
Pitung tidak langsung kembali ke penginapan setelah keluar dari Bar, dia berjalan-jalan di jalan utama Kota Senderos yang masih lumayan ramai walaupun sudah semakin larut malam.
“Hadeh... bagaimana caraku mengetahui kalau Juliana sedang diserang oleh penjahat? Apalagi tidak informasi apapun tentangnya dari Demon King System, padahal System pada film-film anime atau novel selalu memberikan informasi detail tentang misi yang diberikan pada penggunanya!” gumam Pitung menggerutu.
Tanpa sadar Pitung sudah berdiri di depan Kastil keluarga Graham, Dua Kesatria Sihir langsung menegurnya dan meminta menjauh dari depan gerbang Kastil.
Pitung berpura-pura sedang mabuk dan melirik ke arah dalam Kastil, dia merasa keadaan di dalam Kastil normal saja. Siapa juga yang akan bertindak bodoh memasuki Kastil yang memiliki penjagaan ketat ini hanya untuk menyakiti Juliana kecuali mereka mengincar sesuatu yang istimewa darinya.
“Kenapa kau masih berdiri di situ? Apakah kamu ingin dijebloskan ke penjara?” gertak salah satu Kesatria Sihir keluarga Graham, kesal Pitung malah tampak seperti orang yang kebingungan di hadapan mereka.
Pitung tersenyum lebar dan melambaikan tangan ke arah mereka sembari menjauh dari Kastil keluarga Graham itu. Dia juga memunculkan Panel Virtual Demon King System dan memperhatikan misi yang diberikan padanya.
Masa berlaku misi itu hanya Lima Jam saja yang berarti dalam waktu dekat atau mungkin saja Juliana sedang dalam bahaya dan tidak ada Kesatria Sihir keluarga Graham yang mengetahuinya.
“Ah, apa yang harus kulakukan, ya? Apa aku membangunkan Netla dan Larissa? Tapi mereka sudah tidur dan kasihan kalau dibangunkan mendadak,” pikir Pitung kebingungan cara mendekati Juliana.
Berdasarkan ciri-ciri yang dikatakan oleh Kesatria Sihir keluarga Graham yang ada di Bar Paman Don tadi, Pitung merasa Juliana itu mirip dengan gadis remaja yang menabraknya tadi Sore.
Gadis remaja itu juga memiliki mata biru dan rambut Perak. “Sepertinya gadis itulah Penyihir yang disebut oleh Demon King System, karena pakaian yang ia kenakan sangat mewah dan tidak mungkin gadis biasa dapat membeli Pakaian seperti itu, mereka pasti lebih memilih menggunakan uang mereka untuk membeli gandum atau ditabung,” pikirnya.
Jam di menara Kuil Cahaya tiba-tiba berdentang dan Jarumnya menunjuk ke angka Sebelas dalam tulisan Kerajaan Kinearus. Walaupun Pitung tak pandai baca tulis dalam ejaan Kerajaan Kinearus, ia masih dapat menebak kalau Jarum jam itu menunjuk angka Sebelas karena konsep waktu di Dunia Nistenia juga 24 Jam sehari.
__ADS_1
Pitung tiba-tiba kepikiran kalau menara Kuil Cahaya lebih tinggi dari bangunan Kastil keluarga Graham. Dia memutuskan akan memanjat menara itu agar dapat mengamati seluruh Kota Senderos, mana tahu ia mendapatkan petunjuk dari sana.
Pitung berlari menuju Kuil Cahaya, Sepuluh menit kemudian ia sampai di halaman Kuil Cahaya yang tampak lengang.
Tidak ada Kesatria Sihir Kuil Cahaya yang berjaga-jaga di sekitar sana, karena Kuil adalah tempat ibadah yang tidak mungkin dirusak atau menjadi sasaran pencuri.
Para penduduk percaya kalau ada orang yang merusak atau mengotori Kuil Cahaya maka Dewi Cahaya akan mengutuk orang tersebut dan sisa hidupnya akan menderita atau terserang penyakit yang tidak dapat disembuhkan walaupun diobati dengan Sihir Penyembuhan.
Pitung memperhatikan sekelilingnya dan hanya ada beberapa orang yang sedang berjalan.
Bila ia langsung memanjat menara maka orang-orang itu akan menegurnya atau malah memanggil Kesatria Sihir Kuil Cahaya sehingga ia dijebloskan ke penjara karena berbuat hal tidak terpuji pada Kuil Cahaya.
Dia tidak mau itu terjadi, ia kemudian berpura-pura jatuh karena terlalu mabuk.
“Siapa kau? Mau duel, ya? Tunggu besok saja aku sedang memandangi kerlap-kerlip bintang di langit,” sahut Pitung meracau sehingga Pria itu mengerutkan keningnya karena langsung menduga orang asing ini sedang mabuk. “Eh, kau cantik sekali! Sini berbaring sama babang tampan ini, sayang ....” Pitung berusaha meraih tangan Pria itu, tetapi Pria itu langsung menjauh.
“Sial! Pemabuk ini mengerikan sekali, untung saja aku tidak dapat diraihnya... kalau aku sempat ditariknya aku yakin ....” Pria itu membayangkan Pitung memeluknya dan mencium bibirnya, kemudian Pria itu muntah-muntah karena membayangkan sesuatu yang mengerikan tersebut. “Maafkan Aku Dewi Cahaya berpikiran aneh-aneh di dekat tempat Suci ini!” Dia langsung berlari menjauh dari Pitung.
“He-he-he... kalian abaikan saja aku!” gumam Pitung melirik sekitarnya apakah masih ada yang memperhatikannya. “Sepertinya sudah 86! Saatnya menjadi Spiderman,” pikirnya lagi sembari merayap mendekati menara Kuil Cahaya.
Dengan hati-hati, Pitung membuka Pintu Menara itu dan menutup pelan-pelan, kemudian mendaki tangga menuju puncak menara. Butuh waktu Lima menit untuk sampai ke Puncak Menara Kuil Cahaya, napasnya pun terengah-engah saat sampai di sana.
__ADS_1
“Indahnya... seluruh Kota Senderos terlihat dari sini,” gumam Pitung tersenyum dan memperhatikan apakah ada sosok yang mencurigakan berjalan di dalam Kota Senderos. “Ayolah... muncul lah kalian yang ingin menyakiti Juliana!” gerutunya karena belum juga ada yang sesuatu yang mencurigakan.
...***...
Jean sampai tertidur di sofa menunggu Daendels Graham menemuinya di ruang tamu, kalau bukan dikatakan pertemuan itu sangat penting maka ia akan segera keluar dari Kastil dan tidur di penginapan.
“Paman Jean... kenapa Paman malah tidur?” teriak Juliana yang membuat Jean melompat dari sofa dan meraih Pedangnya yang disandarkan di pinggir sofa tersebut. “Ha-ha-ha... ternyata Kesatria Sihir bisa terkejut juga,” ejeknya menertawai adik dari ayahnya itu.
Jean mengerutkan keningnya dan menyandarkan kembali Pedangnya ke pinggir sofa. Dia kembali berbaring sembari menguap dan berpura-pura tidur.
Juliana terlihat jengkel karena diabaikan oleh Pamannya. “Paman Jean... cepat bangun! Ayah sudah datang!” bisiknya.
Jean segera duduk dan benar saja, Daendels Graham sedang menuruni tangga dari lantai atas mengenakan Jirah Besi lengkap dengan Pedang di pinggangnya.
Jean merasa ada yang aneh, kenapa saudaranya malah terlihat seperti akan bertarung melawan musuh saja sementara Juliana berdandan seperti akan berziarah ke Kuil Cahaya.
“Ikuti aku dan kalian tidak perlu bertanya apa yang akan kulakukan. Ikuti saja perintahku dan jangan menyela!” seru Daendels Graham berjalan menuju ruang bawah tanah Kastil.
Jean tentu bertanya-tanya apa yang hendak dilakukan oleh saudaranya itu, kalau hanya menuju ruang bawah tanah saja seharusnya ia tidak perlu ikut, dan bila diperlukan pengawalan maka Kesatria Sihir keluarga Graham juga sudah cukup mengawal kegiatan aneh ini——kenapa dirinya Kesatria Sihir terkuat Kedua di Keluarga Graham harus ikut juga.
“Baik, Ayah!” sahut Juliana berlari pelan mengikuti Daendels Graham.
__ADS_1
“Anak ini... dia malah senang mengikuti ajakan aneh ayahnya!” pikir Jean menggelengkan kepala dan berjalan di belakang Juliana.