
Setibanya di apartemennya Diandra, Dayana di suguhkan secangkir teh hangat. Dayana menerima, dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Dayana pun memulai ceritanya. Dengan sesekali mengusap air mata dan juga berulang kali meminta maaf. Dayana sadar akan keegoisannya. Ternyata selama ini, Dayana memendam rasa pada Ferry. Dan Dayana cemburu pada Diandra yang mendapatkan banyak kasih sayang dari orang sekeliling nya.
Sedangkan Dayana dulu hanya mendapatkan kasih sayang dari ibu mereka. Dekat dengan seorang pria yang di kiranya menyayanginya dengan tulus, tapi ternyata hanya merusak dirinya.
Dan di akhir ceritanya, Dayana kembali bersimpuh di hadapan Diandra dan meminta maaf. Dan Diandra pun langsung memeluk nya. Mereka memulai kembali hubungan sedarah mereka yang sempat renggang. Bahkan dulu Diandra menghindar saat bertemu dengan Dayana, jika ada acara keluarga.
" Aku gak nyangka, kamu memendam semuanya, Yan. Aku merasa kamu beruntung, karena ibu selalu berada di pihakmu, ibu selalu memperhatikan mu. Sedangkan aku, tidak."
Ucap Diandra seraya terisak. Mereka berdua sama-sama menangis.
" Justru kamu lah yang beruntung, Di. Kamu memiliki orang-orang yang sayang padamu, aku tidak. Di, kamu mau kan mendengarkan setiap ceritaku saat ini. Aku ingin dekat denganmu, aku ingin memiliki saudara yang bisa menjadi sahabatku. Tapi seandainya kamu juga gak berkenan, aku gak akan memaksa, aku tau, kesalahan ku padamu begitu besar."
" Yan, aku saudaramu, aku pasti mendengar kan semua ceritamu. Aku akan siap mendengarkan setiap keluh kesahmu. Kita akhiri kesalahpahaman ini. Jandi mulai saat ini, jangan pernah lagi menyatakan dirimu, aku sudah melupakan semuanya."
Mereka akhirnya sama-sama saling memaafkan. Diandra meminta Dayana untuk berisitirahat. Karena saat ini, Dayana sedang mengandung, dan kandungannya lemah.
Malam hari, Dayana akan membuatkan makan malam untuk Diandra. Dirinya tahu, saat ini Diandra sudah kembali ke klinik, dan akan pulang sebentar lagi. Jadi Dayana berinisiatif untuk memasak makan malam. Hanya menu sederhana. Dayana akan mengolah bahan baku yang ada di kulkas Diandra.
Dayana memasak telur kecap, dan oseng wortel buncis. Saat Diandra membuka pintu apartemennya, aroma wangi masakan langsung menguar begitu saja. Diandra memandang takjub pada saudaranya itu.
" Yan, kamu masak?"
Mendengar namanya di panggil, Dayana menoleh ke arah Diandra. Lalu tergagap.
__ADS_1
" Maaf ya, Di. Aku berantakin dapur kamu, aku olah bahan makanan yang ada. Aku-"
" Udah, santai aja. Aku cuma kaget aja. Kamu benar-benar berubah. Dan sejak tadi, aku lihat kamu gak buka kerudung kamu."
Dayana memegang kepala nya. Lalu tersenyum kikuk.
" Aku sedang berusaha menjadi yang lebih baik. Tolong doakan aku ya, Di."
" Tentu, aku pasti doakan. Oiya kamu masak apa, Yan?"
Dayana menoleh ke arah meja di dekat dapur.
" Hanya oseng wortel buncis, serta telur kecap. Aku cuma temukan itu di kulkas kamu."
" Besok aku pulang, Di. Aku gak bisa ninggalin kerjaan aku. Aku cuma minta izin dua hari. "
" Kamu kerja? Emangnya-"
" Gak, Di. Aku memang ingin kerja. Bukan karna apa-apa. Udah yuk, kita makan."
Selesai makan, Dayana dan Diandra pun kembali duduk bersama. Mereka seperti ingin mengulang momen, yang dulu mereka tak pernah rasakan bersama.
Pukul sepuluh malam, Dayana sudah masuk ke dalam kamar yang di sediakan Diandra. Tadinya Diandra meminta Dayana untuk tidur bersama dirinya, tapi Dayana menolak, karena tidak ingin menggangu istirahat Diandra. Akhirnya Dayana pun tidur di kamar tamu.
Di dalam kamarnya, Dayana menatap langit-langit kamar. Lalu mengelus perutnya yang masih rata. Dayana tidak tahu berapa usia kehamilannya. Karena lagi-lagi Dayana menolak untuk melakukan pemeriksaan secara lanjut.
__ADS_1
" Mama gak tau sayang, mama harus senang atau sedih akan kehadiran kamu. Jika nanti Papa mu tidak percaya bahwa kamu adalah anaknya karena masa lalu mama. Kamu jangan membenci Mama ya, Nak. Karena hanya kamu yang menjadi penguat mama saat ini. Sehat sehat di perut mama ya. Dan maafkan mama, jika nanti kamu ingin sesuatu, mama tidak dengan cepat menurutinya."
Dayana berbicara sendiri, sambil mengelus perutnya yang masih rata. Air mata nya jatuh begitu saja. Namun Dayana berjanji, dirinya tak akan menangisi masa lalunya lagi. Dia akan berusaha memperbaiki masa depannya.
Dayana tertidur setelah selesai melaksanakan kewajibannya malam itu. Sebagai seorang hamba. Dan pagi-pagi sekali, Dayana sudah siap dengan pakaiannya. Tinggal menunggu Diandra bangun. Dayana akan segera pulang.
Diandra keluar kamar dengan pakaian rapi. Dan terkejut melihat Dayana yang sudah duduk di meja makan dengan segelas teh hangat.
" Kamu sudah siap-siap Yan. Apa gak kepagian kamu pulang jam segini?"
" Enggak Di. Duduk dulu, aku buatin teh untuk kamu. Sebentar ya."
Dayana segera menyiapkan teh untuk Diandra. Tak sampai lima menit, segelas teh hangat sudah ada di hadapannya.
" Kamu pulang naik bus, Yan?"
" Iya, lagian sayang tiketnya, aku udah beli kemarin begitu tiba disini. "
" Kan bisa naik pesawat, Yan. kalau gini, nanti kamu pasti capek."
Dayana tersenyum. Lalu menggeleng.
" Tenang aja, aku baik-baik saja kok. Dan aku percaya anak aku juga kuat."
Setelah itu, mereka berdua pun meluncur ke arah yang berbeda. Dayana meminta Diandra untuk teta berangkat ke rumah sakit seperti biasa. Sedangkan Dayana akan ke terminal menggunakan taksi.
__ADS_1