Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 28


__ADS_3

Saat ini Dayana lebih sering berada di luar rumah jika Ferry berada di rumah. Seperti sore ini, setelah menyiapkan makan malam, Dayana pun pergi meninggalkan rumah, menuju mushola yang tak jauh dari rumah mereka. Disana ada sekelompok ibu-ibu yang sedang belajar mengaji. Dayana ingin bergabung disana. Dan tentu saja, di terima dengan senang hati.


" Mbak Yana ini, yang rumahnya di ujung sana itu kan?"


Tanya Bu Sania, yang menjadi guru ngaji diantara mereka. Dayana mengangguk mengiyakan.


" Wah, berarti rumah kita searah dong. Nanti kita bisa pulang bareng."


Dayana pun lagi-lagi hanya mengangguk. Ternyata Bu Sania mengajari para ibu-ibu ini mengaji setiap harinya. Mendengar itu pun Dayana bersemangat ingin terus ikut.


Sedangkan Ferry yang tak mendapati Dayana di rumah mulai celingukan mencari, dan untuk pertama kalinya, Ferry cemas tak mendapati Dayana di rumah. Ferry menelpon Dayana, tapi suara dering telepon terdengar dari kamar yang di huni Dayana.


Cukup lama Ferry menunggu Dayana,sampai selesai makan malam pun, Dayana belum juga pulang. Ferry memutuskan untuk duduk di depan teras. Tak lama, tampak Dayana jalan bersama Bu Sania.


" Mari Bu, singgah."


Dayana mengajak Bu Sania untuk singgah sejenak.


" Lain kali saja, Nak. Sudah malam, kasian suami juga sudah menunggu. Jangan lupa besok kita belajar mengaji lagi ya."


Jawab Bu Sania dengan lemah lembut. Ferry yang melihat interaksi itu pun mengerutkan keningnya.


" Iya Bu."


" Assalamualaikum Nak. Mari Mas.."


Bu Sania menyapa Ferry yang sudah berdiri tak jauh dari gerbang rumah mereka. Ferry pun mengangguk kan kepala tanda menghormati Bu Sania.


Dayana mengucap salam, setelah mendapat jawaban dari Ferry, Dayana pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


" Darimana kamu?"

__ADS_1


" Belajar ngaji di mushola."


Jawaban singkat Dayana membuat Ferry menaikan alisnya. Dayana kembali keluar dari kamar, dan mengambil makanan untuk di makan. Dayana menyuapkan makanannya, sedangkan Ferry menarik kursi untuk duduk di meja yang sama bersama Dayana.


Melihat Dayana yang sedang menyantap makanannya dengan begitu lahap, membuat Ferry membisu, namun tetap memperhatikannya.


" Kenapa gak pamit kalau kamu mau keluar?"


Dayana melihat sekilas.


" Bukannya kamu yang selalu bilang, kamu gak pernah peduli, aku mau melakukan apapun. Jadi mulai sekarang aku gak akan bilang apapun."


Jawaban dari Dayana, membuat Ferry terdiam. Entah mengapa perubahan sikap Dayana beberapa hari ini membuatnya kebingungan. Jika dulu dia akan marah kalau Dayana menghubunginya, namun beberapa hari ini, justru Ferry selalu mengecek ponselnya, berharap Dayana menghubunginya atau sekedar mengirimi nya pesan.


Dayana menyelesaikan makan malamnya, dan langsung membersihkan piring bekas makan malam mereka. Namun satu hal yang membuat Ferry terbius. Sudah seminggu ini, Dayana tak pernah menanggalkan kerudungnya. Pakaian Dayana pun tampak selalu tertutup. Satu hal yang baru Ferry sadari, ruangan yang di khusus untuk sholat di rumah ini, selalu ada mukenah, yang di yakini milik Dayana.


Setelah Dayana selesai membersihkan piring bekas makan mereka. Dayana pun menghampiri Ferry.


Ferry menatap dalam ke arah Dayana. Rasanya seperti tak yakin dengan apa yang di ucapkan oleh wanita yang menjadi istrinya ini. Dayana gadis yang selalu di manja, kini ingin bekerja. Sungguh di luar nalar.


" Kenap-"


" Aku hanya ingin memberitahumu, mulai besok aku akan bekerja. Kalau begitu, aku masuk dulu. Selamat malam."


Dayana pun berlalu, sedangkan Ferry masih terdiam di tempatnya. Otaknya semakin tak habis pikir, seminggu ini begitu banyak perubahan di diri Dayana. Dayana menggunakan kerudung. Dayana yang tak merecokinya, dan kini wanita itu ingin bekerja. Sungguh Ferry terkejut dengan semua itu.


Dan benar saja, besok pagi,setelah subuh, Dayana sudah menyiapkan sarapan untuk Ferry. Setelah itu, Dayana pun bergegas menyiapkan dirinya untuk menuju tempat kerjanya. Dayana menggunakan pakaian sopan, dan tak lupa menggunakan hijabnya.


Saat Ferry tengah menikmati sarapan. Dayana pun tampak menyiapkan tempat bekal dan mengisinya dengan makanan. Ferry hanya memperhatikan apa yang di lakukan oleh Dayana.


" Kenapa gak sarapan?"

__ADS_1


Gerakan tangan Dayana terhenti, lalu melihat ke arah Ferry.


" Tadi aku udah sarapan duluan. Nanti tolong kunci pintunya, aku juga udah bawa kunci. Aku pamit, assalamualaikum."


Ucap Dayana. Lalu pergi meninggalkan Ferry yang masih memakan sarapannya. Ferry benar-benar bingung dengan sikap Dayana. Jika dulu itu yang di inginkan nya, tapi entah mengapa sekarang justru Ferry merasa ada yang mengganjal baginya.


Dayana keluar dari rumah, dan berjalan ke halte yang berjarak lumayan dari rumahnya. Setibanya di halte bus, Dayana harus menunggu sampai angkot yang akan membawanya menuju alamat tempatnya bekerja.


Ferry yang sedang melintas tak jauh dari sana pun melihat Dayana yang sedang memberhentikan angkot, lalu menaikinya. Ferry ingin mengikuti angkot tersebut, namun suara panggilan dari ponselnya membuat dirinya harus segera menuju bengkel.


Dayana tiba di tempat kerja sebelum waktu yang di tentukan. Mulai hari ini, Dayana bekerja di sebuah mini market yang berjarak lima kilometer dari rumahnya. Dayana sangat senang, saat lamarannya sebagai salah satu karyawan mini market ini di terima. Dayana ingin belajar mandiri.


Hari pertama bekerja, tentu sangat melelahkan bagi Dayana, apalagi dirinya selama ini tak pernah bekerja. Pasti sangat menguras tenaga.


" Capek banget ya, Yan?"


Salah satu karyawan mini market yang bernama Susi bertanya pada Dayana. Dayana hanya tersenyum.


" Hari pertama Mbak. Dan ini pekerjaan pertamaku, jadi mungkin aku belum terbiasa."


Susi tersenyum.


" Nanti lama-lama juga terbiasa. Semangat ya?"


Dayana mengangguk. Sampai pada waktunya jam pulang, akhirnya Dayana bisa melalui pekerjaan nya ini dengan baik. Dayana kembali menggunakan angkot untuk menuju rumah nya. Dayana melangkahkan kakinya menuju rumah. Tubuhnya sudah sangat lelah. Ingin segera mandi dan beristirahat. Setibanya di rumah, Dayana pun langsung menuju dapur. Menyiapkan makan malam.


Selesai menyiapkan makan malam untuk Ferry ,tak lama suara adzan Maghrib pun berkumandang. Dayana bergegas membersihkan diri, lalu melaksanakan kewajibannya. Dayana memanjatkan doa yang panjang, meminta pengampunan, atas semua kesalahan nya di masa lalu. Bahkan Dayana sampai menangis sesegukan disana.


Mungkin akibat tubuhnya yang terlalu lelah, selesai berdoa, Dayana pun tertidur di atas sajadah. Saat Ferry memasuki rumah, pemandangan yang dilihatnya adalah Dayana yang tertidur di atas sajadah dengan sisa air mata yang masih membekas di sudut matanya.


Ferry mendekat, dan memperhatikan. Ada rasa iba dan bersalah di hatinya. Selama ini tanpa di sadarinya, dirinya sudah terlalu dalam menyakiti Dayana. Selama lima tahun berumah tangga, Dayana selalu berusaha menjadi istri yang baik,dan merubah semua tingkah buruknya.

__ADS_1


__ADS_2