Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 46


__ADS_3

Zaidan membawa Diandra masuk ke dalam pelukannya. Di balik sikap dan sifat Diandra yang ceria, ternyata Diandra menyimpan luka yang dalam. Luka akibat perbedaan perlakuan dari orang yang melahirkannya. Walau kini, Diandra mulai menutup luka itu, namun bekasnya masih saja terasa. Atau bahkan luka itu belum sembuh.


Terlalu sering mengalah pada saudaranya, pun membuat Diandra akhirnya sering mengabaikan perasaanya sendiri.


Zaidan masih membiarkan Diandra terisak dan sesekali mengeluarkan unek-unek yang ada di hatinya di dalam pelukannya. Dan bersyukurnya, taman itu masih tidak ramai oleh pengunjung. Setelah merasa lebih lega, akhirnya Diandra merenggangkan pelukannya. Dan Zaidan pun menangkup wajah Diandra. Hidungnya tampak memerah, dan matanya juga sembab.


Zaidan mengusap air mata Diandra dengan kedua ibu jarinya itu.


" Sudah lebih baik?"


Diandra mengangguk.

__ADS_1


" Maaf, baju mas jadi basah."


Zaidan menggeleng.


" Gak apa-apa. Asal sekarang perasaan kamu sudah lebih tenang. Lalu Zaidan pergi sejenak, dan meminta Diandra untuk menunggu. Zaidan pergi membeli minuman di sebuah lapak yang tak jauh dari tempat mereka duduk.


Zaidan memberikan sebotol air mineral untuk Diandra. Dan juga meletakkan sekotak susu coklat di dekatnya. Setelah di rasa keadaan lebih baik, Zaidan membawa Diandra pergi dari sana.


Zaidan memutar roda empat nya di sebuah tempat makan. Yang membuat Diandra bingung adalah, Zaidan baru beberapa hari tinggal disini, tapi Zaidan sudah tau beberapa tempat yang menurutnya tidak begitu banyak orang tau.


" Gak usah bingung, ayok sekarang kita makan."

__ADS_1


Setelah memarkirkan mobilnya di sebuah warung bebek. Zaidan membawa Diandra duduk di lesehan. Katanya akan lebih nikmat kalau makan di lesehan. Zaidan meminta beberapa menu, dan dua buah jus jeruk untuk minumannya.


Setelah menikmati makan siang yang kesorean itu, Zaidan pun membawa Diandra ke apartemennya. Sebagai dua orang dewasa, Diandra sedikit ragu saat akan memasuki gedung itu. Namun lagi-lagi Zaidan mampu membuatnya percaya.


Masuk ke apartemen, Diandra di buat takjub dengan pemandangan di sore hari. Diandra dapat melihat matahari terbenam. Walau hanya dari gedung itu. Diandra menyaksikan matahari yang menghilang dan malam yang mulai datang. Pergantian waktu itu membuat semua orang takjub atas kuasa sang pemilik alam semesta.


Zaidan memeluk Diandra dari belakang, saat gadis itu masih setia melihat kelap-kelip lampu di luar sana.


" Seperti matahari yang terbenam itu, benamlah semua kesakitan di hatimu, Sayang. Dan esok kamu harus bangun dengan rasa bahagia. Jadi maafkanlah semua orang yang menyakitimu, ikhlaskan. Kamu akan tenang, dan kamu akan lebih baik lagi."


Zaidan membisikan kata itu tepat di telinga Diandra. Membuat Diandra meremang. Zaidan semakin mengeratkan pelukan di pinggang Diandra.

__ADS_1


Suasana apartemen Zaidan memang sengaja di buat tidak terlalu terang malam itu, namun tidak juga remang-remang. Itu sengaja Zaidan lakukan karena tak ingin merusak perhatian Diandra yang terus menyaksikan ke arah luar. Zaidan membawa Diandra duduk di dekat jendela kaca itu. Dengan posisi Zaidan di belakang Diandra, dan Diandra menyandarkan tubuhnya di dada bidang Zaidan.


Zaidan yang berada di belakang Diandra, memeluk gadis nya itu, dan sesekali mencium pucuk kepalanya. Zaidan menyelipkan rambut Diandra di balik telinganya, dan dengan perlahan, Zaidan membimbing wajah Diandra agar melihat ke arahnya. Dengan gerakan pelan, Zaidan mendekatkan wajahnya dan wajah Diandra. Bahkan Zaidan dapat merasakan hangat nafas Diandra. Dengan sangat perlahan, Zaidan akhirnya mencium bibir manis Diandra. Dan membuat sang pemilik bibir memejamkan matanya.


__ADS_2