Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 34


__ADS_3

Dayana tiba di rumah, dan mendapati Ferry yang duduk di meja makan. Pandangan mata Ferry tajam, membuat Dayana menundukkan wajahnya.


" Hebat...sejak kemarin gak ngasih kabar, kemana aja. Apa kamu udah mulai menggeluti dunia mu lagi? Iya? Selama ini berpenampilan seperti ini cuma untuk menarik simpatiku? Huh..."


Dayana mengangkat kepalanya. Lalu menatap Ferry. Dayana menggeleng kan kepala. Mengisyaratkan bahwa apa yang di katakan oleh Ferry itu tidak benar.


" Fer...aku.."


" Cukup, sejak dulu aku udah tau kelakuanmu, jadi sampai kapan pun, aku yakin bahwa orang sepertimu itu gak akan berubah. Dasar...******."


Ucapan Ferry sangat membuat Dayana terkejut. Dengan spontan Dayana melayangkan tamparannya di pipi Ferry. Air mata Dayana jatuh.


" Cukup...aku memang bukan perempuan baik. Aku sadar itu. Bukankah si ****** ini sudah meminta cerai. Kau tau aku ******, kenapa gak kau lepas. Hah...kenapa?"


Dada Dayana naik turun. Dirinya sungguh sakit di katakan ****** oleh suaminya sendiri. Dayana memang sudah berubah.


Ferry mencengkram wajah Dayana. Dan menatap tajam pada wanita yang di nikahinya lima tahun lalu itu.


Akibat emosi Dayana dan rasa amarahnya. Perut Dayana terasa kram. Membuat Dayana meringis kesakitan. Sakit di wajahnya yang di cengkram Ferry tidak seberapa di bandingkan sakit di perutnya. Dayana takut terjadi apa-apa pada kandungan nya. Bagaimana pun, Dayana menyayangi calon anak yang ada di rahimnya saat ini.


" Sssaaaakkiit..."


Dayana mendesis dengan tetap memegangi perutnya. Ferry melihat wajah Dayana yang memucat. Walau dilanda kemarahan, namun mata Ferry masih melihat jelas, wajah Dayana yang memucat. Dayana merasa ada yang yang menjalar di kakinya. Tangan Dayana pun semakin kuat mencengkram lengan Ferry. Serta memegangi perutnya.


" Ssaaakiit Fer....tttoolloonng..."


Ferry melihat ke arah bawah, benar saja, gamis Dayana yang berwarna cerah itu sudah terkena bercak darah di bagian bawah. Ferry langsung melepaskan tangannya dari wajah Dayana. Dan mundur selangkah. Sedangkan Dayana masih memegang lengan Ferry. Dan meringis kesakitan.


" Ttoollong...."


Ferry pun yang sedang kalut, langsung menggendong Dayana keluar rumah. Berteriak meminta tolong, bersyukur ada tetangga yang mendengar dan segera membawa Dayana ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, Dayana langsung mendapatkan pertolongan. Ferry pun langsung menghubungi ibunya, mengabarkan keadaan Dayana. Ferry masih menunggu Dayana ditangani oleh dokter. Sedangkan dirinya sangat merasa bersalah.


" Dengan keluarga ibu Dayana."

__ADS_1


Seorang perawat memanggil. Dan Ferry pun langsung mendekat ke perawat tersebut. Ferry mengikuti ke mana perawat itu membawa Ferry. Di sebuah ruangan dokter obgyn. Ferry kini berhadapan dengan dokter yang menangani Dayana.


" Begini Pak. Kondisi kandungan ibu Dayana sangat lemah. Mohon istrinya di perhatikan ya, Pak. Alhamdulillah kandungannya masih bisa di selamatkan. "


Ferry mengerutkan kening tanda tak mengerti yang di katakan oleh dokter wanita itu.


" Maksud dokter, Istri saya hamil?"


" Iya, Pak. Usia kandungan nya delapan Minggu. Dan seperti nya , Bu Dayana tidak memperhatikan asupan yang masuk ke tubuhnya. Mohon di perhatikan ya Pak."


Setelah mendengar banyak penjelasan, kini Ferry melangkah pelan ke ruangan Dayana. Kini Dayana tengah tertidur, mungkin akibat obat yang di berikan oleh dokter. Pakaian Dayana pun sudah berganti. Hanya saja, perawat masih memakaikan kerudung yang di pakai Dayana.


Ferry melihat paper bag, yang berisi pakaian Dayana. Ferry melihat bercak darah yang ada di baju itu. Ferry meremasnya.


" Aku hampir membunuh anakku,...Ya Allah..."


Suara pintu terbuka membuat Ferry melihat ke sana. Ibunya datang dan langsung meminta penjelasan dari Ferry. Ferry pun membawa ibunya keluar dan menceritakan semua yang terjadi.


" Bang, Bunda tau, Abang menikah dengan Yana karena terpaksa. Tapi Bunda gak minta Abang untuk kasar padanya. Jika memang Abang udah gak bisa hidup bersama, kenapa gak Abang lepas. Bukannya Yana juka sudah memintanya."


" Bun..Abang,..."


Pertanyaan dari Bunda Mira membuat Ferry menatap sejenak, lalu mengalihkan pandangannya. Lalu Bunda Mira pun tersenyum.


" Bunda banyak melihat perubahan di diri Yana. Sejak kalian menikah, Yana pelan-pelan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Hanya saja, hati Abang yang masih di liputi kemarahan oleh dirinya. Membuat Abang merasa bahwa Yana masih sama seperti yang dulu."


Ferry diam.


" Abang harus bagaimana, Bun. Saat ini, Dayana sedang hamil. Apa yang harus Abang lakukan?"


" Yana...hamil???"


Ferry mengangguk.


" Anak Abang, Bun."

__ADS_1


Ucap Ferry lirih. Sedangkan Bunda Mira tersenyum.


" Itu artinya, Allah tidak ingin kalian berpisah. Caranya dengan menghadirkan malaikat kecil di rumah tangga kalian. Semoga dengan hadir nya anak di rumah tangga kalian, kehidupan rumah tangga kalian semakin rukun."


Ferry kini menatap Dayana yang masih tertidur. Menatap lekat wajah pucat itu. Sedangkan bunda Mira sudah pulang beberapa saat lalu. Setelah Ferry kembali ke rumah dan mengambil keperluan dirinya dan Dayana selama di rumah sakit.


Perlahan mata Dayana bergerak. Membuat Ferry menegakkan tubuhnya. Kini Dayana telah terbangun. Di tatapnya langit-langit kamar. Nuansa putih dan aroma obat-obatan tercium di indra penciumannya.


" Yan..."


Dayana melihat ke arah Ferry. Tak lama, perawat pun datang. Untuk memeriksa keadaan Dayana. Dayana langsung bertanya kapan dirinya di perbolehkan pulang. Namun jawaban Perawat membuat Dayana menghela nafasnya.


" Yan, aku minta maaf untuk ucapanku tadi. Aku benar-"


" Gak perlu minta maaf,.kamu benar, aku ini perempuan ******. "


Ucap Yana, dan setetes air mata jatuh di sudut matanya. Dayana segera menghapusnya.


" Maafkan aku, Yan. Aku benar-benar menyesal."


Dayana hanya terdiam. Tak lama Bu Maya dan Pak Bayu pun datang. Mereka datang membawa buah dan makanan. Bu Maya langsung menyuapi Dayana. Sedangkan Pak Bayu, berbicara di luar bersama Ferry.


" Fer, Ayah tahu, jika pernikahan kalian karena terpaksa. Jika memang sudah tidak mampu bertahan, pulangkan saja, Dayana pada Ayah. Bagaimana pun kesalahan Dayana, Dayana tetap putri Ayah. Ayah sangat menyayanginya."


Ferry menggeleng kan kepala nya.


" Yah, tolong kasih Ferry satu kesempatan. Ferry ingin memperbaiki rumah tangga ini, Yah."


" Semua keputusan ada di tangan Yana. Tapi sebaiknya setelah keluar dari sini, Yana pulang bersama Ayah aja. "


Ferry bingung. Bagaimana caranya memperbaiki rumah tangganya jika mereka hidup berpisah. Selama ini, Pak Bayu hanya diam. Namun dirinya tetap memperhatikan kedua anaknya. Yana yang tampak semakin tirus. Serta beberapa kali kedapatan memandangi foto saudaranya saat datang ke rumah orang tuanya. Membuat Pak Bayu sadar, jika Yana telah menyesali perbuatannya dahulu.


Pak Bayu masuk ke dalam ruangan Dayana. Saat Dayana sedang di bujuk oleh Bu Maya. Yana hanya memakan dua suap makanan yang di masak ibunya. Pak Bayu mengambil piring dan duduk di hadapan Dayana menggantikan Bu Maya.


" Makan ya , Ayah yang suapin. Hm..."

__ADS_1


Dayana menangis haru, dan mengangguk. Dayana menerima suapan dari Ayahnya dengan air mata yang terus menetes. Lalu Dayana segera memeluk lelaki yang menjadi panutannya itu.


" Ayah ...maafin Yana...."


__ADS_2