
" Lo kapan pulang, Di?"
" Hm...kayaknya sebelum pernikahan Dayana.."
" Kkaammuu uuddaahh tau, kkalau Dayana mau nikah..."
Ucap Alisha terbata, membuat Diandra mengerutkan keningnya.
" Udah...kenapa sih, Al? "
" Hm...Lo udah tau, ssiiaapa calonnya?"
" Belum sih, Ayah sama Ibu gak bilang siapa calon Dayana. Aku juga bingung, Al. Kenapa pernikahan Dayana terkesan buru-buru ya?"
" Gue gak tau, Di. Hm...Di, udah dulu ya. Nanti gue telpon Lo lagi. Bye Dian..."
" Bye Al.."
Percakapan mereka pun terhenti. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Lelah yang di rasakan nya membuat dirinya dalam sekejap masuk ke alam mimpinya.
Pagi hari, Diandra yang sudah bangun segera menuju dapur. Tempat ini menjadi tempat favorite nya. Diandra suka mengolah bahan yang ada menjadi makanan berat ataupun cemilan untuk seisi rumah.
Masih ada rasa mengganjal di hati Diandra, mengenai pernikahan Dayana. Mengapa Diandra sampai tak di beritahu. Semua itu masih terus berputar dalam pikirannya.
" Duh, ngelamun aja, ntar kesambet loh..."
Tika datang dan melihat Diandra yang melamun di dapur.
" Mbak Tika ih, sukanya ngagetin. Ntar kalo Dian kena serangan jantung gimana?"
" Lagian pagi-pagi udah melamun aja."
" Gak melamun Mbak. Cuma lagi mikir aja. Kok Dayana lamaran gak ngabarin aku ya? Walaupun kami gak dekat, tapi biasanya Dayana pasti ngabarin. "
" Ya udahlah, gak usah di pikirin. Oiya, kamu jadi ngelamar kerja di rumah sakit yang waktu itu?"
" Jadi, Mbak. Doain ya."
Mereka pun memasak bersama pagi itu. Keakraban antara Diandra dan juga Tika bagai saudara kandung. Walau mereka hanya sepupu, tapi kedekatan mereka melebihi kembarannya.
Raka yang melihat kedekatan Diandra dan juga Tika tersenyum tipis. Namun Bude Ayu, mamanya melihat senyuman itu.
__ADS_1
" Kenapa, Mas? Kok senyum gitu melihat Diandra dan Tika?"
" Mas seneng aja, Ma. Melihat mereka itu. Dan lebih membuat Mas senang, Diandra kini gak terlalu bersedih kalau Ibunya menolak dia. Beda pada waktu dulu. Huuh..tapi kemarin Mas melihat kekecewaan itu lagi, Ma. Saat Ibu nya menolak keinginannya dan mengatakan bahwa saudara kembarnya udah mau nikah. Tapi dia gak di kabari."
" Iya, Mama juga bingung dengan sikap Bulek mu itu. Kenapa perlakuan nya pada Diandra selalu saja berbeda. Padahal keduanya lahir dari rahim nya. Dan saat yang bersamaan pula. Makanya mama bersikeras saat tau Diandra ingin kuliah di kota ini, mama akan bawa dia keluar dari rumah yang selalu buat Dian sedih."
Raka hanya mengangguk, membenarkan ucapan sang Mama. Mereka terus memperhatikan Diandra dan juga Tika yang sedang memasak bersama pagi itu.
" Eh, Bude sama Mas Raka kok diem aja di situ. Ayo sini, sarapannya udah selesai. Pakde Bagus yang baru saja selesai jalan pagi datang menghampiri meja makan.
" Ih, Papa kok gak mandi dulu."
Ucap Bude Ayu pada sang Suami.
" Bentar, Ma. Papa mau lihat anak-anak gadis ini lagi masak apa. Ternyata makanannya enak-enak semua."
Ucap Pak Bagus pada istrinya.
" Siapa dulu yang masuk dapur...anak papa..."
Jawab Tika membanggakan dirinya sendiri
Ucap Bude Ayu, dan langsung terdengar gelak tawa dari Tika.
" Ah, mama. Kan jadi gagal Tika minta uang jajan dari papa."
Ucap nya sambil tertawa.
" Udah, nanti papa transfer. Lagian kamu itu udah kerja, masih aja malakin papa."
Tak lama, Pak Bagus mengeluarkan ponselnya dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Tika. Tika yang sedang memegang ponsel pun tersenyum dan berterima kasih pada Papanya.
" Bude, Dian ke kamar dulu ya. Mau mandi. Gak enak habis masak."
" Iya, jangan lama-lama ya. Kita tunggu untuk sarapan."
Diandra masuk ke kamarnya dan juga kamar Tika. Lalu bergegas mandi. Tak lama, Diandra melihat ponselnya, dan melihat ada sejumlah uang masuk ke rekeningnya. Diandra tersenyum, disini Diandra bukan hanya mendapatkan kehidupan yang baik, namun kasih sayang tulus dari sebuah keluarga.
" Pakde makasih ya transferannya."
" Iya, kamu itu sudah pakde anggap seperti anak pakde sendiri, jadi apapun yang pakde beri ke Tika dan Raka, kamu juga dapat, Nduk."
__ADS_1
Ada rasa haru menyeruak di hati Diandra. Bertahun-tahun dirinya tinggal bersama mereka, namun rasa sayang mereka semakin haru semakin besar.
" Hm..bude, pakde, Minggu depan, Dian mau pulang sebentar. Dian masih penasaran, dengan calon ipar Dian. Dan juga bantu-bantu di rumah. Boleh ya?"
Setelah meminta izin pada pakde dan bude nya, Diandra pun langsung mengabari Alisha. Sahabatnya itu. Alisha yang mendengar Diandra akan pulang Minggu depan di landa kebingungan.
" Hm...Di, mendingan Lo balik secepatnya. Jangan tunggu sampe Minggu depan. Gue gak mau Lo..."
" Kamu kenapa sih, Al? Kok sejak kemarin pembicaraan mu tu aneh gitu. Ada apa, Al?"
Alisha yang sedang bersama Satya pun hanya bisa saling pandang. Diandra yang melihat gelagat aneh kedua sahabatnya itu terus mendesak agar menceritakan semuanya.
Dan pada akhirnya, Satya dan Alisha menceritakan semua yang terjadi, tangis Diandra pecah begitu saja.
" Di...di...di, tolong jawan gue, Dian...Diandra, di..."
Alisha memanggil nama Diandra, namun tak ada jawaban. Hanya terdengar suara Isak tangis di sana. Sampai akhirnya panggilan itu di putus. Bude Ayu yang mendengar suara tangisan Diandra langsung mendatangi kamar.
" Nduk...kamu kenapa? Hei, Di...Dian..Kamu kenapa toh, Nduk. Ngomong sama bude, Sayang."
Diandra langsung memeluk Bude Ayu. Dan bude ayu pun membalas pelukan Diandra. Bude Ayu dengan sabar mengelus punggung Diandra. Sampai tangis Diandra reda.
Setelah di rasa tangis Diandra reda, Bude Ayu pun meminta Diandra untuk menceritakan apa yang terjadi. Diandra dengan sesegukan menceritakan apa yang di dengarnya dari Alisha sahabatnya.
Wajah Bude Ayu, tampak geram. Bude Ayu langsung menelpon Raka dan juga suaminya. Setibanya mereka berdua, Bude Ayu langsung menceritakan semuanya. Sedangkan Diandra hanya menunduk dan menangkup wajahnya yang berurai air mata.
" Kamu gak perlu menangisi lelaki macam dia. Ini semua cukup membuktikan bahwa dia bukan laki-laki baik. Dasar bajingan."
Raka mengumpat, bahkan tangannya sudah terkepal, dirinya sangat marah, saat mengetahui jika Diandra di sakiti.
" Yana juga kelewatan, pacar saudaranya juga di embat aja. Emang dasar anak itu. Ini akibat terlalu di belain sama Maya."
Bude Ayu pun sama geramnya dengan Raka. Dan Pakde Bagus pun segera memegang pundak istrinya.
" Udah dong, Ma. Kasihan Diandra. Kalian jangan makin membuat Diandra sedih."
" Sekarang, kamu mau bagaimana Nak?"
Diandra yang sedari tadi hanya diam, menatap Pakde yang menyayanginya seperti anak nya sendiri itu.
" Dian akan ke Jakarta, Pakde."
__ADS_1