
Acara empat bulanan Dayana pun tiba. Dayana sudah tiba di rumah ibunya. Dayana mendekati ibunya yang tengah menata makanan dimeja. Di bantu oleh beberapa orang tetangganya.
" Bu,..apa ibu gak kangen sama Diandra."
Ucap Dayana lirih. Sedangkan Bu Maya menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyusun kue di sebuah piring. Bu Maya terdiam, bahkan matanya berkaca-kaca. Namun dengan cepat Bu Maya menyeka ujung matanya.
" Baiknya kamu istirahat dulu, Yan. Jangan kerjakan apapun."
Bu Maya pun kembali ke dapur. Sedangkan Dayana hanya menghela nafasnya. Di sudut ruangan, tampak Pan Bayu yang menatap ke arahnya. Dayana mendekat.
" Yana belum bisa membujuk ibu, Yah. "
Ucap Dayana dengan suara tercekat. Pak Bayu mengelus pucuk kepala Dayana yang tertutup hijab.
" Jangan terlalu di pikirkan. Biar nanti Ayah yang bicara sama ibumu. Kamu istirahat aja."
Dayana pun masuk ke kamarnya dulu. Kamar mereka. Dayana menatap beberapa foto Diandra.
" Kamu datang kan, Di?" Ucapnya lirih. Dayana mengambil ponsel miliknya. Lalu melakukan panggilan ke nomor Diandra. Beberapa panggilan di lakukan tapi tak di jawab oleh Diandra.
__ADS_1
Ferry masuk ke kamar Dayana. Dan melihat Dayana sedang memandang foto Diandra. Ferry pun mendekat. Ikut menatap foto itu. Ada sesuatu yang terasa di hati Ferry, namun Ferry tak tahu apa itu.
Dayana yang sadar kedatangan Ferry pun mendekat. Sedangkan Ferry mencoba tersenyum.
" Ada apa?"
"Ada ibu dan Aliya di depan."
Dayana melewati Ferry, lalu pergi ke depan untuk menemui mertua dan adik iparnya. Sedangkan Ferry menatap foto Diandra. Lalu kembali meletakkan nya di tempat semula. Walau kemarin mereka sempat bertemu, namun baik Ferry ataupun Diandra sama-sama memilih untuk tidak saling akrab. Ferry sedang menjaga hati nya untuk Dayana.
Acara pengajian empat bulanan Dayana akhirnya berlangsung dengan lancar. Alisha dan Satya pun ikut hadir. Sudah lama mereka tidak berkimpul seperti ini, walau Satya masih sesekali datang ke bengkel Ferry.
Ferry berterima kasih pada kedua sahabatnya itu. Saat ini mereka sedang duduk di salah satu meja.
" Iya, Fer. HM.. ngomong-ngomong kamu udah tau belum kalo Diandra sudah di sini lagi?"
Satya bertanya dengan suara yang pelan. Tak ingin terdengar Dayana.
" Udah. Aku juga sempat nganterin Yana ke kost-kostan nya."
__ADS_1
Ucap Ferry kemudian. Membuat Satya menegakkan tubuhnya. Begitu juga Alisha. Mereka selama ini berpikir, bahwa hubungan Dayana dan Diandra masih membeku.
" Serius? Trus gimana hati? Aman kah?"
Senggolan di bahu Satya membuat mereka terdiam. Ada Dayana yang melangkah ke arah mereka. Dayana membawa nampan yang berisi makanan dan minuman untuk mereka.
" Kenapa gak manggil aku aja, Yan. Kamu ga boleh capek."
" Gak kok. Aku tinggal ya. Di nikmati ya, Sat, Al..."
Satya dan Alisha mengucapkan terimakasih bersamaan. Dan Dayana pun pergi meninggalkan mereka.
" Jadi, Lo udah tau, kalo Diandra sekarang ada disini, Fer? Dan Lo bilang, Dayana udah ke kost-kostan nya Diandra? "
Ferry menjawab dengan anggukan semua pertanyaan Alisha.
" Jadi sekarang hubungan mereka gak beku lagi kayak dulu? Sejak kapan?"
" Gue gak tau, Al. Yang jelas, Yang tu sekarang udah sering banget telponan dan kirim pesan ke Diandra."
__ADS_1
" Hm...gue kok gak percaya ma istri Lo ya, Fer. Ya...sorry, secara gue inget kan, gimana caranya Yana buat merebut Lo dari Dian?"