungi, bahkan pesan yang di kirim pun hanya centang satu. Diandra hanya bisa menunggu kabar dari teman yang lain, tapi hasilnya juga sama. Teman seprofesi nya tak ada yang memberikannya kabar seperti yang di mintanya. Diandra tertidur setelah tak mendapatkan kabar sama sekali.
Diandra terbangun saat merasakan cahaya matahari masuk ke kamarnya melalui jendela kamar yang tak tertutup gorden. Setalah subuh tadi, Diandra kembali terpejam, saat dirinya merasa kepalanya berdenyut. Diandra bangun dan langsung membersihkan diri. Memakai pakaiannya dan turun menuju dapur kost-kostan ini.
Tadinya Diandra ingin membuat sarapan, namun di urungkan dan akhirnya Diandra pergi menuju rumah sakit tempatnya bekerja.
__ADS_1
Selama melaksanakan pekerjaannya, Diandra mengesampingkan masalah pribadinya. Saat berjalan menuju kantin, Diandra mendengar perawat yang berbisik-bisik bahwa akan ada dokter baru di rumah sakit ini. Diandra mengerut keningnya.
Dan benar saja, saat aku tiba di ruangan ku pun perawat berkata hal yang sama.
" Kabarnya sih, dokternya guanteng Dok. Gak sabaran pingin liat kayak apa. Kalo masih single kan bisa ngantri gitu untuk jadi istrinya."
Aku menggeleng kan kepala saat mendengar perawat itu berkata. Saat melihat reaksiku, perawat itu tertawa lebar.
" Saya menghayalnya ketinggian ya Dok?"
" Gak apa-apa, Mbak. Mana tau bisa jadi kenyataan."
Akhirnya mereka pun sama-sama tertawa. Sore menjelang, Diandra kembali pulang ke kost-kostan nya. Namun saat di depan gerbang, Diandra melihat motor Ayahnya terparkir disana.
" Ayah..."
Diandra langsung berlari menuju Ayahnya. Dan memeluknya.
" Ayah, Dian kangen..."
Lalu Diandra pun membawa Ayahnya masuk ke dalam kamarnya.
" Ayah udah lama nunggu Dian?"
Diandra bertanya sambil melepas jas dokternya. Lalu membuatkan secangkir teh hangat untuk ayahnya.
" Gak lama, paling sekitar sepuluh menit."
" Gimana keadaan toko, Yah? Lancar kan?"
Ayahnya memandang ke arah Diandra. Lalu mengangguk.
" Di...ayah mau ngomong. Duduk dekat Ayah."
__ADS_1
Pak Bayu meminta Diandra duduk dengan menepuk tempat kosong di sebelahnya.
" Ada apa Yah?"
Tanya Diandra bingung.
" Dayana sudah menceritakan semuanya pada Ayah. Ayah senang melihat kedua anak Ayah akur kembali."
Diandra tersenyum lalu memeluk lengan ayahnya.
"Bagaimana pun, kami saudara kembar Yah. Kami tetap satu, walau kami ada dua."
Pak Bayu tersenyum mendengar perkataan Diandra.
" Ayah mau minta sesuatu, besar harapan Ayah kamu mau mewujudkannya."
Diandra mengangkat wajahnya melihat ke arah lelaki tercintanya ini.
" Apa Ayah.... kalau Dian bisa, Dian akan turutin kemauan ayah."
" Nak...Dayana dan Ferry berencana melakukan pengajian empat bulanan kehamilan Dayana. Dan itu akan di laksanakan Minggu depan."
Diandra masih menyimak ucapan Ayahnya yang terjeda sesaat.
" Acaranya diadakan di rumah. Karena ibu yang meminta."
Diandra menegakkan tubuhnya. Diandra mulai paham kemana arah pembicaraan ini.
" Kamu pulang ya, Nak. Kita ada di satu kota, tapi kamu memilih menjauh dari kami. "
Pak Bayu meminta Diandra kembali pulang ke rumah mereka. Diandra diam sesaat .Setelah pembicaraan itu, Pak Bayu dan Diandra hanya saling diam. Diandra masih tak tahu, apakah dirinya akan pulang atau memilih untuk tidak hadir.
" Ayah pulang dulu. Ayah yakin kamu pasti capek. Jaga kesehatan kamu, Nak. Jangan tidur terlalu malam. Jangan lupa makan, dan sholatnya."
__ADS_1
Diandra hanya mengangguk. Lalu mencium tangan lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu. Diandra pun menghantarkan Pak Bayu hingga Diandra tak lagi melihat punggung pak Bayu.