
Pagi ini, Dayana datang ke rumah orang tuanya. Setelah meminta Ferry untuk mengantarkannya. Ferry akan menjemputnya kembali setelah pulang bekerja. Dayana masuk ke rumahnya, dan di dapati ibunya yang sedang berada dikamar mereka dulu. Dayana melihat sang ibu yang sedang memandangi foto mereka berdua. Tangan tuanya tampak membelai wajah Diandra di foto itu.
Dayana tersenyum tipis, dan tak ingin menggangu ibunya, bahkan Dayana sempat merekam beberapa detik saat ibunya membelai foto itu.
" Ibu kangen kamu, Nak. Maafkan keegoisan ibu. Kalian anak-anak ibu, tapi ibu gak pernah adil padamu."
Dayana tertegun sejenak mendengar suara pelan ibu nya. Bahkan bahunya sempat bergetar. Menandakan Ibu nya sedang menangis.
Dayana meneteskan air matanya. Namun saat di lihatnya sang ibu yang sudah menyeka air matanya, Dayana pun segera menyeka air mata. Tak ingin ketahuan, Dayana pun berpura-pura baru saja datang.
" Assalamualaikum, Bu..."
Ucap Dayana, dan Bu Maya pun segera keluar dari kamar mereka.
" Waalaikumsalam, Yana...kamu datang sama siapa, Nak?"
Tanya Bu Maya sambil melihat ke arah luar.
" Yana diantar sama Abang, Bu. "
__ADS_1
Bu Maya menatap Yana dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Yana. Membuat Yana menaikan alisnya.
" Ada apa, Bu?"
Bu Maya pun tersadar, lalu menggeleng sambil tersenyum.
" Gak ada apa-apa. Ayo duduk."
" Bu, kita ke dapur aja, Yana udah bawain ibu sarapan. Kita makan sama-sama ya."
Bu Maya pun mengikuti keinginan ibu hamil itu. Memang saat di rumah tadi, Yana hanya makan sedikit, menemani Ferry makan. Karena Yana ingin sarapan berdua dan bercerita dengan ibunya.
" Bu, saat ini hubungan Yana dan Ferry sudah membaik. Terkadang, Yana suka memancing Ferry mengenai perasaanya terhadap Yana. Dan ternyata, mendapatkan jawaban yang terkadang di luar pemikiran Yana. Yana kita, Ferry hanya ingin bertanggung jawab atas anak ini, tapi nyatanya, Ferry memang sudah menerima Yana. Bahkan, saat beberapa kali, Yana mempertemukan Dian dan Ferry. Tatapan Ferry pada Dian hanya datar aja. Yana kangen sama Dian, Bu. Apa ibu gak kangen?"
Alis Bu Maya bertaut. Mendengar penuturan Dayana.
" Kamu bertemu Dian? Maksud kamu?"
" Iya, Bu. Yana sudah beberapa kali ke kost-an Dian. Dian sudah di kota ini lagi Bu. Sudah ada dua bulan mungkin."
__ADS_1
Bu Maya tampak tak tenang.
" Lalu kamu tadi bilang, Kamu mempertemukan Ferry dan Dian? Apa kamu sudah gila, Yan?"
Dayana tersenyum. Lalu memegang tangan ibunya.
" Bu, Diandra pun sudah mempunyai kekasih saat ini. Bahkan Ayah juga sudah bertemu dengan lelaki itu."
Bu Maya membulatkan matanya. Berarti hanya dirinya yang tak tahu jika putrinya sudah kembali ke kota ini.
" Ada apa dengan kalian? Kalian tau Diandra di kota ini, tapi kalian diam saja?"
Bu Maya menutup bibirnya. Rasanya dirinya terlalu bereaksi berlebihan.
" Hm...mmaaksud ibu, ya...terserah Dian, mau dimana. Ibu juga tidak peduli."
Bu Maya bangkit dari duduknya. Hendak membawa piring kotor dari meja.
" Ibu gak kangen Dian? Ibu gak pingin peluk dia? Sudah dua tahun, Bu. Sampai saat ini, Dian tak pernah menginjak kakinya di rumah ini. Apa ibu gak kangen Dian?"
__ADS_1