Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 37


__ADS_3

Setelah berkutat dengan pekerjaannya. Sekarang waktunya Diandra pulang. Saat menyusuri lorong rumah sakit, kakinya terhenti. Raka berdiri tepat di ujung lorong, tak jauh dari Diandra berada. Raka menipiskan bibirnya. Sedangkan Diandra menatap Raka dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Di, ...."


" Mas Raka, kok ada disini? Siapa yang sakit?"


Diandra berusaha untuk biasa saja. Bagaimana pun, Raka dan keluarganya sangat berjasa untuk hidup Diandra.


" Mas mau ketemu kamu, Mama sama papa juga kangen sama kamu. Udah lama kamu gak ke rumah, Di."


" Mas...Dian..."


Raka menghela nafasnya.


" Maafkan mas , Di. Karena Mas, kamu menghindar dari kita semua. Mas salah, gak seharusnya Mas menaruh hati ke kamu. Adek mas sendiri."


Diandra diam. Raka datang hanya untuk mengatakan bahwa dirinya akan membuka usaha baru di kota lain. Sedangkan usahanya yang di sini akan di pegang oleh Tika. Tak lama setelah itu, Raka pun pamit. Tanpa Diandra sadari, ada Zaidan yang melihat mereka. Saat Diandra terdiam di duduknya Zaidan mendatangi Diandra.


" Kok pacar kamu pergi? Kalian bertengkar?"


Diandra menoleh ke arah Zaidan. Keningnya berkerut. Ekspresi wajahnya sulit di tebak.


" Emangnya kami kelihatan seperti orang pacaran? "


Zaidan mengangkat bahunya. Membuat senyum terbentuk di bibir Diandra.

__ADS_1


" Dia sepupu aku, Mas. Rasa sayangnya ke aku, sama seperti rasa sayangnya ke adik kandung nya."


Zaidan menatap lekat ke arah Diandra.


" Kamu gak bohong kan?"


Diandra diam. Untuk mengalihkan pembicaraan, Diandra pun bertanya tentang hari ini pada Zaidan. Zaidan yang tahu, Diandra belum ingin bercerita akhirnya mengikuti kemana arah pembicaraan.


Sampai pada akhirnya, waktu untuk dirinya ke klinik tiba. Jika biasanya, Diandra akan beristirahat sejenak, tapi hari itu, Diandra akan segera ke klinik.


Diandra menghela nafasnya. Satu persatu, masalah di kehidupannya mulai terurai. Mulai dari perselisihannya dengan Dayana. Perasaan cinta Mas Raka pada dirinya. Hanya satu yang belum terjadi. Diandra belum juga pulang ke rumah nya. Ya, ke rumah orang tuanya.


Tawaran untuk bekerja di rumah sakit pusat, masih menjadi pertimbangannya. Jauh di lubuk hatinya Diandra ingin menerima tawaran itu, tapi dirinya belum siap jika harus bertemu dengan ibunya. Kata-kata ibunya yang selalu tak enak di dengar, masih terus menggema di pikirannya.


Namun rasa rindu pada Ayahnya, rasanya juga tidak bisa di bendung lagi. Selama ini, hanya Ayahnya lah yang selalu memberikan semangat. Ayahnya yang selalu membela dirinya. Dan kondisi ayahnya yang sudah semakin menua, membuat Diandra ingin terus berada di dekatnya.


Sudah satu jam yang lalu Diandra duduk di taman dekat apartemen nya. Sejak pulang dari klinik tepatnya. Dan selama itu juga, Diandra masih memikirkan tawaran itu.


Diandra kembali ke unitnya , saat di rasa udara dingin mulai menyentuh kulit tubuhnya. Menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai di mana unitnya berada. Lalu meletakkan ponsel, dan menuju kamar mandi. Membersihkan diri lalu menuju dapur. Walau pun sibuk dengan pekerjaan nya, Diandra selalu membuat makanannya sendiri.


Pintu unitnya terbuka saat dirinya sedang memasak nasi goreng malam itu. Aroma harum langsung menubruk indra penciuman, saat Zaidan masuk.


" Mas, kok aku gak tau kamu datang? Udah makan? Aku masak nasi goreng ni."


Zaidan yang melihat Diandra menghubunginya sampai dua kali, langsung berinisiatif mendatangi apartemen wanita yang sudah mencuri hatinya itu.

__ADS_1


" Kamu menghubungi aku, pasti ada sesuatu yang mau kamu bilang kan?"


Zaidan berkata sambil menarik kursi di dekat meja mini yang langsung berhadapan dengan dapur. Diandra mengangsurkan seporsi nasi goreng dengan telur mata sapi, serta irisan timun.


Diandra duduk di hadapan Zaidan. Lalu menuangkan air ke dalam gelas yang ada di dekatnya.


" Iya, aku mau minta pendapat kamu."


" Soal apa?"


" Tawaran ke rumah sakit pusat."


Setalah berkata itu, baik Zaidan maupun Diandra saling diam. Mereka makan malam bersama, Zaidan menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutnya. Sedangkan Diandra, masih berkutat dengan pikirannya. Setelah menyelesaikan makan malamnya. Diandra dan Zaidan pun saling bertukar pikiran. Lebih tepatnya, Diandra meminta pendapat Zaidan.


" Mas dukung apapun itu, Di. Selama kamu nyaman. Dengan kamu kembali ke Jakarta, berarti kamu sudah bisa menerima semuanya. Pernikahan saudara kembarku dengan kekasihmu, bagaimana sikap.ibumu ke dirimu. "


Diandra menghela nafasnya.


" Soal pernikahan Yana dan Ferry aku sudah ikhlas, Mas. Hanya saat ini, yang aku beratkan, adalah ibu. Aku masih belum siap dengan ucapan ibu. Aku takut, ibu kembali menaruh curiga. Aku capek, Mas."


Zaidan menggenggam tangan Diandra. Menyalurkan kekuatan agar sedikit mengurangi rasa lelah di hati Diandra.


" Apa perlu aku ikut ke Jakarta. Dan bilang ke ibu kamu, bahwa aku calon suami kamu?"


Mata Diandra membulat. Dan saat itu juga Zaidan mengungkapkan isi hatinya.

__ADS_1


" Di, sebenarnya sejak lama aku sudah menaruh hati ke kamu. Hanya saja, aku masih takut untuk mengutarakan nya. Aku gak punya keberanian, Di. Tapi sekarang, aku gak mau kamu jauh dari aku. Aku sayang kamu, Di. Aku mau kamu jadi tempatku pulang. Apa kamu mau menjadi rumahku?"


Diandra terdiam sesaat. Jujur, memang sejak bertemu dengan Zaidan, Diandra pun merasakan rasa nyaman. Rasa tenang dan juga Zaidan mampu mengisi kehampaan di hatinya. Diandra tak menjawab, namun dirinya langsung memeluk Zaidan saat itu. Membuat Zaidan tersenyum. Bahagia.


__ADS_2