
Pertemuan malam ini dengan Ferry membuat Diandra semakin kecewa. Ferry tak menceritakan semua ketika di awal, dan kini Ferry harus menerima penawaran yang di berikan oleh Dayana. Semua yang di dengar Diandra satu harian ini semakin membuatnya tak lagi mempercayai siapa pun. Baik itu Ferry ataupun Ibunya.
Ferry mengatakan jika Dayana yang mengajukan syarat, jika Ferry ingin bebas, maka harus menikah dengannya. Sedangkan ibu nya mengatakan jika Bunda Mira lah yang meminta Dayana untuk mencabut gugatannya dan menikahkan Ferry dengan Dayana sebagai bentuk pertanggung jawaban.
Diandra hanya mampu meneteskan air mata. Kecewa. Sedih, sakit dan merasa di bohongi. Kini Diandra tengah menyendiri di taman tempat bertemu dengan Ferry. Sejak tiga puluh menit yang lalu, Ferry telah pergi, karena Bundanya terus menghubungi.
Diandra menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Tanpa Diandra sadari, sejak tadi, Raka sudah mengawasinya. Setelah di rasa cukup, Raka pun mendekat.
" Cukup, Dek. Hapus air matamu."
Diandra mendongakkan wajahnya. Merasa sangat mengenal suara itu.
"Mas Raka..."
" Cukup, Di. Mas sudah cukup melihat kamu menangis hari ini. Lupakan mereka yang menyakitimu. Ingat, masih ada kami disini, Di."
Diandra mengangguk.
" Tapi kenapa rasanya sesakit ini, Mas. Sejak dulu,...selalu..."
Raka membelai rambut Diandra dengan penuh kasih sayang. Dan menghela nafasnya. Melihat kisah hidup Diandra, semakin membuat dirinya geram.
" Besok pagi-pagi kita pulang."
__ADS_1
Raka memeluk tubuh Diandra. Menenangkan Diandra. Ada rasa dan getaran kain yang di rasa oleh Raka. Tapi Raka sadar, jika mereka tak mungkin bersama. Setelah di rasa cukup Diandra cukup tenang, Raka pun membawa Diandra kembali ke hotel.
Keesokan paginya, Diandra bangun di sambut oleh awan gelap dan gerimis yang mulai turun di ibukota. Cuaca pagi itu seperti perasaan Diandra saat ini. Bude Ayu sudah rapi dengan pakaiannya. Menemui Diandra untuk mengatakan bahwa dirinya akan datang ke pernikahan Dayana dan juga Ferry.
" Bude harus pergi, Sayang. Bude sebagai kakak ipar dari Ayahmu, mewakili pakde yang tidak ikut dengan kita. Kamu gak apa-apa kan?"
" Gak apa-apa, Bude. Bude pergi saja. Dian baik-baik aja kok."
Bude Ayu menatap sendu pada Diandra. Sedangkan Raka sudah menunggu di depan pintu kamar Dian dan Mama nya.
" Ngapain Mama ke sana sih, Ma?
Raka protes saat menemani Mamanya menuju lobby hotel.
" Ya gak gitu, Ma."
Bude Ayu menghela nafasnya. Jauh di lubuk hatinya sangat menyayangkan sikap yang di ambil oleh kedua orang Diandra. Namun dirinya tak bisa berbuat apa-apa.
" Mama sedih melihat Diandra. Pasti hatinya sangat terluka."
Raka memandang ke arah mama nya sejenak. Lalu kembali menghadapkan pandangan nya ke depan.
" Ma, Raka akan melindungi Diandra. Ini yang pertama dan terakhir Diandra menangis karena di khianati. Raka gak akan terima siapapun yang akan menyakiti Diandra."
__ADS_1
" Ya memang harus begitu, Mas. Kamu itu Abang nya. Sudah seharusnya kamu melindungi adik-adikmu. Dan sudah selayaknya kamu menyayangi Diandra sebagai adik mu, adik kandungmu sendiri."
Ada rasa sakit saat mendengar ibunya mengatakan adik. Raka ingin menyayangi Diandra sebagai seorang lelaki yang melindungi dan menyadari wanitanya.
Raka ingin memiliki ikatan bukan hanya sebatas kakak adik, tapi lebih dari itu. Rasanya Raka ingin teriak mengatakan pada dunia, bahwa dirinya menyayangi dan juga mencintai Diandra melebihi apapun di dunia ini.
" Mas, Mama pergi dulu. Itu taksi pesanan Mama udah datang. Kamu jaga Dian baik-baik. Ajak dia bercerita agar Dian bisa sedikit terhibur. Jaga adik kamu ya."
Ucap Bude Ayu saat membuka pintu taksi. Lagi-lagi hati Raka sakit saat mendengar kata adik.
" Raka ingin Dian jadi pendamping hidup Raka, Ma. Bukan adik Raka."
Raka bergumam. Lalu melangkah kan kakinya menuju kamar Diandra dan Ibunya.
Sementara di rumah keluarga Pak Bayu.
Dayana sedang di hias di dalam kamarnya saat keluarga Ferry datang untuk melakukan acara ijab qabul. Walaupun sebelumnya, terjadi keributan antara Dian dan Dayana.
Ferry tampak tampan dengan menggunakan beskap putih senada dengan kebaya yang di pakaikan oleh Dayana.. Dari dalam.kamar, Dayana dapat mendengar suara Ferry yang beberapa kali Ferry salah mengucapkan nama.
Bude Ayu yang berada di sana, dapat merasakan bahwa Ferry masih sangat menyayangi Diandra. Sedangkan Ferry kembali mendapat teguran dari pak penghulu yang menikahkan mereka pagi ini.
" Mohon lebih konsentrasi lagi ya, Nak. Oke sekarang kita mulai lagi ya...,"
__ADS_1