Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 47


__ADS_3

Zaidan mengusap bibir Diandra yang baru saja di ciumnya. Sedangkan Diandra tertunduk mengingat apa yang baru saja mereka lakukan.


" Bagaimana kalau kita menikah saja. Kita sudah sama-sama dewasa Di."


Akhirnya malam itu, setelah menghantarkan Diandra pulang, Zaidan menghubungi ibunya. Bercerita mengenai Diandra dan juga keinginannya untuk segera menikahi gadis cantik itu.


Sementara Diandra tidak bisa tidur, matanya terpejam, namun pikirannya berkelana. Bagaimana Zaidan bisa secepat itu mengajaknya menikah.


Diandra bangun saat suara panggilan untuk menghadap yang pemilik kehidupan terdengar. Setelahnya Diandra bersiap untuk berangkat kerja. Saat di depan pagar, Diandra tak lama melihat mobil Zaidan.


" Selamat pagi, Sayang."


Zaidan menyapa Diandra yang sedang menunggu ojek onlinenya.


" Mas, kamu ngapain?"


" Ya, jemput calon istri dong."


Wajah Diandra merona. Lalu Zaidan turun. Dan membukakan pintu untuk Diandra. Tak lama, ojek yang di pesan Diandra pun tiba. Setelah sedikit perdebatan dengan Diandra, akhirnya ojek itu pun di batalkan oleh Zaidan, tentu saja Zaidan menggantikan dengan sejumlah uang.


" Mulai sekarang, kamu mas antar dan mas jemput."

__ADS_1


Diandra tak bisa menolak. Diandra paham dengan sifat keras kepala Zaidan. Setibanya di rumah sakit, Zaidan langsung menuju ruangannya, begitu juga dengan Diandra.


Menjelang sore, Diandra dan Zaidan akhirnya menyelenggarakan tugasnya hari ini. Setelah menitipkan beberapa pesan pada perawat yang berjaga, Diandra pun meninggalkan rumah sakit, menuju parkiran. Dimana Zaidan sudah menunggunya.


" Mau langsung pulang? Atau kita mau ke suatu tempat dulu?"


Zaidan bertanya pada Diandra saat mobil yang di kemudinya meninggalkan parkiran rumah sakit.


" Singgah ke supermarket bentar ya, Mas. Ada yang mau aku beli."


"Baiklah..."


Zaidan membawa mobilnya menuju supermarket. Setelah memarkirkan mobilnya, Zaidan dan Diandra masuk untuk mencari beberapa barang. Diandra mengambil keperluannya pribadinya. Sedangkan Zaidan mendorong troli. Zaidan juga memasukkan beberapa barang yang menjadi kebutuhannya.


Diandra pun menuju rak tempat sayur dan buah. Beberapa kali Diandra bertanya pada Zaidan, buah dan sayur apa yang ingin di belinya.


" Terserah kamu aja, yang penting jangan yang pahit atau asam."


Diandra memasukan beberapa jenis sayur. Ada protein hewani juga yang dimasukan olehnya. Saat Zaidan akan memasukan mie instan dalam troli, Diandra membulatkan matanya.


" Mas, yang itu rasanya pedas banget. Yakin sanggup?"

__ADS_1


" Yakinlah..."


" Yakin perutnya aman?"


Zaidan pun langsung menggantinya dengan yang lain. Melihat itu, Diandra hanya tersenyum. Bagi yang tidak mengenal, mereka terlihat seperti sepasang suami istri.


" Bayar pake ini aja, Yang."


" Yang punya mas, bayar pake kartu mas. Tapi punyaku, bayar pake kartuku. Oke??"


" Gak ada penolakan. Lagian apa-apaan belanja pake di pisah- pisah gitu. "


Setelah berdebat, akhirnya lagi-lagi Diandra kalah. Zaidan yang membayar seluruh belanjaan mereka. Diandra dan Zaidan akhirnya pulang ke apartemen Zaidan terlebih dahulu. Diandra memasak makan malam untuk mereka berdua.


" Yang, kamu gak ada niatan untuk mengenalkan aku ke orang tuamu?"


" Mungkin dalam waktu dekat, aku akan mengenalkan Mas ke Ayah."


Balas Diandra dengan cepat. Sedangkan Zaidan hanya mengangguk. Di tatapnya gadis yang telah mencuri hatinya tersebut.


" Dengan ibumu?"

__ADS_1


Diandra menghentikan suapannya. Lalu menghela nafas berat.


" Untuk saat ini, aku belum bisa, Mas. Maaf., kalau dengan begini, mas ingin mundur. Aku gak akan memaksa."


__ADS_2