Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 51


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Dayana dan menghabiskan secangkir kopi. Ferry masuk ke kamar mandi, sedangkan Dayana menyiapkan pakaian yang akan di pakai oleh Ferry. Kini mereka berdua menempati kamar utama, tak ada lagi drama pisah kamar.


Ferry keluar dari kamar mandi, dan melihat Dayana yang sedang duduk di tepian ranjang. Hijab yang tadi di gunakannya telah dilepas. Hingga kini rambut hitam Dayana terlihat. Memang Ferry meminta Dayana untuk tidak memakai penutup kepalanya jika berada di dalam kamar.


Ferry membelai rambut Dayana, dan Dayana pun mendongak melihat Ferry. Tetesan air yang jatuh dari rambut Ferry membuat kesan seksi pada dirinya. Dayana bahkan sampai mengalihkan pandangannya saat melihat tubuh bagian atas Ferry.


Ferry menahan dagu Dayana. Bahkan tubuhnya sedikit membungkuk demi mendekatkan wajahnya ke wajah Dayana yang tampak memerah.


Ferry mendekat kan wajahnya ke wajah Ferry. Dan menahan wajah Dayana untuk tetap melihat ke arahnya. Ferry semakin mendekatkan wajahnya, Ferry dengan lembut ******* bibir Dayana. Membuat bola mata Dayana membulat.


Dayana menahan dada bidang milik Ferry. Saat dirinya merasa Ferry semakin mendekat. Namun Ferry semakin menahan tengkuk Dayana. Mereka berhenti di saat Ferry merasa Dayana semakin kehabisan nafas. Dayana memalingkan wajahnya yang memerah. Sedangkan Ferry duduk di samping Dayana, sambil meremas jemari istrinya itu.


Ferry kembali membawa wajah Dayana untuk menatap ke arahnya. Di usapnya bibir Dayana yang memerah dan membengkak akibat ulahnya. Tatapan mereka bertemu, dan membuat jantung Dayana berdegup kencang.


" Boleh Abang meminta hak Abang?"


Dayana menelan ludahnya kasar. Namun Dayana sadar, jika Ferry punya hak atas dirinya. Dayana mengangguk dan akhirnya, malam itu Ferry menjadi kan Dayana istri sesungguhnya. Tanpa paksaan dan Dayana menyerahkan dirinya. Malam panjang itu pun berakhir setelah Ferry dan Dayana mencapai puncak cinta mereka.

__ADS_1


Ferry merengkuh tubuh Dayana yang masih berada di dalam selimut. Bahkan Ferry beberapa kali mendaratkan kecupan di puncak kepala wanita yang bergelar istrinya itu.


" Bang, besok antarkan aku ke rumah ibu ya. Aku mau membujuk ibu. Hubungan Dian dan ibu seperti ini juga karena aku."


Ferry membelai bahu Dayana yang terbuka.


" Jangan terus menyalahkan diri sendiri. Kita lakukan saja yang terbaik.Oke?"


Dayana menganggukan kepalanya. Setelah itu, Ferry pun bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Ferry membersihkan diri. Lima belas menit kemudian, Ferry pun keluar, lalu membangunkan Dayana yang sudah terlelap.


Dayana menggeliatkan tubuhnya. Lalu beranjak ke kamar mandi. Dayana melihat air yang di siapkan oleh Ferry. Hati Dayana bahagia. Namun baginya rasa bahagianya belum lengkap, karena saudaranya masih belum bahagia.


" Sayang, bantu ibu ya. Kita buat Nenek dan Tante Dian akrab. Biar kebahagiaan di keluarga kita lengkap saat kamu lahir nanti."


Dayana berbicara sambil mengelus perut buncitnya. Malam itu, setelah membersihkan diri, Dayana juga melihat Ferry yang sedang membereskan ranjang.


" Biar aku aja, Bang."

__ADS_1


" Udah selesai kok. Kamu cepetan pake baju, trus kita makan."


Dayana memakai pakaiannya di dalam kamar, sebenarnya ada rasa malu, namun Ferry tak membiarkannya masuk kembali ke kamar mandi.


Selesai makan malam, Dayana duduk di teras belakang. Menikmati udara malam, sedangkan Ferry sedang membuatkan susu untuk Dayana.


" Di minum susunya."


Ferry mengangsurkan gelas berisi susu coklat di dekat Dayana. Sejak hubungan mereka membaik, hampir setiap malam, Ferry lah yang membuatkan susu untuk Dayana.


Dayana sering melarang, namun Ferry tetap saja keras kepala. Ferry bilang, jika saat siang hari, dirinya tidak bisa memanjakan Dayana, karena harus bekerja. Sedangkan saat malam, Dayana tidak pernah ngidam macam-macam seperti ibu hamil pada umumnya.


" Yan, kok kamu gak minta aneh-aneh. Biasanya kan ibu hamil selalu aja ada permintaan nya. Abang juga pingin merasakan repotnya nurutin ngidam istri."


Dayana yang mendengar ucapan Ferry tertawa.


" Itu tandanya Dede Bayu sayang sama Abang. Gak mau bikin Abang repot. Dede Bayi tau, kalau Abang itu sibuk."

__ADS_1


__ADS_2