Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 24


__ADS_3

" Bunda jangan terlalu memanjakan dia. Ini bukan rumahnya."


Ucap Ferry saat Dayana sudah masuk ke dalam kamar mandi.


" Bang, jangan begitu. Dayana baru satu hari di rumah kita. Pasti dia belum terbiasa."


Setelah keluar dari kamar mandi, Dayana pun ikut bergabung dengan mereka. Sarapan dengan menu nasi putih, telur ceplok dan juga sayur bayam, tak lupa oseng-oseng tempe kesukaan Ferry.


" Ayo makan, Yan."


Bunda Mira mencoba mencairkan suasana di meja makan. Karena baik antara Ferry dan juga Dayana tak ada yang membuka suara. Dayana pun mengisi piringnya. Bunda Mira hanya mampu menatap ke arah Dayana. Sedangkan Ferry pun mengisi piringnya sendiri. Mereka makan dengan tenang, tak ada yang bersuara, hanya dentingan sendok yang terdengar . Setelah selesai sarapan, Ferry pun pergi meninggalkan meja makan dan menghantarkan Aliya ke kampusnya. Sedangkan Dayana berada di rumah.


" Yan, setelah ini, Bunda akan ke toko. Kamu gak apa-apa kan Bunda tinggal sendiri?"


Yana tampak bingung.


" Ferry gak pulang ya Bun?"


Bunda Mira tersenyum lembut.


" Bunda gak tau, kamu tunggu aja ya. Bunda pergi dulu. Assalamualaikum."


Bunda Mira pun meninggalkan Dayana sendiri. Di rumah, Dayana memperhatikan seisi rumah. Rumah itu memang sederhana namun dapat membuat penghuninya nyaman. Dayana memperhatikan foto yang berada di dinding, foto Ferry yang tertawa, membuatnya menarik bibirnya.


" Sekarang kamu jarang tersenyum, Fer. Aku kangen senyum kamu."

__ADS_1


Gumam Dayana. Lalu dirinya tertarik di masa saat dirinya diam-diam selalu memperhatikan Ferry saat menjemput Diandra. Wajah Punuh senyum Ferry dan tampilan nya yang selalu rapi. Tapi saat ini, senyum itu tidak pernah di temuinya lagi.


" Maafkan aku, Fer. Aku sudah memfitnah kamu. Tapi itu adalah caraku, agar kamu bisa di sisi ku. Membayangkan kamu, berkeluarga dengan Dia dra sangat membuatku sakit, apalagi menyaksikannya secara langsung. Aku mencintaimu Fer, sejak dulu. Namun kamu gak pernah melihatku."


Dayana hanya bergumam sambil memandangi foto yang ada di dinding itu. Suara motor berhenti membuat perhatian Dayana pada foto itu pun beralih. Dayana melihat Ferry datang.


" Ferry, kamu...."


Belum selesai Dayana berbicara, Ferry langsung masuk ke kamar miliknya , mengunci pintu, dan membuat Dayana harus berulang kali mengetuknya.


Ferry membuka pintu kamar, dan langsung keluar. Ferry ternyata mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih rapi.


" Fer, kamu mau kemana?"


Namun lagi-lagi Ferry hanya diam. Tak menjawab, bahkan menganggap Dayana bagai angin lalu.


Ferry pun segera menghidupkan motor nya lalu pergi meninggalkan Dayana. Dayana sungguh merasa kesal, sakit hati atas perlakuan Ferry. Lalu Dayana pun masuk ke kamar setelah menutup pintu rumah dengan sangat kesal.


Di dalam kamar, Dayana melihat sekeliling, ternyata foto Ferry dan Diandra ada di salah satu sudut kamar itu. Foto mereka sedang tertawa bersama.


" Maafkan aku, Di. Aku terlalu mencintai kekasihmu, sampai aku lupa, bahwa kamu adalah kembaran ku. Maafkan aku yang jahat, tapi kamu selalu menarik perhatian lelaki yang aku sukai, sejak dulu."


Ucap Dayana pada foto itu, lalu meletakkannya kembali. Dayana melihat buku-buku milik Ferry. Saat Dayana akan membuka lemari pakaian milik Ferry dan bermaksud menyimpan pakaiannya disana, ternyata lemari itu di kunci oleh Ferry. Dan kuncinya pun tidak ada disana.


" Kenapa di kunci sih. Terus pakaian ku gimana. Hhhuuhh...Fer..Fer..."

__ADS_1


Ucap Dayana sambil berdecak. Lalu kembali keluar dari kamar. Dayana bingung harus apa di rumah ini. Di wastafel ada beberapa piring kotor, namun Dayana hanya melihat nya.


Dayana bahkan lupa bagaimana caranya membersihkan piring kotor, karena sejak dulu semua pekerjaan itu hanya Diandra yang melakukan nya. Bahkan saat Diandra tidak di rumah, ibunya lah yang melakukannya.


Hidup Dayana benar-benar bagai seorang putri. Segala keinginannya selalu saja terpenuhi dengan baik. Namun sangat berbanding terbalik dengan Diandra. Sejak SMP Diandra sudah terbiasa melakukan itu semua.


Dayana hanya bisa duduk sambil memainkan ponselnya. Ada beberapa panggilan masuk dari teman-temannya. Ada beberapa pesan juga. Sejak kemarin Dayana memang tak memegang benda pipih itu. Dan saat Dayana sedang berbalas pesan, panggilan masuk dari seseorang yang saat ini ingin di hindarinya.


Denny Calling...


Dayana tak menghiraukannya. Tak lama, panggilan dari Denny pun kembali masuk. Dayana dengan ragu menerima panggilan itu.


" Hhaalllo.."


" Hallo, Sayang. Bagaimana kabar kamu? Oiya aku dengar, kamu baru menikah ya dengan lelaki itu, selamat ya. Tapi ..kayaknya aku juga pengen nih, pengen merasakan lagi kehangatannya tubuh kamu. Jangan lupa ya, sekarang juga, aku tunggu di apartemen aku. Bye..."


" Gak, aku gak mau...Den...Denny....Hallo..."


Dayana berkata namun sayang nya panggilan dari Denny sudah di tutup.


" Jangan ganggu gue lagi,..."


Dayana pun segera mengirimkan pesan itu pada Denny. Dayana gelisah, dan langsung mematikan ponselnya. Dayana menyesali kedekatannya dengan Denny. Ini semua karena Denny. Sejak bertemu dan berteman dengan Denny lah, Dayana jadi tahu dunia malam.


Satu harian ini, Dayana tak mengaktifkan ponselnya. Karena dirinya tak ingin, sampai Denny menghubungi nya kembali. Dayana tidak ingin Denny mengganggu hidupnya kembali.

__ADS_1


Tanpa Dayana sadari, bahwa Ferry sejak tadi sudah memperhatikan gerak-gerik nya. Ferry kembali ke rumah, saat melupakan sesuatu, dan saat itulah Ferry mendengar kalau Dayana sedang menerima telepon dari seseorang.


__ADS_2