
Dayana menatap tangannya yang masih terpasang selang infus. Rasanya hari ini berjalan dengan sangat lambat. Sore ini, Dayana hanya berbaring sambil menatap ponsel nya. Berniat ingin bertukar kabar dengan saudaranya. Tapi Dayana merasa sungkan. Dayana takut, jika Diandra menganggap dirinya hanya ingin mencari perhatian dari saudaranya itu.
Tapi tak lama, Diandra yang lebih dulu mengabari Dayana. Membuat Dayana menatap layar ponselnya tak percaya.
" Yan, Jam berapa kamu tiba, kok.gak ngabarin? Kamu baik-baik saja kan"
Dayana menipiskan bibirnya. Dan membalas pesan itu. Dayana terpaksa berbohong, tak ingin membuat saudara kembarnya itu cemas. Tak lupa, di akhir percakapan mereka, Diandra mengingatkan tentang vitamin dan juga susu yang harus di minumnya.
Ferry melihat ke arah Dayana yang sepertinya sangat asik dengan ponsel di tangannya. Tak lama, Dayana pun meletakkan ponselnya di meja kecil samping ranjang. Dayana duduk, lalu menyibakkan selimut yang menutup kakinya. Ferry yang melihat gerakan Dayana pun langsung mendekat.
" Kamu mau kemana?"
" Kamar mandi."
Jawaban datar dari Dayana membuat Ferry diam. Namun lelaki itu, tetap membantu Dayana. Dayana ingin melepaskan tangan Ferry, namun tatapan mata Ferry membuat Dayana akhirnya mengalah.
Dayana sudah duduk di atas closet, namun Ferry tidak juga pergi dari dalam kamar mandi. Membuat Dayana mengerutkan keningnya.
" Keluarlah, aku bisa sendiri."
" Aku akan tetap disini, sampai kamu selesai."
__ADS_1
" Kalau kamu tetap disini, aku gak akan selesai-selesai. Keluarlah..."
Melihat Dayana yang tak nyaman, akhirnya Ferry pun memilih keluar dari kamar mandi itu. Ferry hanya menunggu di depan pintu kamar mandi. Setelah Dayana selesai, Dayana pun segera keluar. Dan terkejut melihat Ferry yang masih berdiri di depan pintu. Dayana hampir jatuh, namun dengan cepat, Ferry menarik pinggangnya, dan membuat tubuh keduanya berdekatan.
Dayana mengalihkan pandangan nya, saat tatapan mata mereka bertemu. Sedangkan Ferry masih tetap memeluk Dayana. Setelah Ferry membantu menyelimuti Dayana, Ferry pun duduk di tepi ranjangnya.
" Yan, kenapa kamu gak bilang sama aku, kalau saat ini kamu sedang hami"
Dayana mengalihkan pandangan nya. Dirinya sedang tidak ingin membahas apapun.
" Yan..."
Bukannya mendapatkan jawaban, namun Yang malah balik bertanya.
" Mungkin dalam dua atau tiga hari ini."
Dayana menghela nafasnya. Dayana pun langsung mengambil ponsel dan menelpon seseorang di sebrang sana.
" Maaf ya, Mbak. Aku gak bisa masuk kerja beberapa hari ini. Nanti aku akan ganti dengan jadwal liburku."
Ucapan Dayana di ujung panggilan itu pun berhasil membulatkan mata Ferry.
__ADS_1
" Yan, sebaiknya kamu berhenti bekerja, aku gak mau terjadi apa-apa dengan mu."
Namun lagi-lagi Dayana diam. Ferry hanya bisa menghela nafasnya, saat Dayana terus saja bungkam. Ferry sadar, jika saat ini Dayana masih sangat marah padanya.
Waktu berjalan, sudah tiga hari Dayana di rawat, dan siang ini, Dayana sudah di perbolehkan pulang. Setelah sebelumnya dokter yang memastikan bahwa kandungan dan juga fisik Dayana sudah sehat. Hanya saja dokter berpesan, agar Dayana tidak terlalu lelah. Vitamin serta obat penguat kandungan pun sudah ada di tangan Dayana. Saat ini, Ferry tengah menuntaskan biaya perawatan Dayana.
" Kita pulang ya, Yan. Ibu sama Aliya juga udah nunggu di rumah."
Ferry ingin mengangkat tas yang berisi pakaian Dayana. Namun tangannya di cekal.
" Aku mau pulang ke rumah orang tua ku."
" Tapi, Yan..."
Tatapan memohon dari Dayana membuat Ferry mengangguk.
" Hanya untuk sementara. Aku biarkan kamu nginap disana. Satu Minggu, hanya satu Minggu Yan..setelah itu, aku akan menjemputmu."
Dayana diam. Dan kini mereka berdua berjalan bersisian. Saat tangan Dayana di genggam oleh Ferry. Dengan cepat, Dayana menarik tangannya kembali, namun tenaganya kalah. Ferry memegang tangan itu erat.
Setibanya di kediaman orang tua Dayana. Bu Maya terkejut, ketika mengetahui jika Dayana lebih memilih tinggal di rumah ini dari pada rumah mereka.
__ADS_1