Dayana Dan Diandra

Dayana Dan Diandra
Bab 17


__ADS_3

Alya menemui Dayana di rumahnya, dan menyampaikan pesan yang Ferry titip kan pada Dayana. Sejak membuat laporan kepada Polisi mengenai perbuatan yang tak di lakukan oleh Ferry, Dayana lebih banyak diam. Hatinya sakit, harus menghancurkan impian orang yang di cintainya. Tapi Dayana lebih memilih egois untuk mendapatkan Ferry. Dirinya sudah tidak bisa lagi mengedepankan hatinya. Keegoisan dan kebencian pada Diandra membuatnya melakukan hal gila, yang bahkan tidak pernah di pikirkan olehnya selama ini.


" Kak, Bang Ferry cuma minta kakak untuk menemuinya. Alya cuma ingin menyampaikan itu. Alya pulang ya Kak."


Alya pun melangkah, namun suara dari Dayana menghentikan langkahnya.


" Bagaimana keadaan Ibu mu, Al? Bagaimana keadaan Ferry?"


Alya menghela nafas. Menahan rasa sesak di hatinya. Alya sebenarnya meyakini bahwa sang kakak tak mungkin berbuat hal rendah seperti itu.


" Bunda sangat terpukul dan terpuruk. Sebagai seorang Ibu, Bunda sangat sedih. Apalagi melihat impian anaknya hancur, Kak."


Setelah berkata seperti itu, Alya pun pergi. Sedangkan Dayana menatap nanar punggung Alya. Hatinya sakit, tapi kebenciannya membuat dirinya bertindak bodoh.


Setelah kepergian Alya, Dayana pun bergegas berganti pakaian, dan pergi menuju tempat dimana Ferry berada. Ferry yang melihat kedatangan Dayana, hanya menatap datar wanita di depannya.


" Puas Lo sekarang, udah ngancurin hidup gue? Ngancurin masa depan Gue?"


" Aku kesini cuma memenuhi apa yang Alya sampaikan tadi. Kalau sikap kamu begini, mendingan aku pulang."


Ferry tertawa mengejek. Melihat Dayana yang bertingkah seolah dirinya adalah korban. Apalagi mata Dayana berkaca-kaca saat ini.


" Gak usah sok suci Lo. Inikan keinginan Lo. Oke gue turutin, gue bakalan nikah sama Lo. Asal.lo cabut gugatan Lo ke gue."


Dayana menatap tak percaya ke Ferry namun Ferry langsung membuang wajahnya. Dayana mengangguk setuju dan tersungging senyum di wajah cantik nya.


" Oke, besok aku akan cabut laporannya."


" Gue maunya sekarang."


" Oke...aku akan cabut sekarang."


Setelah berkata seperti itu, Dayana pun mencabut laporannya. Dan Ferry pun bisa bebas. Dan saat itu juga, Ferry langsung pulang dan menemui Bundanya. Keadaan Bundanya yang lemah, membuat Ferry menangis di kaki sang Bunda.


" Bang,..Abang pulang?"

__ADS_1


Ucap Bunda Mira, membuat Ferry mengangguk dan menjawab dengan suara seraknya.


" Iya, Bun. Abang pulang. Abang akan turuti keinginan Bunda. Asal bunda janji sama Abang, bunda akan sehat lagi. Abang gak mau Bunda sakit. Maafin Abang, Bun..."


Dayana yang melihat adegan itu, meneteskan air matanya. Sedangkan Alya ikut memeluk Abang dan Bundanya.


" Yana? Yana udah lama disana?"


Dayana yang merasa namanya di panggil pun menghela air matanya.


" Abang datang sama dia, Bun. Sekarang Abang mau ke kamar Abang ya, Bun."


Setelah itu Ferry pun berlalu. Sedangkan Dayana menatap perginya Ferry dengan perasaan campur aduk. Bunda Mira meminta Dayana untuk duduk di dekatnya.


" Yan, kami akan secepatnya datang untuk melamar kamu. Terima kasih sudah mencabut laporan, dan membebaskan Ferry."


Ucapan Bunda Mira berhasil membuat Dayana merasa menjadi orang yang paling berdosa. Bagaimana tidak, setelah fitnah yang di lemparkan olehnya pada Ferry, Bunda Mira masih bersikap baik padanya.


Benar saja, seminggu setelah kejadian itu, Keluarga Ferry datang melamar Dayana. Tentu saja, dengan wajah Alisha dan Satya yang tak bersahabat. Bahkan beberapa kali Alisha menyindir Dayana saat Dayana lewat di hadapannya.


Ucapan Alisha berhasil membuat Dayana malu. Namun Dayana masih bisa membalas.


" Dengan cara apapun itu, yang jelas sebentar lagi gum


e akan jadi Nyonya Ferry. Suka gak suka, terima gak terima, sahabat kalian itu akan jadi suami gue."


Alisha yang sudah sangat geram dengan tingkah Dayana hanya bisa menggenggam tangannya sendiri. Sementara Alya dan Satya menggeleng kan kepala memberikan kode pada Alisha, untuk tetap mengontrol dirinya. Mereka takut, kekesalan Dayana pada Alisha akan berimbas pada Ferry.


Sedangkan Ferry yang saat itu berada di sana, hanya diam seribu bahasa. Bahkan saat Pak Bayu di dekatnya pun Ferry hanya diam. Ferry hanya menatap foto Diandra yang menjadi wallpaper di ponselnya.


" Sebentar lagi, kamu akan menjadi menantu saya. Menjadi suami Dayana, saya harap kamu bisa melepaskan Diandra. Jangan sakiti dia lebih dalam karena kesalahan kamu."


Ferry hanya diam. Tapi tidak saat mereka tinggal berlima. Semua tamu sudah pulang, dan kini mereka tengah membicarakan tentang pesta pernikahan.


" Bu, Yana mau, pestanya nanti konsepnya Garden party ya. Kita booking hotel aja, Gimana?"

__ADS_1


" Tapi, Nak. Untuk hotel kan terlalu mahal. Apa gak sebaiknya di laksanakan di rumah saja. Kita buat acara kecil-kecilan. Kita akan tetap adakan resepsi, tapi yang sederhana saja."


Bunda Mira mencoba memberikan saran. Karena dirinya tau, sangat besar biaya jika mereka harus menyewa hotel untuk pesta pernikahan ini. Uang tabungannya sudah berkurang saat Alya masuk kuliah, dan juga biaya saat Ferry berada di dalam sana.


" Tapi, Bu..."


" Akad di adakan secara sederhana, tanpa resepsi, yang penting kamu sudah sah. Itu aja. Gak ada yang namanya resepsi, walupun sederhana."


Ucapan Ferry berhasil membuat mereka menoleh ke arahnya.


" Tapi, Fer. Aku gak mungkin gak ngundang teman-teman ku."


Dayana mulai membantah. Ferry menatap Dayana tajam.


" Gue udah bilang, gak ada resepsi. Terserah, mau di lanjutin atau Lo mau buat laporan lagi. Terserah, gue udah pernah merasakan dinginnya di dalam sana. Jadi gue gak takut apapun lagi. Lagian masa depan gue udah rusak juga kan karena ulah Lo."


Bu Maya yang tak suka mendengar kata-kata Ferry pun langsung bangkit dari duduknya.


" Apa kamu bilang, Anak saya sudah merusak masa depan kamu, gak salah. Bukannya kamu yang sudah merusak masa depan anak saya.Jangan asal bicara kamu. Saya gak terima kamu menjelekkan anak saya."


Ferry hanya menatap Bu Maya. Lalu pandangannya beralih ke arah Dayana yang sudah memegang lengan Bu Maya.


" Bu, udah jangan ribut. Yana gak mau pernikahan ini batal, kita ikutin aja maunya Ferry ya, Bu. Yana gak apa-apa kok."


" Tuh denger, Anak saya rela, menikah tanpa resepsi. Dan menikahnya dengan kamu pulak."


" Kalau ibu gak setuju, masih bisa di batalin kok. Gak masalah."


Jawab Ferry sambil bangkit dan pergi dari rumah Dayana. Sedangkan Bunda Mira yang melihat Ferry yang berbeda segera meminta maaf dan mengejar Ferry.


" Bang, tunggu bunda, Bang."


Ferry yang mendengar namanya di panggil oleh sang Bunda akhirnya menghentikan langkahnya.


" Bang, kamu jangan begini, bagaimana nasib kamu, kalau kamu gak bertanggung jawab. Yana pasti akan menjebloskan kamu lagi, Bang. Bunda gak sanggup lihat kamu di sana."

__ADS_1


__ADS_2