Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 22


__ADS_3

Setelah mengulang tiga kali, akhirnya kata Sah terucap dari para saksi yang ada di acara akad nikah pagi itu. Kini status Ferry telah berubah menjadi suami dari kembaran kekasih hatinya. Tak ada raut bahagia, yang ada hanya wajah datar tanpa senyum. Bahkan saat fotografer mengabadikan momen di mana Dayana mencium tangan Ferry pun begitu selesai, Ferry langsung menarik tangannya. Bahkan saat fotografer meminta Ferry untuk mencium kening Dayana pun, Ferry hanya melakukannya sekejap saja. Bahkan Dayana tak merasa bahwa bibir Ferry melekat di keningnya.


" Wah ..cepet banget sih. Ulang ya, untuk kenangan."


Fotografer itu meminta Ferry untuk mengulang adegan itu. Dan dengan tegas Ferry menolaknya.


" Gak pake pengulangan."


Ucapnya datar, sedangkan Dayana tersenyum malu. Di saat seperti ini pun, Ferry masih menampakkan wajah tak senangnya.


Setelah sungkem ke keluarga, Ferry dan Dayana pun duduk di pelaminan yang memang telah di sediakan. Ferry yang melihat Bude Ayu datang, langsung menghampiri dan mencium tangannya.


" Bude, Ferry minta maaf. Ferry akan buktikan pada Diandra, bahwa semua ini gak benar. Tolong jaga Diandra bude."


Ucap Ferry sambil berjongkok di hadapan Bude Ayu, dan menjadikan lutut sebagai tumpuannya.


" Kalian telah berakhir Nak. Sekarang, jalani saja yang sudah Allah tetapkan. Insha Allah Bude akan selalu menjaga Diandra. Kamu tetap fokus pada keluargamu saat ini. Dan bude doakan semoga kamu dan keluarga kecilmu di limpahkan kebahagiaan."


"Tapi Bude..."


Bude Ayu dengan cepat memberikan kode agar Ferry tak membantah, Ferry hanya menunduk lesu. Sementara itu Dayana tampak menunjukkan wajah tidak senangnya karena Ferry yang terus mendekati Bude Ayu. Setelah itu, tak lama bude Ayu pun berpamitan.


" Mbak...aku..."


Pak Bayu tak dapat meneruskan ucapannya. Sementara Bude Ayu yang paham akan arah pembicaraan itu pun hanya tersenyum tipis dan menepuk pelan bahu pak Bayu. Sebagai seorang Ayah, pak Bayu sangat sedih. Karena dirinya tak bisa membahagiakan kedua putrinya. Hatinya sakit, karena lagi-lagi Diandra yang harus menelan kesakitan, dan kali ini lebih menyakiti Diandra.


Selama acara berlangsung di rumah Dayana, Ferry sama sekali tak menunjukkan wajah bahagianya. Tak ada senyum sama sekali. Pukul Empat sore, acara pun selesai. Ketika semua orang masih berkumpul di ruang tamu, Ferry pun langsung meminta Dayana untuk mengemasi pakaiannya.


" Kemasi apa-apa saja yang ingin kamu bawa. Kita akan pulang ke rumah Bunda."


Ucap Ferry dengan nada dinginnya.


" Tapi, Fer. Apa gak bisa kita tinggal di rumah ibu untuk sementara ini? Aku masih ingin disini."


Ferry melihat Dayana sekilas yang sedang melepas aksesoris di kepalanya.


" Terserah, kalau kamu masih ingin disini, aku pulang sekarang. "


Ferry pun segera keluar dari kamar yang telah di hias seperti kamar pengantin pada umumnya. Bunga-bunga menghiasi kamar itu. Melihat Ferry yang keluar kamar, Dayana dengan cepat pun segera menyusul.

__ADS_1


Ferry menyalami semua orang yang ada di ruang tamu, dan membuat semua orang bingung. Masih menggunakan pakaian pengantinnya.


" Loh, kamu mau kemana Fer?"


Tanya Bu Maya keheranan melihat Ferry yang keluar kamar dan langsung menyalami semua orang yang ada disana.


" Saya mau pulang, Tante. Dayana gak mau, dan memilih tinggal disini. Saya terserah dia."


Bu Maya melihat ke arah Dayana yang sudah ada di belakang Ferry.


" Bukan gitu, Fer. Aku cuma minta untuk sementara."


Melihat itu, Pak Bayu langsung bicara.


" Ikuti apa kata suamimu. Karena saat ini, kamu sudah menjadi tanggung jawabnya."


" Tapi, Mas..."


Bu Maya mencoba menyela. Namun pandangan dingin Pak Bayu kepada nya membuat Bu Maya terdiam.


Bu Maya pun akhirnya menghela nafasnya. Dan melalui isyarat mata, meminta Dayana untuk mengikuti apa yang Ferry mau.


Bu Maya bicara dengan nada lembut. Tatapan tajam dan dingin Pak Bayu membuatnya sedikit takut.


Setelah menunggu selama sepuluh menit , Dayana pun keluar dengan membawa tas yang berisi pakaian dan perlengkapan dirinya. Lalu berpamitan pada semua orang yang ada disana. Dengan di hantar oleh Satya dan Alisha, akhirnya Ferry tiba di rumah yang tak jauh dari rumah mertuanya.


Bunda Mira yang melihat Ferry datang bersama dengan Dayana pun di buat terkejut.


" Kalian langsung pulang?"


Ferry hanya menjawab dengan anggukan.


" Bang, bukannya kalian akan tinggal sementara-"


Ferry melihat ke ibunya.


" Bunda gak suka Abang pulang ke rumah? Bunda mau Abang pergi-"


" Bukan, bukan begitu maksud bunda, Nak. Kamu jangan langsung marah ya. Bunda minta maaf kalau ucapan Bunda salah."

__ADS_1


" Abang capek,.Bun. Mau istirahat."


Ferry langsung melangkah ke kamarnya. Sedangkan Alisha dan Satya yang melihat sikap Ferry hanya bisa membisu. Dayana pun tak bisa berbuat banyak.


" Bun, Alisha dan Satya pamit ya."


" Terima kasih, Nak. Hati-hati ya?"


Setelah mencium tangan Bunda Mira. Satya dan Alisha pun pergi. Sedangkan Dayana masih mematung di sana. Bunda Mira yang melihatnya pun langsung mengajaknya masuk.


" Ini kamar kalian. Maaf mungkin kamarnya gak serapi kamar kamu. Maklum aja, namanya juga kamar bujangan. Bunda juga gak menyangka kalian akan segera datang."


" Gak apa-apa, Bun."


" Ya sudah, masuklah."


Bunda Mira pun meninggalkan Dayana di depan pintu kamar Ferry. Dengan sangat perlahan, Dayana membuka pintu kamar itu. Ada Ferry yang sedang berbaring di ranjang. Tangannya berada di atas kepala dan menutupi matanya.


" Fer...aku..."


Ferry langsung mengangkat tangannya. Dan melihat ke arah Dayana.


" Mau ganti baju ke kamar mandi sana. Jangan kotori kamarku dengan tubuhmu itu."


Dayana langsung membulatkan matanya. Tak menyangka Ferry akan berkata seketus itu. Dayana pun mengeluarkan pakaian rumahannya dan menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Dayana sedikit menggerutu.


" Lihat aja, aku pastiin kamu akan bertekuk lutut di hadapan ku. Sekarang kamu masih bisa angkuh, namun setelah ini, aku akan buat kamu menjadi budak cintaku."


Setelah selesai, Dayana pun kembali masuk ke kamar Ferry. Namun Dayana tak melihat Ferry sama sekali disana. Dayana pun mencari Ferry. Namun ternyata Ferry sedang duduk menyendiri di teras samping rumahnya. Ferry berulang kali menyentuh layar gawainya. Bahkan beberapa kali juga Ferry meletakan benda pipih itu ke telinganya.


" Fer, kamu ngapain?"


Ferry menatap sekilas, dan langsung beranjak dari sana.


" Fer...aku lagi bicara sama kamu..."


Ferry langsung berhenti dan berbalik ke arah Dayana.


" Jangan pernah campuri urusanku. Kita bukan siapa-siapa, Paham !!!!"

__ADS_1


Dayan terkejut dengan sikap Ferry. Selama ini Ferry terkenal sangat lembut dan juga tak pernah membentuk seseorang. Jangankan membentak, sekedar berbicara sedikit tinggi saja sudah membuatnya sangat bersalah.


__ADS_2