Demon King System

Demon King System
Juliana Pemilik Mana Yang Sangat Murni


__ADS_3

Dengan napas terengah-engah, Juliana akhirnya berhasil mengejar Coen Graham yang sedang berbicara dengan Pimpinan Kesatria Sihir Kuil Cahaya.


Coen Graham mengerutkan keningnya karena ia yakin adiknya yang dilarang keluar sembarangan dari rumah oleh ayahnya itu pasti diam-diam mengikuti dirinya.


“Julina... kenapa kamu—”


“Kakak... aku melihat mantan Raja Iblis Zagralaas!” sela Juliana yang membuat Coen Graham dan yang lainnya terkejut mendengarnya.


“Kamu pasti salah orang, nama Zagralaas itu bukan hanya dimiliki oleh mantan Raja Iblis itu!” Coen merasa bila mantan Raja Iblis Zagralaas melihat Juliana maka adiknya itu sudah diculik olehnya karena kata ayahnya Juliana memiliki mana yang murni yang akan menjadi incaran Iblis dan Penyihir Hitam.


Mata Juliana berkaca-kaca menatap Coen Graham, tatapan itu adalah tatapan yang dapat membuat siapa saja menjadi luluh. Namun, Coen sudah kebal terhadap tatapan itu karena sudah sering berurusan dengan Juliana.


“Mungkin saja yang dikatakan oleh adikmu benar, bagaimana kalau kita berpura-pura menanyakan indentitas orang yang dijumpainya itu!” sahut Pimpinan Kesatria Sihir Kuil Cahaya.


“Aku juga merasa Mana yang keluar dari tubuh mereka sangat aneh,” ucap Juliana dengan ekspresi kebingungan. “Gadis berambut merah memiliki Mana yang sangat murni tetapi dia bukan Elf, gadis satunya lagi memiliki Mana yang bertolak belakang dengan gadis berambut merah itu, sedangkan yang Pria aku tidak dapat merasakan Mana dari tubuhnya padahal dia jelas-jelas seorang Petualang.”


Coen Graham akhirnya penasaran juga dengan sosok yang diucapkan oleh adiknya itu. “Baiklah aku akan mengikuti saran tuan Albert,” kata Coen, “tapi kamu harus pulang sekarang!” Dia memarahi Juliana dan meminta beberapa Kesatria Sihir keluarga Graham mengawalnya agar Juliana tidak mengikuti dirinya lagi.


Juliana menghentakkan kakinya, kesal Coen Graham tidak mengajaknya padahal ia ingin juga berjumpa dengan Ketiga orang aneh tadi itu.


...***...


Pitung memutuskan singgah di Kota Senderos karena matahari mulai tenggelam, dari pada menginap di alam terbuka yang ditemani Api unggun lebih baik menginap di sebuah Penginapan dan menikmati makanan enak di Kota Senderos, lagi pula mereka sedang tidak menjalankan misi sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Demon King System juga tidak memberikan misi baru lagi setelah misi pengawalan kereta kuda milik petani selesai.

__ADS_1


Dia sebenarnya merasa ada yang aneh, kenapa saat bertemu Iblis Level 75 tidak ada misi yang terpicu dari Demon King System.


Dia mulai curiga hal yang berhubungan dengan Iblis tidak akan membuat misi Demon King System terpicu, padahal kehadiran Iblis itu sangat mencurigakan apalagi Iblis itu menggiring gerombolan Babi Hutan.


Dia berharap kemunculan Iblis itu tidak akan menimbulkan bencana dan dia juga tidak tertarik untuk menyelidikinya lebih jauh karena dirinya bukanlah Pahlawan yang akan selalu disertai dengan keberuntungan walaupun harus melawan musuh terkuat.


Pitung sadar dirinya cuma Jiwa yang disummon ke tubuh Raja Iblis Zagralaas dan tubuhnya di Bumi akan mati bila ia juga mati di Dunia isekai ini.


“Tuan... kenapa kamu melamun? Apakah tuan masih memikirkan gadis tadi itu?” Netla Durand membuyarkan lamunan Pitung saat mereka berhenti di halaman sebuah Penginapan.


“He-he-he... kenapa aku harus memikirkan gadis NPC itu?” sahut Pitung tertawa.


“NPC?” Larissa tak mengerti maksud singkatan itu.


“NPC itu maksudnya gadis random yang hanya kita jumpai sekilas saja! Sudahlah jangan dipikirkan lagi, toh... bahkan namanya saja kita tidak tahu!” Pitung berkilah sembari melangkah ke dalam Penginapan.


Pitung, Netla Durand dan Larissa Blackwood sangat cocok dengan orang mencurigakan yang dikatakan oleh Juliana, terutama dengan Netla Durand yang berambut merah.


“Kesatria Sihir dari keluarga bangsawan Graham dan Kesatria Sihir Kuil Cahaya, kenapa mereka menghampiri kami?” gumam Pitung keheranan dan dia langsung tersenyum ramah menyambut Coen Graham. “Eh, Anda kan tuan Kesatria Sihir yang memeriksa identitas kami di gerbang masuk Kota!”


Pitung masih mengingat wajah Albert, Pemimpin Kesatria Sihir Kuil Cahaya tersebut.


“Oh, kalian ternyata... aku sudah memeriksa identitas mereka dan tidak ada hal yang mencurigakan. Mereka malah dengan sukarela mengawal kereta kuda Petani!” kata Albert.


Coen Graham menatap Pitung tanpa berkedip dan merasa tak mungkin juga Pemuda lemah sepertinya adalah mantan Raja Iblis Zagralaas yang membuat semua Kesatria Sihir di Kota Trivoni ketar-ketir tersebut.

__ADS_1


Kalau pun Zagralaas yang asli muncul di Kota Senderos maka ia akan langsung melangkah dengan sombong dan menghancurkan siapa saja yang mencoba menghadangnya.


“Maafkan kami tuan Zagralaas... sebenarnya kami sedang melakukan patroli karena kabarnya mantan Raja Iblis Zagralaas dan Penyihir Kegelapan menyusup ke Kota ini!” sahut Coen Graham sembari menundukkan sedikit wajahnya sebagai permintaan maaf.


“Apaaaaaaaaa? Iblis bangsattttttttttttttttttt itu, eh, upsss!” Pitung menutup mulutnya berpura-pura panik. “Apakah yang kalian katakan benar? Apa sebaiknya kita mengungsi ke Kota lain saja?” katanya lagi berakting terlihat semakin panik.


Coen Graham dan Albert merasa sosok penakut seperti Pitung tak mungkin lah mantan Raja Iblis. Mereka yakin Juliana hanya asal menuduh saja agar dibolehkan mengikuti Coen berpatroli.


“Kalian tidak perlu mengungsi karena itu hanya rumor saja!” sahut Albert tersenyum. “Kalian lanjutkan lah istirahatnya dan kami menjamin Kota Senderos itu sangat aman sekali!”


Pitung menepuk dadanya dan menghela napas panjang. "Ah, tadi itu membuatku panik saja!” katanya sembari menundukkan wajahnya menunjukkan rasa hormat pada Coen Graham dan Albert yang merupakan dua sosok yang memiliki kedudukan tinggi di Kota Senderos.


Netla Durand dan Larissa Blackwood tidak ikut berakting berpura-pura lemah seperti Pitung. Keduanya hanya memilih diam saja karena bagi keduanya tidak berguna menunjukkan rasa hormat pada Kedua Kesatria Sihir yang memiliki Level jauh lebih rendah dari Level asli mereka.


Gadis yang mengenakan pakaian kelinci tersenyum hangat menyambut kedatangan Pitung yang langsung mimisan.


“Puja Kerang Ajaib!” teriak Pitung. “Ini adalah item langka yang jarang-jarang muncul di Dunia isekai!” Pitung berputar-putar mengelilingi gadis itu.


“Tu-tuan! Apa yang kau lakukan?” Gadis itu ketakutan.


Pitung mengacungkan jempol dan menyeka mimisan yang keluar dari hidungnya. “Apakah kamu masih memiliki kostum seperti ini, aku akan pesan dua untuk mereka!”


“Tuannnnnnnnnnnnnnnn!” teriak Netla Durand kesal, bagaimana bisa sikapnya yang dingin berubah menjadi liar seperti ini setelah jiwanya menjelajah ke Dunia lain. “Tolong menyingkir! Mulai sekarang aku yang akan memesan kamar penginapan!” keluhnya.


Gadis berpakaian kelinci itu tersenyum masam dan memandu mereka ke lantai dua untuk memilih kamar.

__ADS_1


Awalnya Netla Durand hendak sekamar dengan Pitung, tetapi Larissa Blackwood juga ingin sekamar padahal mereka telah memesan Dua kamar. Untuk menghilangkan ketegangan diantara dua gadis cantik itu, Pitung memilih tidur sendirian dan memaksa kedua tidur bersama.


__ADS_2