
DIANDRA POV
Diandra menatap ponselnya yang menyala. Ada nomor baru masuk ke ponsel miliknya itu. Diandra menjawab, namun tak ada respon dari sebrang. Akhirnya Diandra menganggap itu hanya orang iseng.
Sudah lima tahun berlalu dari peristiwa yang menyakitkan hati. Diandra pun sudah bisa menata hidupnya. Selama ini, jika Diandra merindukan Ayahnya maka Diandra hanya menemuinya di toko milik keluarganya itu. Dan pasti nya saat ibunya sedang tidak ada di sana. Diandra masih tidak ingin bertemu dengan wanita yang melahirkannya.
Bukan tanpa sebab, pernah Diandra datang ke rumah mereka. Namun ibunya beranggapan jika Diandra hanya ingin menggangu rumah tangga Dayana. Dan itu membuat Diandra kecewa. Dirinya sudah mengikhlaskan Ferry, jika ternyata Ferry bukanlah jodohnya. Tapi tanggapan Bu Maya tetap tidak mengenakan hati.
" Dokter, ada pasien."
Ketukan di pintu ruangan nya membuat Diandra mengalihkan perhatiannya dari ponsel. Diandra pun bergegas ke ruangan dimana pasien itu berada. Saat ini, Diandra bekerja di sebuah klinik. Setelah selesai bekerja di rumah sakit, Diandra pun bekerja di sebuah klinik umum.
Setelah berbincang, dan menanyakan keluhan pasien, Diandra pun memeriksa lalu meresepkan obat agar di tebus di apotik klinik.
" Hai, Di...makan siang dulu yuk."
Diandra menoleh ke sumber suara. Lelaki.yang bergelar sebagai dokter spesialis anak itu datang dengan membawa tentengan.
" Kok tau, aku belum makan? Jangan-jangan dokter ini Cenayang ya?"
Lelaki itu tertawa pecah. Lelaki itu bergelar dokter itu , bernama ZAIDAN IMRAN. Selama hampir tiga tahun ini Diandra dan Zaidan bekerja di tempat yang sama. Zaidan jugalah yang merekomendasikan Diandra untuk klinik umum ini.
" Di...di...masa wajah seganteng aku ini di bilang cenayang? "
" Ya kali aja, Dokter Zaidan ini punya bakat."
Ucapan Diandra membuat Zaidan menggeleng kan kepala. Lalu mereka pun makan bersama.
Selama tiga tahun ini, Diandra sudah hidup sendiri, dirinya memilih untuk tidak tinggal bersama bude nya lagi sejak Diandra mengetahui perasaan Raka padanya. Diandra ingin menjaga jarak, bukan tak tahu berterima kasih, namun dirinya dan Raka memang tak mungkin bersama. Ayah mereka bersaudara.
Setelah jam kerjanya selesai di klinik itu, Diandra pun pulang, bersamaan dengan dokter Zaidan yang juga ingin pulang.
" Ayo Di. Mas anter. Sekalian jalan juga."
" Gak usah deh, Mas. Aku udah pesan ojol juga kok."
" Udah, batalkan aja. "
Ucap Zaidan sambil mengambil ponsel dan membatalkan pesanan Diandra.
" Mas gak banyak pasien, kok udah bisa pulang jam segini?"
" Hari ini pasien cuma dikit, jadi bisa pulang lebih awal. Oiya, kita jalan-jalan dulu gimana?"
" Hah???"
" Iya,. itung-itung reward untuk diri sendiri lah, sebulan ini jam kerja kita kan padat banget. Tau sendiri kan? Gimana? Mau kan?"
__ADS_1
Diandra masih memikirkan penawaran dari Zaidan. Namun Zaidan sudah melajukan kendaraannya menuju gedung sebuah mall besar.
" Mas, ini bukan jalan ke rumah. Ini jalan ke mall."
Ucap Diandra protes. Sedangkan Zaidan hanya tertawa.
" Nunggu keputusan kamu, lama Di. Ya mas tancap gas aja lah."
Bibir Diandra manyun, dan membuat Zaidan semakin melebarkan senyumnya. Tangan Zaidan merogoh sesuatu di samping pintu kemudinya. Lalu meyerahkannya pada Diandra.
" Udah jangan manyun lagi, ini makan."
Diandra melihat ke arah tangan Zaidan. Lalu menoleh ke arah Zaidan. Sedangkan Zaidan hanya melihat sekilas, karena masih fokus ke kemudinya.
Sebatang coklat pemberian Zaidan kini telah berpindah di tangan Diandra.
" Nyogok pake coklat ni ceritanya?"
Zaidan tertawa.
" Kayaknya mas sering banget ya bawa coklat. Ada sesuatu yang spesialkah dengan coklat?"
Zaidan tersenyum lalu mengulum bibir nya.
" Aku pernah jatuh hati pada seorang wanita Di. Wanita yang kuat, dan seorang ibu yang sangat mencintai anaknya. Namun sayangnya, cintaku hanya bertepuk sebelah tangan, dia masih mencintai mantan suaminya, dan akhirnya mereka kembali. Bahkan aku tahu, saat ini mereka sudah memiliki anak lagi."
Diandra mengangguk paham. Lalu kembali menatap coklat yang ada di tangannya.
Zaidan melihat sesaat.
" Saat dirinya sedang tidak mood, atau pun mood nya memburuk, Dia suka makan coklat."
" Oh, jadi itu alasannya. Dan kayaknya Mas Zaidan belum bisa move on deh dari orang itu. Buktinya masih suka bawa -bawa coklat."
Zaidan lalu tersenyum kecil.
" Aku udah mengikhlaskan dia bahagia dengan lelaki pilihannya, Di. Jadi tentu saja aku udah move on. Lagian bener juga yang Dia bilang, kalau coklat itu bisa naikin mood kita yang lagi buruk. Buktinya kamu tuh, tadi manyun, tiba di kasih coklat, langsung aja seneng."
Diandra tertawa. Hingga mereka kini tiba di gedung mall, dan langsung menuju bioskop. Ternyata film yang ingin mereka tonton masih menunggu sekitar dua jam lagi.
" Kita ngapain dulu ya, Di. Kalau nunggu di sini pasti bt banget."
" Kita ke play zone aja gimana, Mas? Dari pada bengong disini kan?"
" Bagus juga ide kamu itu. Yok.."
Di play Zone, mereka bermain banyak permainan. Tak jarang kadang Diandra tertawa lepas. Membuat Zaidan kadang mengacak rambutnya. Setelah puas bermain, kini Diandra dan Zaidan mulai mengantri untuk masuk ke dalam gedung bioskop.
__ADS_1
Mereka menonton sambil memakan pop corn yang telah di beli oleh Zaidan. Serta soft drink, yang menemani. Wajah Diandra tampak sesekali tegang, jika adegan di layar menampilkan adegan yang memacu adrenalin.
Zaidan yang melihat Diandra tegang, pun memegang tangannya. Lalu berbisik.
" Jangan tegang, ini cuma film. "
Dan bisikan itu sukses, membuat Diandra menoleh ke arahnya.
" Jangan berisik, tonton aja filmnya."
Zaidan mengulum senyum . Lalu kembali memusatkan pandangannya pada layar bioskop. Diandra berteriak saat layar bioskop menampilkan sosok hantu di film itu.
" Katanya tadi berani? Kok sekarang teriak?"
Ucap Zaidan kembali sambil mendekatkan dirinya ke Diandra. Sedangkan Diandra langsung merubah ekspresinya.
" Siapa yang ttakkuut. Cccuma fillm kkok."
Diandra menjawab sedikit gugup, membuat Zaidan semakin mengulum senyumnya. Setelah hampir satu jam, dan adegan demi adegan semakin seram . Akhirnya Diandra meminta Zaidan untuk keluar dari gedung bioskop.
Setibanya di luar, Zaidan melihat wajah Diandra yang sedikit pucat.
" Kamu gak apa-apa, Di?"
" Hhuufff...gak apa-apa Mas. Cuma aga tegang aja tadi. Mana serem banget lagi filmnya."
" Lah...yang ngajakin nonton horor kan kamu."
Diandra hanya tersenyum lebar. Menampilkan deretan gigi putihnya. Sebelum mereka kembali pulang, mereka pun singgah ke sebuah rumah makan. Makanan khas Sunda mereka pilih. Untuk mengisi perut mereka yang mulai kosong.
" Besok kamu ke rumah sakit jam berapa Di?"
" Besok aku libur, Mas. Dan di klinik kayaknya sore. Jadi besok satu harian aku rebahan aja di rumah. Rasanya ah...mantaapp..."
Zaidan menggeleng kan kepala mendengar ucapan Diandra. Setelah kenyang dan merasa sudah cukup puas di tempat itu, Zaidan pun menghantarkan Diandra pulang ke rumah miliknya.
.
.
.
. Assalamualaikum semua...
Hayoooo....siapa yang masih ingat dengan dr. Zaidan Imran? 🤭🤭
Kalau kalian baca novelku sebelumnya, pasti kalian tahu, siapa Zaidan Imran.
__ADS_1
Jangan lupa like komen, dan give nya ya sayangku...
Love you all...♥️♥️♥️