
Sebagai seorang suami, Ferry merasa perlu membela Dayana.
" Tapi gue yakin, kalau Yana itu gak cuma main-main. Dia serius dengan apa yang lakukan nya. Gue udah lima tahun hidup bareng dia. Sedikit banyak gue udah ngeliat perubahan dia lah. Dan gue yakin, dia gak main-main."
" Ya, syukurlah."
Mereka banyak bercerita. Sementara Dayana sama sekali gak ikut bergabung dengan Ferry dan teman-teman nya. Bahkan saat tetangga yang ikut membantu pamit pulang, Dayana menghantarkan mereka sampai depan, dan kembali masuk ke rumah.
" Yan, ikut gabung disini."
Ferry memanggil Dayana yang sudah tiba di ujung pintu. Dayana menoleh dan tersenyum.
" Kalian lanjut aja. Aku mau ke dalam dulu."
Dayana menolak secara halus. Membuat Alisha dan Satya menoleh bersamaan.
Saat adegan itu terjadi, ada seseorang yang memperhatikan dari jarak yang tidak terlalu jauh. Diandra. Gadis itu hanya menyaksikan itu terjadi. Ada kerinduan ingin masuk ke dalam rumah itu lagi. Tapi Diandra menahan itu semua.
" Kalau kedatangan mu ke rumah ini cuma ingin memamerkan gelar dokter yang kamu raih, lebih baik tidak usah kembali. Ibu yakin, kamu pasti ingin menjadi orang ketiga di rumah tangga saudaramu. Biarkan saudaramu bahagia, Dian. Dayana berhak bahagia."
Ucapan ibunya kembali terngiang di telinga Dayana. Dua tahun setelah pernikahan Ferry dan Dayana, saat itu Diandra pulang, namun itu membuat ibunya merasa jika Diandra hanya ingin pamer, dan merebut kembali Ferry dari Dayana.
__ADS_1
Zaidan yang berbeda di samping Diandra memegang tangan gadis itu. Hingga membuat Diandra, tersentak. Melihat raut wajah yang berbeda dari Diandra , Zaidan yakin, banyak hal yang masih belum Diandra ceritakan pada nya.
" Menangislah,...jangan di tahan."
Zaidan membawa Diandra dalam pelukannya. Dan membiarkan gadis yang sudah menjadi kekasihnya itu mengeluarkan air mata nya.
Cukup lama mereka memperhatikan rumah itu, hingga saat Bu Maya keluar pada saat akan membuang sampah, Bu Maya menatap mobil yang di tumpangi Diandra cukup lama.
Diandra melihat ke arah Zaidan.
"Mas .."
" Tenang aja, kaca mobil gelap, gak akan tembus ke dalam. Kita gak akan kelihatan."
Zaidan akhirnya membawa Diandra menepi ke sebuah taman. Tempatnya yang sejuk, serta semilir angin berhembus mampu sedikit memperbaiki perasaan Diandra.
" Makan coklat, bisa membuat mood seseorang kembali baik. "
Zaidan menyodorkan sebatang coklat pada Diandra. Diandra tersenyum.
" Setiap saat Mas selalu bawa coklat kemana-kemana?"
__ADS_1
" Gak juga. "
Jawab Zaidan santai. Membuat kedua alis Diandra bertaut.
" Tapi buktinya, mas sering banget ngasi aku coklat."
" Kamu itu istimewa."
" Gombal."
Zaidan tertawa sejenak, lalu keheningan kembali menguasai keduanya. Zaidan kembali menggenggam tangan Diandra saat melihat gadis itu melamun.
" Bicara sama aku, Di. Jangan pendam sendiri. Siapa wanita itu? "
Diandra menundukkan wajahnya.
" Dia...ibuku Mas. "
Zaidan menegakkan tubuhnya. Melihat Diandra berkata, sambil menatap lurus depannya.
" Kalau dia ibumu, kenapa kamu gak keluar tadi? Kamu bisa menyapa dan..."
__ADS_1
" Gak segampang itu, mas. Aku memang putrinya, tapi..."
Diandra akhirnya menceritakan semua nya pada Zaidan. Kisah hidupnya dan kisah percintaannya nya. Zaidan menyimak, sambil sesekali menyeka air mata Diandra yang sesekali menetes. Dan akhirnya Zaidan paham dengan kejadian sewaktu di klinik.